Dalam rangka mempercepat peningkatan populasi ternak di dalam negeri serta pemenuhan kebutuhan protein hewani khususnya unggas, penting sekali dilakukan upaya pemanfaatan sumberdaya lokal secara optimal. Kita tahu, bahwa potensi sumberdaya lokal yang tersedia di Negara kita cukup banyak namun belum dikelola secara maksimal baik teknik pengolahannya maupun penyimpanannya. Untuk itu, penting sekali dibentuk dan dikembangkan lumbung pakan unggas di daerah-daerah yang di sekitarnya terdapat sumber bahan pakan yang melimpah. Lumbung pakan unggas merupakan salah satu pola yang dikembangkan dalam pengembangan pakan lokal. Pola ini bertujuan agar kelompoktani (poktan) peternak unggas dapat menyediakan pakan sepanjang tahun bagi anggotanya serta terampil dalam pembuatan pakan olahan. Pengembangan lumbung pakan unggas ini diarahkan pada poktan peternak unggas lokal, dengan memberikan fasilitasi agar kelompok membangun gudang bahan atau pakan sebagai tempat penyimpanan. Selain itu juga mengelola sarana dan peralatan mesin pengolahan pakan untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi kelompoknya sehingga ketersediaan pakan tetap terjaga sepanjang tahun baik kuantitas maupun kualitas dengan harga terjangkau. Disamping itu, peternak diberi pengetahuan yang cukup tentang teknologi pengolahan dan penyimpanan pakan serta kemampuan menyusun formulasi pakan. Untuk tertib dan lancarnya pelaksanaan lumbung pakan, harus ada organisasi pembina di setiap tingkatan wilayah mulai dari pusat hingga kabupaten/kota. Tugasnya, melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Selain itu melakukan pendampingan dan pembinaan mulai dari penentuan lokasi, peserta dan pengadaan barang, pemantauan serta melaporkan kegiatan pelaksanaan di wilayahnya. Sedangkan tugas masing-masing lumbung atau kelompok binaan peternak unggas antara lain: 1) menyusun rencana usaha kelompok; 2) melaksanakan pelatihan dan/atau studi banding kelompok; 3) melaksanakan usaha produksi pakan sesuai rencana usaha melalui aplikasi teknologi; 4) melakukan pembukuan/ administrasi kelompok; serta 5) membuat laporan pelaksanaan kegiatan. Kriteria poktan peternak penerima yaitu : 1) Poktan peternak atau anggota gapoktan yang sudah terbentuk minimal 1 tahun; 2) mempunyai struktur organisasi lengkap dan aktif menjalankan usahanya; 3) lokasi kelompok potensial sumber bahan pakan lokal; 4) dapat mengakses pasar; 5) mempunyai potensi untuk dikembangkan lebih lanjut; 5) lokasi mudah dijangkau dan terjamin ketersediaan bahan pakan lokal; 7) tidak mendapatkan bantuan lain dari pemerintah pada tahun yang sama. Konsep pengembangan lumbung pakan unggas, meliputi : 1) penentuan lokasi yang potensial sumber bahan pakan sehingga bisa menjamin ketersediaan bahan pakan untuk kebutuhan kelompok secara kontinyu; 2) Pembuatan bangunan/ gudang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan pakan dan bahan pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis pakan yang akan diproduksi; 3) Pengadaan alat pengolahan atau pengawetan pakan/ bahan pakan sesuai kebutuhan peralatan yang memenuhi spesifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan sudah diuji; 4) Kegiatan Operasional kelompok meliputi : peningkatan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok; pembelian/ pengadaan bahan pakan sebagai modal awal; pembelian/ pengadaan peralatan lain dan sarana penunjang lumbung pakan sesuai kebutuhan kelompok seperti kendaraan roda tiga, timbangan, dan lain-lain. Pendampingan dan pemantauan oleh tim teknis dilakukan secara berkelanjutan dan terkoordinasi dengan instansi terkait lainnya, sampai kelompok bisa berusaha secara mandiri sehingga dapat menumbuhkan usaha ekonomi produktif di perdesaan. Ruang lingkup pendampingan meliputi : 1) teknologi penyimpanan, pengolahan pakan/ bahan pakan ternak dengan memanfaatkan hasil samping pertanian atau limbah agroindustri yang terdapat di sekitar lokasi; 2) pembuatan formulasi pakan yang baik sesuai SNI; serta 3) pengembangan kelembagaan dan usaha kelompok. Kegiatan pemantauan dan evaluasi ini akan digunakan sebagai pertimbangan program selanjutnya. Teknik pengolahan diperlukan untuk menyediakan pakan yang berkualitas dengan harga yang dapat dijangkau oleh peternak/ kelompok, menggunakan teknologi tepat guna sesuai dengan karakteristik bahan pakan yang tersedia. Tahapan proses pengolahan bahan pakan dimulai dari : 1) penerimaan bahan, berupa pengamatan fisik bahan dan konsistensi mutu bahan, 2) sortasi bahan, yaitu memisahkan bahan mana yang layak diolah atau yang tidak layak diolah; 3) pembersihan/ penyaringan dengan cara pengayakan; 4) pengecilan ukuran (grinding) untuk menghancurkan, menggiling atau menghaluskan serta pengayakan untuk menghasilkan hasil gilingan yang seragam; 5) menimbang bahan; 6) mencampur/ mengaduk agar bahan tercampur secara merata; 7) pengemasan, dilakukan untuk memudahkan pengangkutan hasil produk serta agar pakan tidak cepat mengalami penurunan mutu; 8) penjahitan kemasan, agar produk pakan terlindung, mencegah kontaminasi atau tercampurnya bahan dengan benda asing; 9) penyimpanan pakan, pada tempat yang tidak terlalu gelap, untuk mencegah timbulnya proses enzimatis yang mengakibatkan penurunan mutu produk. Kegiatan lumbung pakan memfasilitasi pembangunan gudang untuk penyimpanan pakan/ bahan pakan. Penyimpanan merupakan tindakan pengamanan yang terkait dengan waktu untuk mempertahankan dan menjaga kualitas produk yang disimpan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan yaitu : 1) kadar air bahan pakan tidak lebih dari 14 %; 2) ruang penyimpanan harus kering, sirkulasi udara baik, sinar matahari tidak langsung mengenai bahan baku/ pakan yang disimpan; 3) suhu ruangan homogen dan tidak terlalu panas (kira-kira 26º c); 4) pengemasan dan pengepakan harus baik dan cukup kuat sehingga tidak mudah tercecer dan rusak oleh tikus dan binatang lainnya; 5) pengaturan penumpukan dalam gudang harus disesuaikan dengan masa kadaluarsa; 6) Pengeluaran pakan dari tempat penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga pakan tidak terlalu lama di penyimpanan. Penyimpanan yang terlalu lama akan menurunkan kualitas pakan. Untuk mempercepat pengembangan lumbung pakan unggas perlu motivasi dan bimbingan secara terus menerus dari penyuluh pertanian kepada poktan binaannya, serta dukungan dari pemerintah, swasta maupun masyarakat setempat. Dengan tumbuhnya lumbung-lumbung pakan, kebutuhan dan ketersediaan pakan unggas dapat terpenuhi, baik untuk kelompoknya maupun kelompok lain di sekitarnya. (Inang Sariati) Sumber : dari berbagai sumber