Padi (beras) masih merupakan komoditas pangan utama masyarakat Indonesia. Perkembangannya telah mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Indonesia pernah mencapai swasembada, namun pernah pula produksi dalam negeri tidak terpenuhi sehingga impor menjadi salah satu alternatifnya. Kebutuhan beras akan terus meningkat seiring laju pertumbuhan penduduk yang masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan produksi padi nasional sehingga perlu berbagai terobosan serta upaya strategis dari pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya. Salah satu terobosan tersebut adalah mengadopsi Teknologi Tanam Jajar Legowo (jarwo). Sistem jarwo padi adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih baris tanaman dengan satu baris kosong. Berbagai keuntungan diperoleh dengan cara ini. Dengan adanya baris kosong akan mempermudah perawatan, baik itu pemupukan maupun penyemprotan pestisida. Selain itu dapat mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit. Tikus misalnya, tidak suka pada lahan yang relatif terbuka. Selanjutnya juga: menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian dalam baris tanaman; memperbaiki kualitas gabah dengan semakin banyaknya tanaman pinggir; dengan sistem tanam jarwo, tanaman akan terpapar sinar matahari secara lebih optimal. Semakin banyak sinar matahari yang mengenai tanaman, maka proses "fotosintesis oleh daun tanaman akan semakin tinggi sehingga kualitias gabah juga akan meningkat.Tipe Sistem JarwoAda beberapa tipe sistem jarwo yaitu 2:1, 3:1 dan 4:1. Namun, berdasarkan penelitian, yang menghasilkan gabah tinggi adalah tipe 4:1, sedangkan dari tipe 2:1 dapat diterapkan untuk mendapatkan bulir gabah berkualitas benih.Tipe Jarwo 2:1. Dengan cara ini setiap dua baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar baris sedangkan jarak tanaman dalam barisan adalah setengah kali jarak tanam antar barisan. Dengan sistem jarwo 2:1, seluruh tanaman dikondisikan seolah-olah menjadi tanaman pinggir. Tipe Jarwo 3:1. Setiap tiga baris tanaman diselingi oleh satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Modifikasi tanaman pinggir dilakukan pada baris tanaman ke 1 dan ke 3 yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Prinsip penambahan jumlah populasi tanaman dilakukan dengan cara menanam pada setiap barisan pinggir (baris ke 1 dan ke 3) dengan jarak tanam setengah dari jarak tanam antar barisan. Tipe Jarwo 4:1. Setiap empat baris tanaman diselingi satu barisan kosong yang memiliki jarak dua kali dari jarak tanaman antar barisan. Dengan sistem ini maka setiap baris tanaman ke 1 dan ke 4 akan termodifikasi menjadi tanaman pinggir yang diharapkan dapat diperoleh hasil tinggi dari adanya efek tanaman pinggir. Cara Menanam Padi dengan Sistem JarwoPersiapan lahan. Setelah dibajak, lahan kemudian digaru, diberi pupuk kandang dan diratakan. Pada saat menggaru dan meratakan tanah, usahakan agar air tidak mengalir di dalam sawah agar unsur hara yang ada tidak hanyut. Setelah diratakan, buat parit di bagian pinggir lahan untuk mempermudah pengaturan air dan membantu pengendalian keong mas. Buat garis pada baris tanam. Alat garis tanam ini dapat terbuat dari kayu yang bergerigi. Untuk membuat gerigi, bisa menggunakan besi atau kayu keras. Pembuatan garis tanam dengan alat bergerigi dapat dibantu dengan tali, sehingga garis yang dihasilkan akan tampak lurus.Persiapan bibit. Untuk sistem jarwo, benih yang dibutuhkan tergantung pada pilihan jarwo yang akan digunakan apakah 2:1, 3:1 atau 4:1, jarak tanam dan jumlah bibit yang akan ditanam per lubangnya. Menanam bibit. Bibit siap dipindahkan ke lahan setelah mencapai umur 10-15 hari setelah semai. Pada umur 10-15 hari bibit masih memperoleh nutrisi dari biji padi, sehingga bibit lebih mudah beradaptasi. Kondisi air pada saat tanam adalah macak-macak atau kondisi tanah yang basah tetapi tidak tergenang. Pada sistem jarwo, satu lubang tanam diisi satu atau dua bibit padi. Bibit ditanam dangkal, yaitu pada kedalaman 2-3 cm dengan bentuk perakaran horizontal seperti huruf L.Pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan cara tabur. Lakukan pemupukan dari barisan kosong diantara 2 barisan tanaman. Pupuk ditabur ke kiri dan ke kanan dengan merata, sehingga dalam sekali jalan dapat melalukan pemupukan pada barisan tanaman. Khusus pada jarwo 2:1, pemupukan boleh dilakukan dengan cara ditaburi tengah barisan tanaman. Dalam setiap metode ada kelebihan dan kekurangannya. Pada sistem jarwo, benih dan tenaga kerja yang dibutuhkan akan lebih banyak jika dibandingkan dengan sistem Tegel. Namun demikian, kekurangan tersebut akan diimbangi pula dengan peningkatan kualitas dan kuantitas gabah yang dihasilkan. (Inang Sariati)Sumber:1. Petunjuk Teknis Teknologi Tanam Jajar Legowo 2016, Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian2. http://distan.majalengkakab.go.id