Ayam kampung merupakan salah satu jenis unggas yang telah memasyarakat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Istilah ayam kampung adalah sebutan bagi ayam peliharaan yang bukan ras. Ayam kampung tidak memiliki istilah ayam kampung petelur ataupun pedaging. Hal ini disebabkan ayam kampung bertelur sebagaimana halnya bangsa unggas dan mempunyai daging selayaknya hewan pada umumnya. Nama ilmiah untuk ayam kampung adalah Gallus domesticus. Memelihara ayam kampung untuk dijadikan bisnis adalah cara yang bagus dan menguntungkan. Sebab ayam kampung memiliki banyak kelebihan. Selain banyak peminat, juga punya harga lebih tinggi, rasa yang lezat, dan mempunyai daya tahan lebih kuat daripada ayam broiler. Namun kita jangan lupa, seperti ayam yang lain, pemeliharaan ternak ayam kampung ini juga ada risikonya. Risiko tersebut terutama dalam hal membawa penyakit. Untuk itu perlu para peternak memahami seluk-beluk penyakit ayam kampung dan menjaga kesehatan ternaknya. Disamping itu, melakukan antisipasi dan memonitor kondisi ternaknya secara rutin.Berbagai penyakit bisa menyerang ayam kampung. Diantaranya yang sering muncul adalah : 1) New castle disease. Penyakit ini merupakan penyakit ganas yang selalu dikhawatirkan peternak ayam karena selalu berakibat kematian. Dikenal juga dengan nama Tetelo. Berasal dari virus Penumovirus atau Paramyxovirus, tingkat penularannya tinggi, dan belum ada obatnya. Yang harus diketahui peternak untuk gejala penyakit ini: a)Gangguan pernapasan (sesak napas, tercekik, bersin, ngorok); b)Sayap terkulai, jalan diseret, jalan mundur, dan leher terpuntir; c)Diare, kotoran warna hijau, mata dan leher bengkak, ayam petelur berhenti berpoduksi; d)Pencegahan; e)Belum ada obat yang efektif untuk menanganinya; f)cegah sebisa mungkin dengan vaksinasi, terutama vaksin aktif. 2) Penyakit gumboro. Penyakit ini adalah AIDS-nya ayam, karena merusak sistem kekebalan tubuh ayam. Berasal dari virus Birnaviridae. Ayam yang rentan terkena penyakit ini adalah anak ayam berumur 2-14 minggu. Poin yang harus diketahui dengan penyakit ini, gejalanya : a)Nafsu makan dan minum menjadi berkurang; b)Ayam menjadi lesu, cepat mengantuk; c)Bulu kusam; d)Mengalami diare, berlendir, dan mengotori bulu di sekitar anus; e)Sering mematuki dubur lantaran rasa gatal di daerah tersebut; f)Pencegahan; g)Satu-satunya cara mengatasi penyakit ini adalah mencegahnya terlebih dahulu, lantaran belum ada obat yang efektif. Vaksinasi bisa berfungsi dengan baik, terutama dengan vaksin bursavac dangumboro vaccin nobilis. 3) Cacing ayam. Penyakit cacingan yang umumnya menyerang ayam kampung adalah cacing gilig dan cacing pita. Cacing gilig biasa menyerang anak ayam, sementara cacing gilig dan pita menyerang ayam dewasa. Berhati-hatilah pada saat musim hujan, karena pada bulan inilah penyakit cacingan biasanya merajalela. Berikut adalah beberapa gejala dan cara mengatasinya. Gejala: a)Ayam yang terkena cacingan pertumbuhannya akan melambat; b)Mengalami gangguan pencernaan seperti diare; c)Akibat diare tersebut, badan menjadi kurus, dan ayam pun lesu; d)Produksi telur bagi ayam petelur menjadi menurun; e)Tidak bisa mengkonversi pakan dengan baik. Cara mengatasi: a)Untuk pengobatan, bisa memberikan preparat piperazine yang dicampurkan ke air minum ayam; b)Untuk pencegahan, bersihkan kandang ayam secara rutin, dan kelompokkan ayam sesuai dengan umurnya untuk memperlambat penularan. 4) Penyakit Berak Kapur atau Pullorum. Pullorum merupakan penyakit menular pada ayam yang dikenal dengan nama berak putih atau berak kapur (Bacilary White Diarrhea= BWD). Penyakit ini menimbulkan mortalitas yang sangat tinggi pada anak ayam umur 1-10 hari. Selain ayam, penyakit ini juga menyerang unggas lain seperti kalkun, puyuh, merpati, beberapa burung liar. Pullorum atau Berak kapur disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum dan bakteri gram negatif. Bakteri ini mampu bertahan ditanah selama 1 tahun.Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang penyakit ini tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas (kematian) dapat mencapai 85%. Penularannya melalui 2 ayam cara: a) Secara vertikal yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui telur; b)Secara horizontal yaitu terjadi melalui kontak langsung antara unggas yang secara klinis sakit, dengan ayam karier yang telah sembuh, sedangkan penularan tidak langsung, dapat melalui kontak dengan peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang terkontaminasi.Gejala klinis ayam yang terkena penyakit ini : a)napsu makan menurun; b)feses (kotoran) kotoran berwarna putih seperti kapur; c)Kotorannya menempel di sekitar dubur berwarna putih; d)kloaka akan menjadi putih karena feses yang telah keringkering; e)jengger berwarna keabuan; f)mata menutup dan nafsu makan turun; g)badan anak ayam menjadi lemas; h)sayap menggantung dan kusam; i)lumpuh karena arthritis; j)suka bergerombol.Perubahan patologi. Pada kasus yang akut sering dijumpai pembesaran pada hati dan limpa dan kadang-kadang sering diikuti omfalitis. Pada kasus kronis dijumpai abses pada organ dalam dan adanya radang pada usus buntu (tiflitis kaseosa) yang ditandai adanya bentuk berwarna abu-abu didalam usus buntu.Diagnosis. Isolasi dan identifikasi salmonella pullorum dapat diambil melalui hati, usus maupun kuning telur dapat dilakukan pembiakan kedalam medium. Ayam karier yang sudah sembuh dapat diidentifikasi dengan penggumpalan darah secara cepat (rapid whole blood plate aglutination test).Pengobatan. Pengobatan Berak Kapur dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas di dada ayam. Obat-obatan ini hanya efektif untuk pencegahan kematian anak ayam, tapi tidak dapat menghilangkan infeksi penyakit tersebut. Sebaiknya ayam yang terserang dimusnahkan untuk menghilangkan karier yang bersifat kronis.Pencegahan. Ayam yang dibeli dari distributor penetasan atau suplier harus memiliki sertifikat bebas salmonella pullorum. Selanjutnya lakukan desinfeksi pada kandang dengan formaldehyde 40%. Kemudian, ayam yang terkena penyakit dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan agar tidak menularkan ke ayam yang lain. (Inang Sariati)Sumber : 1. http://www.jagopacok.com/2014/01/macam-macam-penyakit-ayam-dan-pengobatan.html2. http://jokowarino.id/3-penyakit-umum-pada-ayam-kampung/3. https://id.wikipedia.org/wiki/Ayam_kampung