Loading...

PENINGKATAN DAYA SIMPAN BUAH SALAK UNTUK DISTRIBUSI DAN TRANSPORTASI EKSPOR

PENINGKATAN DAYA SIMPAN BUAH SALAK UNTUK DISTRIBUSI DAN TRANSPORTASI EKSPOR
Salak merupakan salah satu jenis buah tropis Indonesia yang mempunyai potensi tinggi dikembangkan sebagai komoditas unggulan untuk ekspor. Salak pondoh adalah satu diantara jenis salak yang menjadi unggulan nasional. Buah salak sangat cepat mengalami kerusakan terutama bila tertunda pemanfaatannya, karena setelah dipanen buah salak masih terus melangsungkan aktivitas fisiologis seperti respirasi dan transpirasi. Dengan aktivitas fisiologis tersebut, secara berangsur mutu buah akan menurun, kulit buah kering dan daging buah mulai layu, gejala infeksi patogen mulai terlihat, hingga akhirnya buah akan menjadi busuk. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Pascapanen Pertanian telah menghasilkan inovasi teknologi pascapanen untuk meningkatkan daya simpan buah salak dengan pengemasan atmosfir termodifikasi untuk distribusi dan transportasi ekspor dengan tingkat ketuaan panen buah salak untuk keperluan ekspor berkisar antara 60-70% dengan umur buah salak 5 bulan atau kurang dari 6 bulan. Sebelum pengemasan buah salak dicelupkan terlebih dahulu ke dalam anti mikroba alami 5% selama 30 detik. Kemudian dikemas dengan atmosfir termodifikasi (PE 0,04:72 perforasi mikro) kapasitas 5kg/karton dan dikombinasikan dengan penumpukan kemasan menggunakan pola sistem aerasi. Penyimpanan yang dilakukan pada suhu 10-150C dapat memperpanjang masa kesegaran buah salak, hanya saja tingkat kerusakan buah akibat infeksi cendawan dan “chilling injury” perlu penanganan lebih intensif. Keunggulan teknologi penyimpanan buah salak dengan MAP ini yaitu dapat memperpanjang masa simpan buah salak menjadi 21-30 hari. Dengan daya simpan 21- 30 hari tersebut maka pasar yang dijangkau menjadi lebih luas termasuk pasar ekspor. Selain itu, daya saing buah salak Indonesia di pasar ekspor akan semakin tinggi. Tim Peneliti Balai Besar Pascapanen Pertanian telah menghasilkan inovasi teknologi pascapanen untuk meningkatkan daya simpan buah salak dengan pengemasan atmosfir termodifikasi untuk distribusi dan transportasi ekspor. Tingkat ketuaan panen buah salak untuk keperluan ekspor berkisar antara 60-70% dengan umur buah salak 5 bulan atau kurang dari 6 bulan. Sebelum pengemasan dilakukan buah salak dicelupkan terlebih dahulu ke dalam anti mikroba alami 5% selama 30 detik. Kemudian dikemas dengan atmosfir termodifikasi (PE 0,04:72 perforasi mikro) kapasitas 5kg/karton dan dikombinasikan dengan penumpukan kemasan menggunakan pola sistem aerasi. Penyimpanan yang dilakukan pada suhu 10-150C dapat memperpanjang masa kesegaran buah salak, hanya saja tingkat kerusakan buah akibat infeksi cendawan dan “chilling injury” perlu penanganan lebih intensif. Keunggulan teknologi penyimpanan buah salak dengan MAP ini yaitu dapat memperpanjang masa simpan buah salak menjadi 21-30 hari. Dengan daya simpan 21- 30 hari tersebut maka pasar yang dijangkau menjadi lebih luas termasuk pasar ekspor. Selain itu, daya saing buah salak Indonesia di pasar ekspor akan semakin tinggi. (Lilik Winarti, Penyuluh Ahli Muda) Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/2963/