Beras masih menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi rakyat Indonesia, sehingga komoditas ini bersifat fundamental dan strategis. Oleh karena itu, tuntutan ketersediaan maupun distribusinya harus mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, guna memenuhi kebutuhan yang terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Melihat realitas tersebut, pemerintah terus berupaya meningkatkan produktivitas dan produksi beras dalam rangka mencapai kedaulatan pangan. Untuk mewujudkan hal tersebut, berbagai langkah telah dilakukan pemerintah. Mulai dari perluasan lahan, ketersediaan pupuk, benih, alsintan dan sumberdaya manusia, hingga program Upaya Khusus (UPSUS) Pencapaian Swasembada berkelanjutan. Salah satu kegiatan dari program UPSUS adalah penerapan metode tanam jajar legowo dengan teknologi hazton.Teknologi Hazton adalah cara bertanam padi dengan menggunakan bibit tua dengan umur antara 25 – 30 hari setelah semai. Berbeda dengan cara tanam biasa yang menanam padi beberapa batang saja setiap rumpunnya atau metode SRI yang bahkan hanya sebatang setiap rumpunnya, maka jumlah bibit yang digunakan pada metode Hazton ini lebih banyak (padat). Setiap rumpun padi yang ditanam biasanya antara 20 - 30 batang per lubang tanam. Sedangkan komponen-komponen lainnya kurang lebih sama dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi, sebagaimana yang direkomendasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Teknologi Hazton ini awalnya ditemukan di provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2012 dan setelah melalui berbagai tahap pengujian dan pengembangan di lapangan hingga saat ini, akhirnya mampu mengangkat produktivitas padi di wilayah setempat. Sebelum Teknologi Hazton digunakan petani, produktivitas padi di wilayah ini hanya diperoleh sebanyak 3,1 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar. Itupun sudah termasuk sangat tinggi dan sudah menggunakan paket teknologi yang lengkap seperti benih, pupuk organik dan pupuk anorganik sesuai anjuran. Setelah para petani mengenal Teknologi Hazton, potensi produktivitas bisa meningkat secara fantastis hingga 8 – 16 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau 6,88 – 13,76 ton GKG per hektar. Sedangkan rata-rata dalam hasil uji coba Teknologi Hazton di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, produktivitas yang diperoleh berkisar antara 4 – 9 ton/ha.Teknologi Hazton sebenarnya bukanlah teknologi yang sulit apalagi rumit. Teknologi ini sangatlah sederhana, mudah diaplikasikan di lapangan dan juga tidak akan mengubah teknik budidaya padi yang telah dilakukan petani selama ini. Perbedaannya hanya terletak pada jumlah bibit yang digunakan. Kalau semula petani menggunakan bibit padi 2 – 3 batang saja per lubang tanamnya, maka dengan Teknologi Hazton petani menanam bibit lebih banyak yaitu antara 20 – 30 batang per lubang tanamnya.Setelah dikembangkan di lapangan, Teknologi Hazton ternyata lebih menguntungkan sebab memiliki banyak kelebihan. Beberapa diantaranya adalah: 1). Produktivitas menjadi lebih tinggi, 2). Lebih mudah dalam melakukan penanaman, 3). Kalaupun ada cuma sedikit bahkan tidak diperlukan penyulaman, 4). Juga sedikit bahkan tidak diperlukan penyiangan, 5). Waktu pemanenan menjadi lebih cepat (sekitar 2 minggu) dari pada sistem biasa, 6). Gabah yang dihasilkan lebih bernas dan rendahnya bulir-bulir yang hampa/gabuk, 7). Relatif lebih tahan terhadap serangan hama (seperti : keong mas, orong-orong), kondisi drainase sulit, dan problem keracunan besi, 8). Prosentase beras kepala tinggi (beras broken rendah), 9). Daya adaptasi di lapangan relatif tinggi, dan 10). Lebih efisien dalam penggunaan pupuk anorganik. Melihat kondisi dimana sedemikian banyaknya kelebihan yang menguntungkan dari metode teknologi Hazton ini, tidaklah berlebihan kalau petani perlu diperkenalkan dengan teknologi ini dan didorong terus untuk mau dan mampu menerapkannya secara mandiri. Selain itu, semua pihak terkait sebagai pemangku kepentingan haruslah terus berupaya mengembangkan secara lebih intensif lagi dan menyebarkannya ke wilayah-wilayah yang lebih luas lagi di Indonesia. Sebagai contoh, saat ini dalam penerapannya teknologi Hazton telah dipadukan dengan sistem tanam jajar legowo (jarwo) sehingga hasilnya di masa-masa mendatang diharapkan akan semakin meningkat lagi. (Inang Sariati). Sumber:1. Nasir Saleh, St.A. Rahayuningsih dan M.Muchlis Adie, Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang 2. https://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_jalar