Loading...

Pentingnya Pemeliharaan Cabe

Pentingnya Pemeliharaan Cabe
Pemeliharaan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam budidaya cabai. Pemeliharaan harus dilakukan secara disiplin, diantaranya penyiraman, penyiangan, perempelan, pemupukan, pemasangan ajir serta pengendalian Organisme PenggangguTanaman (OPT).Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari jika tidak ada hujan. Penyiangan dilakukan sekali dua minggu dengan cara membuang rumput-rumput liar yang ada di dalam dan di sekitar pot/polybag.Tunas samping serta sebahagian daun yang tumbuh sampai dengan ketinggian 15 - 25 cm dari permukaan tanah dipangkas/dirempel. Pemangkasan bertujuan untuk menghindari percikan air penyiraman yang menempel pada bagian tanaman, batang menjadi kokoh dan kuat, pertumbuahan bagian atas tanaman lebih sempurna, sirkulasi udara lebih baik.Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin menggunakan bahan yang kuat, seperti kayu, bambu atau bahan lainnya.PemupukanPupuk kimia diberikan setelah tanaman berumur 1 (satu) bulan. Pupuk yang diberikan adalah NPK (16:16:16) dengan cara melarutkan 10 gram NPK dalam 1 (satu) liter air. Kemudian larutan pupuk disiramkan pada tanaman sebanyak±200 ml (satu gelas Aqua) per pot/polybag, satu kali dalam10 hari.Sebagai pupuk tambahan dapat juga diberikan air cucian beras, air cucian daging/ikan, pupuk cair (urine ternak),dan pupuk nabati seperti daunTitonia. Air cucian beras atau air cucian daging/ikan sebelum digunakan terlebih dahulu disaring. Urine ternak yang digunakan adalah yang sudah difermentasi.Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Tantangan yang cukup berat dalam budidaya cabai adalah serangan hama dan penyakit atau OPT. Hama yang banyak menyerang tanaman cabai antara lain: ulat tanah, ulat grayak, ulat buah, kutu kebul, kutu daun, trips dan tungau. Penyakit yang banyak menyerang antara lain: Virus kuning, busuk buah Antraknos, Layu Fusaium, layu bakteri, bercak daun serkos poradan rebah kecambah.Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menerapkan prinsi ppengendalian hama terpadu (PHT), yaitu melakukan budidaya secara sehat yang diawali dengan pemilihan varietas tahan, benih yang bebas serangan OPT, perlakuan benih, sterilisasi media semai, penyiraman, sanitasi lahan dan pemupukan secara teratur, serta pengamatan rutin setiap pagi dan sore hari. Pengamatan rutin pada pagi dan sore dilakukan karena umumnya hama menghinggapi tanaman pada pagi dan sore hari sampai malam. Jika ditemukan hama, langsung dilakukan pengendalian secara mekanik, yaitu dengan mengambil hama dan membunuhnya.Selanjutnya bias juga disemprotkan pestisi dan abati atau bio pestisida, seperti: minyak seraiwangi dengan dosis 1-3 cc/liter air yang ditambah dengan sedikit detergen. Pestisi dan abati lainnya bias dibuat dari daun sirsak, daun mindi, daun bengkuang, bayam duri, bunga kembang puku lempat, tembakau dan lain-lain.Salah satu biopestisida yang dapat digunakan untuk pengendalian hama dan penyakit cabai menurut peneliti Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) Balitbangtan, Wiwin Setiawati adalah yang dikenal dengan nama ATECU yaitu campuran daun Mimba (Azadirachtaindica), daun Kacang Babi (Teprosiavogelli) dan urine sapi dengan perbandingan 1:1:4 yang direndam selama 15 hari. Aplikasi dengan menyemprotkan atau disiramkan keseluruh bagian tanaman dengan dosis 10 ml/liter air. Biopestisida ini cukup ampuh mengendalikan Trips, Tungau, Ulat Tanah, dan Antraknose.Untuk mencegah menularnya penyakit ketanaman lain, sebaiknya bagian tanaman yang terserang dibuang, selanjutnya dibakar atau dikubur. Untuk budidya di pekarangan sebaiknya dihindari penggunaan racun dalam pengendalian hama dan penyakit.Penulis : Darmawi, SPSumber Tulisan : BPTP Solok Sumbar