Rendahnya luas areal tanam kedelai masih menjadi kendala utama dalam pencapaian swasembada kedelai. Target lahan yang dapat dipilih sebagai alternatif perluasan lahan pertanaman kedelai diantaranya pada lahan di bawah tegakan tanaman perkebunan maupun hutan tanaman industri (HTI) sebagai tanaman sela. Namun permasalahan yang dihadapi dalam budidaya kedelai sebagai tanaman sela adalah terjadinya penurunan hasil kedelai hingga 6-52% bila tumpangsari kedelai-jagung pada naungan 33%. Tanaman kedelai mempunyai toleransi/perubahan keragaan tanaman terhadap cekaman naungan yang berbeda. Balitbangtan melalui Balitkabi pada Desember tahun 2014 telah melepas dua varietas unggul baru kedelai toleran naungan hingga 50%, sesuai untuk dikembangkan di bawah tegakan tanaman perkebunan dan lingkungan agroforestri yang tanamannya masih muda (<4 tahun), maupun tumpangsari dengan tanaman pangan lain. Kedua varietas unggul baru tersebut adalah Dena 1 dan Dena 2. Keunggulan Varietas Dena 1 dan Dena 2 Varietas Dena 1 memiliki tinggi tanaman sekitar 59 cm dan 40 cm untuk varietas Dena 2. Potensi hasil Dena 1 hingga 2,89 t/ha dengan rata-rata hasil 1,69 t/ha yang lebih tinggi dari vareitas Dena 2 yang berpotensi 2,82 t/ha dengan rata-rata hasil 1,34 t/ha. Bentuk biji varietas Dena 1 adalah lonjong dan ukuran biji tergolong besar (bobot 100 biji antara 11,07 – 16,06 g). Namun Varietas Dena 2 berbentuk bulat dengan ukuran biji sedang (bobot 100 biji antara 7,75 – 14,74 g). Pengrajin tahu/tempe menyukai kedelai yang berukuran sedang dan besar. Dena 1 akan masak setelah berumur 78 hari dan Dena 2 berumur 81 hari. Keduanya tahan terhadap penyakit karat. Komponen Teknologi Budidaya Komponen teknologi budidaya kedelai di bawah naungan (BUDENA) seperti yang telah dilaporkan Peneliti Balitkabi, Gatut Wahyu AS di tahun 2018 telah dilakukan pengembangan Budena di antara kelapa sawit di Desa Tanjung Jati, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dilokasi tersebut tata letak tanaman kelapa sawit tersusun dengan jarak tanam antar kelapa sawit adalah 9 m x 8 m, sedangkan lorong yang ditanami kedelai pada ukuran 9 m. Untuk TBM1 (tanaman kelapa sawit berumur sekitar 1 tahun), lanjutnya, potensi lahan yang bisa ditanami kedelai dengan lebar lorong 7 m (naungan sekitar 5 persen). Sementara pada TBM2 (tanaman kelapa sawit berumur sekitar 2 tahun) potensi lahan antara 4,5 m - 5,0 m karena terkendala vegetasi tanaman kelapa sawit yang menutupi lorong (naungan 20 persen hingga 30 persen). Penyiapan lahan dilakukan tanpa olah tanah (TOT), tanam dengan cara tugal, satu lubang tanam 2-3 biji, dengan jarak tanam ganda 50 cm x (30 cm x 20 cm) dan tunggal (40 cm x 20 cm). pembuatan drainase dengan jarak 3-4 cm dalam 25 cm dan lebar 20 cm dan panjang disesuaikan dengan lahan. Pemupukan NPK 175 kilogram + SP36 75 kilogram + dolomit 750 kilogram per hektare yang diberikan bersamaan tanam dengan cara larikan. Teknologi Budena yang diterapkan di lorong lahan tanaman kelapa sawit pada TBM1 memiliki tingkat potensi hasil kedelai lebih tinggi (tidak termasuk lahan yang ditanami kelapa sawit) dibandingkan dengan lahan di TBM2. Perbedaan tersebut karena di lahan TBM2 memiliki naungan yang lebih besar. Pada lahan TBM1 menunjukkan produktivitas hasil biji mencapai lebih dari 2,36 ton per hektare (penggunaan lahan 80 persen). Sedangkan di TBM2 menghasilkan kedelai 1,07 ton per hektare (penggunaan lahan 60 persen). Varietas Dena 1 di lahan TBM2 menunjukkan potensi hasil biji hingga mencapai 2,12 ton per hektare dengan tingkat produktivitas 1,27 ton per hektare, dan lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya pada lahan yang sama. Penyusun: Ume Humaedah Sumber: Gatut_Wahyu A.S., Novita Nugrahaeni, Herdina Pratiwi, Siti Mutmaidah, Kartika Noerwijati, dan Kurnia Paramita sari – Balitkabi Balitbangtan, http://rilis.id/budena-budidaya-kedelai-di-lorong-kelapa-sawit http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/infotek/varietas-unggul-baru-kedelai-toleran-naungan/ https://www.trubus-online.co.id/panen-kedelai-di-bawah-naungan/