Loading...

Pentingnya Pengamatan Dan Pengendalian Opt Padi

Pentingnya Pengamatan Dan Pengendalian Opt Padi
Serangan hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stall) telah terjadi di sentra tanaman padi, dengan tingkat serangan ringan sampai puso. Serangan penggerek batang padi dimulai dari persemaian padi. Serangan hama tikus juga terjadi di semua sentra tanaman padi dengan tingkat serangan ringan sampai sedang. Serangan penyakit blast (Pyricularia oryzae) juga merupakan penyakit yang potensial terutama pada pertanaman yang mengalami kekurangan air termasuk gogo rancah, dengan tingkat serangan ringan sampai berat. Penyakit hawar pelepah daun (Rhizoctonia oryzae) memiliki potensi menyerang semua varietas tanaman padi, dengan tingkat serangan ringan sampai sedang. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Serangan 1. Hama Wereng Coklat Berdasarkan hasil evaluasi, ternyata muncul dan berkembangnya serangan hama wereng coklat antara lain disebabkan oleh : Adanya penanaman padi yang terus menerus, sehingga terjadi perpindahan hama dari pertanaman setelah dipanen ke pertanaman yang baru, sedangkan petani dan petugas belum siap menghadapi situasi itu. Adanya varietas padi (terutama beberapa varietas padi hibrida) dengan kondisi “agak tahan” terhadap serangan wereng coklat. Kemungkinan terjadi pematahan ketahanan terhadap serangan hama wereng coklat atau kemungkinan munculnya wereng coklat biotipe baru. Kemungkinan adanya kesalahan penyemprotan yang dilakukan oleh petani, baik yaitu: jenis insektisida, dosis, konsentrasi, jumlah larutan, waktu, dan cara aplikasi. Kondisi cuaca, terutama kelembaban dan suhu udara cukup kondusif bagi perkembangan hama wereng coklat. Sistim Pengendalian Hama Terpadu (PHT) mulai sistim budidaya tanaman sehat hingga pelaksanaan pengamatan tidak dilakukan. 2. Penggerek Padi Penggerek batang padi berpindah dari tanaman yang tererang juga singgang ke persemaian padi, selanjutnya ke pertanaman. 3. Hama Tikus Faktor-faktor pendukung berkembangnya hama tikus antara lain : Tersedianya biji-bijian karena adanya tanaman sepanjang tahun sangat mendukung untuk perkembangan tikus. Pengendalian (selain gropyokan) kebanyakan dilakukan secara individual. Belum semua pelaksanaan pengendalian dilakukan secara terus menerus. Ada anggapan dari sebagian petani/petugas bahwa hama tikus merupakan hama yang biasa-biasa saja 4. Penyakit Blast (Pyricularia oryzae) Faktor-faktor penyebab tingginya serangan P.oryzae antara lain adalah : Seluruh daerah pertanaman padi merupakan daerah endemis penyakit blast Hampir semua varietas padi (VUB maupun hibrida) tidak tahan terhadap serangan cendawan oryzae. Hanya sebagian kecil petani melakukan pengendalian penyakit ini, baik seed treatment maupun penyemprotan dengan fungisida. 5. Hawar Pelepah Daun (Rhizoctonia Oryzae) Penyebab terjadinya serangan cendawan R.oryzae disebabkan oleh : Cendawan ini dapat menyerang semua varietas padi (belum ada varietas tahan cendawan ini. Adanya penggenangan (di-leb) pada pertanaman padi terutama pada tanaman padi muda. Petani belum melakukan pengendalian cendawan ini dengan benar. Adanya kelembaban tinggi mendukung perkembangan cendawan ini. Kita pada umumnya masih belum menyadari tentang bahaya dan kerugian yang ditimbulkan akibat serangan yang oleh penyakit ini Pengendalian Secara Mekanis Dan Penggunaan Musuh Alami (Pemangsa Tikus) Pengendalian secara mekanis harus selalu dilakukan bersama-sama untuk mengendalikan hama tikus, pada saat belum ada tanaman dengan cara gerakan gropyokan (gropyokan tikus). Pemanfaatan musuh alami burung hantu (Tito alba). Pengendalian Secara Kultur Teknis (Budidaya Tanaman) Pemilihan varietas tahan : Cara ini hanya dapat dilakukan untuk pengendalian hama wereng coklat. Untuk hama tikus, penyakit blas dan penyakit hawar pelepah daun belum ada varietas tahannya Pengaturan jarak tanam : Penggunaan sistim jajar legowo merupakan cara pengaturan jarak tanam yang paling cocok untuk pengendalian semua OPT, baik untuk pengendalian hama wereng coklat, hama tikus, penyakit blast maupun penyakit hawar pelepah daun. Pemupukan berimbang : Pupuk N dosis tinggi cenderung mengakibatkan tanaman padi rentan terhadap serangan hama wereng coklat, penyakit blast maupun penyakit hawar pelepah daun. Pemupukan P dan K dengan dosis yang cukup akan menjadikan tanaman padi toleran terhadap serangan OPT. Pengendalian Secara Kimiawi Untuk pengendalian hama wereng coklat dan penggerek batang padi agar menggunakan insektisida berbahan aktif Karbofuran (misal Mipcinta 50 WP, Plenum dsb) dan Buprofezin (Insect Growth Regulator/IGR) misal Applaud 10 WP dan jangan menggunakan insektisida berbahan aktif Organo Fosfat (OP) maupun Pirethroid Sintetic (PS). Daftar nama insektisida yang diijinkan untuk tanaman padi. Untuk hama tikus penggunaan racun (rodentisida anti koagulan) dilakukan secara bersama-sama di tingkat kelompok tani pada saat tanaman padi stadium vegetatif. Pengemposan (asap belerang CS2) agar dilakukan sehabis panen atau bersama-sama dengan gerakan gropyokan tikus. Penggunaan fungisida (misalnya : Delsene MX 200, Topsin 500 F, Basitac 75 WP dsb) dapat dilakukan secara seed treatment maupun penyemprotan untuk mengendalikan penyakit blast dan penyakit hawar pelepah daun. Penulis : Heri Kuncoro, A.Md. (THL-TB PP Kel. Hadimlyo Timur Kec. Metro Pusat)