Aren adalah hasil hutan bukan kayu yang dapat dijadikan solusi dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari bagi penduduk dalam kawasan hutan. Hampir semua bagian dari pohon aren dapat dimanfaatkan, antara lain adalah ijuk, buah, daun nira, batang yang menghasilkan tepung dan lain-lain. Namun tanaman aren ini dikenal sebagai penghasil nira untuk bahan baku pembuatan gula aren. Nira adalah cairan yang disadap dari bunga jantan pohon aren yang sudah mengeluarkan benangsari. Bunga jantan tersebut lebih pendek dari bunga betina, panjangnya sekitar 50 cm, sedangkan bunga betina mencapai 175 cm. Bagian pohon aren yang di sadap adalah tangkai bunga jantan. Kucuran air nira ini di tampung dalam bumbung (batang bambu yang panjangnya antara 1-1,5 meter). Cairan nira ini mengandung gula antara 10-15%. Penyadapan aren tidak sulit dilakukan, hanya perlu kehati-hatian, sehingga dapat dijadikan sumber nafkah utama atau nafkah tambahan di pedesaan. Waktu penyadapan nira aren dapat dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari dilakukan jauh sebelum matahari bersinar dan sore hari sebelum matahari terbenam. Pohon aren disadap antara umur 6-12 tahun dan memberikan hasil optimum pada 8-9 tahun. Jumlah nira dipengaruhi oleh jumlah mayang yang disadap, sedangkan kesegaran nira dipengaruhi oleh proses penyadapan dan penyimpanan nira. Kualitas nira terbaik ditandai dengan kadar gula yang tinggi. Bahan yang diperlukan adalah kapur yang digunakan untuk mencegah pH nira menjadi turun selama proses penyadapan dan pengawet yang digunakan untuk memperlambat kerusakan nira selama penyadapan. Bahan yang dapat digunakan, diantaranya ialah akar tanaman wambu, dan kulit batang manggis. Peralatan yang diperlukan yaitu parang untuk pembersihan tandan bunga jantan, pisau untuk mengiris tandan bunga jantan yang disadap dan bumbung untuk menampung nira yang menetes dari sayatan bunga jantan. Bumbung ini terbuat dari bambu dengan isi 7-10 liter. Cara Penyadapan Lakukan pembersihan tongkol dari ijuk, agar tidak mengganggu proses penyadapan. Pelepah daun sebanyak 1 sampai 2 buah di atas dan di bawah pelepah juga dibuang. Tongkol bunga jantan diayun-ayun dan dipukul-pukul pelan tanpa menyebabkan tongkol luka dan memar. Pemukulan dilakukan 2 hari sekali pada pagi dan sore hari selama 3 minggu. Setiap kali pemukulan dilakukan 250 kali pukulan. Tongkol dimana untaian bunga melekat ditoreh, jika torehan mengeluarkan cairan nira, berarti tongkol sudah siap untuk disadap. Jika tidak mengeluarkan nira, proses pengayunan dan pemukulan harus dilanjutkan. Bumbung yang akan digunakan untuk penyadapan dicuci sampai bersih. Bagian dalam bumbung disikat dengan penyikat bertangkai panjang. Setelah itu bumbung dibilas dengan air mendidih, dan diasapi dalam keadaan terbalik dengan asap tungku. Untuk memudahkan penyadapan, pada pohon dipasang tangga dari bambu yang digunakan untuk memanjat pohon. Jika diperkirakan tongkol sudah siap untuk disadap, tongkol dipotong pada bagian yang ditoreh untuk penentuan kesiapan tongkol untuk disadap. Di bawah luka pada bagian tongkol yang dipotong, diletakkan bumbung. Ke dalam bumbung dimasukkan kapur sirih satu sendok makan, dan 1 potong kulit manggis (berukuran 3×3 cm), atau potongan akar wambu (sebesar jari kelingking). Bumbung ini diikatkan secara kuat pada pohon. Penyadapan berlangsung selama 12 jam. Bumbung yang telah terisi nira diturunkan. Setiap kali penyadapan dapat diperoleh 3-6 liter nira. Setelah itu tongkol harus diiris tipis kembali untuk membuang jaringan yang mengeras dan tersumbat pembuluh kapilernya. Di bawah irisan baru tersebut diletakkan lagi bumbung yang bersih. Demikian terus menerus selama 3-4 bulan. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanan, BPPSDMP, Jakarta). Sumber: Jurnal Agrisep Vol 18 No.1 , Maret 2019 http://media.neliti.com. http://gulasemutaren.blogspot.com/ https://arenindonesia.wordpress.com/produk-aren/nira/ http://kebunaren.blogspot.com/2012/10/teknologi-pengolahan-nira-aren-untuk.html