Loading...

Peningkatan Efisiensi Budidaya Jagung dengan Alat Tanam Mekanis

Peningkatan Efisiensi Budidaya Jagung dengan Alat Tanam Mekanis
Peningkatan Efisiensi Budidaya Jagung dengan Alat Tanam Mekanis Abai Siat – 28 Agustus 2018. Pertanian merupakan salah satu sektor yang menopang kehidupan khususnya manusia karena di dalam pertanian akan mengolah berbagai sumber energi yang diperlukan dalam siklus kehidupan. Tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan adalah contoh hasil produk yang dihasilkan dari pertanian. Jagung adalah salah satu tanaman pangan kedua yang paling banyak dibudidayakan petani di Indonesia setelah padi, produksi jagung di suatu negara sering mengalami pasang surut. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat perubahan areal penanaman jagung. Namun demikian dengan ditemukannya varietas-varietas unggul sebagai imbangan berkurangnya lahan, maka totalitas produksi tidak akan terlalu berubah irigasi dan pemupukan sangat penting untuk mendapatkan produksi yang baik. Walaupun potensi hasil cukup tinggi, cara untuk mendapatkan produksi pada tingkat optimal yang dilakukan oleh petani baru memberikan hasil 7 ton ha-1 (Purwono dan Hartono, 2008 dalam Ekowati dan Nasir, 2011). Selain mendekati kandungan karbohidrat dari padi, jagung juga merupakan salah satu komoditas strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras. Menurut Badan Statistika (2017), Tahun 2017 produksi jagung Sumbar sebanyak 650.000 ton kering dengan luas area 134.000 hektare. Tahun 2018 pencapaian kita sebesar 1.013.000 ton kering, luas area 168.000 hektare. Artinya terjadinya peningkatan sebesar 150%,. Peningkatan produksi jagung dalam 10 tahun ke depan masih dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumberdaya. Dengan Jangka Panjang 51 pertumbuhan produksi 2% sampai 6,57% per tahun maka pada tahun 2019 Indonesia akan dapat mengekspor jagung. Dengan penggunaan benih hibrida untuk meningkatkan produktivitas dari rata-rata 3,7 ton ha-1 menjadi lebih dari 6,5 ton ha-1 pengolah produksi jagung unggul masih sangat rasional, apalagi agribisnis jagung telah didukung dengan tersedia dan kesiapan stake holder dari hulu sampai hilir (Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia,1997). Biasanya, untuk menanam jagung di lahan seluas 1 ha, seorang pekebun memerlukan 20 tenaga kerja. Mereka menugal alias membuat lubang tanam dengan tiang kayu yang berujung runcing, kemudian memasukkan benih jagung ke dalam lubang tanam, dan menutup lubang tanam tersebut. Namun dengan mesin tanam jagung, pekerjaan menanam jagung menjadi lebih mudah dan efisien. Bahkan dalam waktu sekira 5 jam, seseorang sudah bisa menanami lahan pertanian jagung seluas 1 hektare. Bahkan, hasilnya terbilang rapi. Lubang tanam teratur berjarak 0,75 m x 1 m. Mesin tersebut berupa traktor roda empat yang dilengkapi alat tambahan berupa alat tanam jagung pada bagian belakang.Untuk penggunaannya, mesin tersebut dikaitkan di bagian belakang traktor yang menarik mesin penanam biji. Biasanya, petani menanam palawija setelah panen padi. Saat itu, traktor menganggur karena tak ada sawah yang dibajak. Oleh karena itu dimanfaatkan untuk menarik mesin penanam biji, khususnya jagung. Selain itu, mesin penanam benih ini dilengkapi alat pembuka alur, kotak penampung berkapasitas 5 kg yang berjumlah 5 buah, penakar benih, dan penutup alur. Saat mesin dijalankan, pembuka alur berupa piringan ganda akan membuat lubang tanam sedalam 5 cm. Perputaran roda mesin secara otomatis menggerakkan alat penakar benih. Akibatnya, biji jagung dalam kotak penampung jatuh ke dalam lubang tanam. Setelah itu, penutup alur menyapu bongkahan tanah bekas galian piringan pembuka alur untuk menutupi lubang tanam. Mesin penanam biji mengeluarkan benih seragam dalam jumlah maupun jarak tanam. Setiap lubang 2 biji dan jarak tanam 75 cm. Itu karena alat penakar benih pada mesin hanya menjatuhkan benih sesuai gerakan putaran roda. Satu kali putar menjatuhkan 2 biji benih.Hebatnya lagi, mesin penanam biji ini mampu bekerja di lahan kering atau bergelombang akibat hasil pembajakan dan penggarukan. Dikarenakan, mesin berkontruksi lengan ayun fleksibel, sehingga mampu menyesuaikan dengan kondisi lahan yang tidak rata.Untuk meningkatkan meyakinkan petani melakukan perubahan kebiasaan dalam bertani ataupun dalam menerima suatu teknologi baru perlu dibuatkan demplot. Agar petani dapat membandingkan secara langsung teknologi yang baru dengan kebiasaan bertani selama ini sehingga bisa membandingkan mana yang lebih baik bagi mereka. proses adopsi merupakan proses pelaksanaan suatu teknologi yang dapat berjalan secara sistematis sehingga memberikan keuntungan secara ekonomis dan memberikan dorongan untuk masyarakat setempat. Menurut Subagiyo et al. (2005), pengambilan keputusan oleh petani terhadap penolakan atau penerimaan suatu inovasi tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbangan menguntungkan atau tidaknya teknologi tersebut secara ekonomis bagi petani. Dari hasil sekolah lapang dengan petani yang dilakukan di Kelompok Onai Kasai, Nagari Abai Siat, Kecamatan Koto Besar, Kabupaten Dharmasraya dengan melibatkan 6 kelompok tani yang berbudidaya jagung. Petani membandingkan 2 perlakuan cara menanam jagung yaitu dengan cara tugal manual dengan tenaga manusia dan alat tanam yang menggunakan traktor.Hasil yang diamati berupa waktu, biaya, dan tingkat kesulitan yang harus dihadapi. Dan petani menyimpulkan bahwa dengan menugal penanaman lebih akurat, hasil tanam lebih teratur, bisa dilakukan di lahan yg sempit maupun di lahan yang kecil, dan bisa dilakukan pada segala kondisi cuaca. Dengan kekurangan memerlukan tenaga kerja yang banyak dengan biaya Rp. 1.000.000,- dan waktu yang lebih lama. Sedangkan dengan penggunaan alat tanam yang menggunakan traktor penanaman bisa dilakukan dengan cepat, namun perlu dilakukan penyisipan karena bisa ada yang tertinggal, waktu yang dibutuhkan juga lebih cepat, dengan biaya Rp.900.000,- dengan kekurangan ketersediaan alat yang masih kurang dan membutuhkan areal yang bersih dari tunggul dan cendrung luas untuk manuver traktor. Di samping itu penggunaan alat ini juga membutuhkan operator yang handal untuk penggunaan alat serta kondisi tanah yang tidak basah. Daftar PustakaBalai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia. 1997. Intensifikasi jagung di Indonesia, peluang dan tantangan. Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Jagung. Ujung Pandang.Ekowati, D. dan M. Nasir,. 2013. Pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L.) varietas Bisi-2 pada pasir reject dan pasir asli di Pantai Trisik Kulon Progo. J. Manusia dan Lingkungan. 18(3): 220-231.Subagyo, Rusidi, dan Sekarningsih R. 2005. Kajian Faktor-Faktor Sosial yang Berpengaruh terhadap Adopsi Inovasi Usaha Perikanan Laut di Desa Pantai Selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. [Internet]. [diunduh 11 September 2018]. Tersedia pada: http://www.bbp2tp.litbang.deptan.go.id