Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri pada kedelai ada dua jenis, yaitu penyakit pustul dan hawar. Jika menyerang varietas yang rentan, seranganya akan berdampak parah. Kedua penyakit tersebut dapat menimbulkan kehilangan hasil cukup tinggi. Besarnya kehilangan hasil juga dipengaruhi oleh keganasan bakteri dan dukungan kondisi lingkungan pertanaman kedelai.Pertama yaitu penyakit pustul atau bisul pada kedelai yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas axonopodis pv. glycines. Di daun yang terinfeksi muncul bercak atau bisul kecil, awalnya bercak berwarna hijau pucat kemudian berubah menjadi kecoklatan. Ciri khas bercak pustul adalah di bagian tengahnya terdapat noda berwarna kecoklatan dengan bagian tepi bercak berwarna pucat sampai kekuningan, bentuknya tidak teratur, dan jaringan selnya mati (nekrosis). Bercak yang saling berdekatan letaknya, dapat menyatu menghasilkan bercak dengan ukuran lebih lebar, menyebabkan daun menguning (klorosis) dan sering diikuti dengan daun gugur lebih awal hal ini mengganggu pengisian polong.Gejala pustul sering muncul pada fase berbunga pada umur sekitar 40 hari, dan daun muda paling rentan infeksi. Bakteri tidak hanya menyerang daun, tetapi menyerang polong dan biji kedelai. Biji yang terinfeksi seringkali tidak memperlihatkan gejala kerusakan yang khas atau masih nampak normal. Cuaca hangat dengan suhu 26°C – 33°C, dan lingkungan lembab karena hujan sangat mendukung perkembangan penyakit pustul pada kedelai. Di lapangan, bakteri Xag mampu bertahan hidup pada residu tanaman inang terinfeksi. Penyebaran bakteri di lapangan dibantu oleh aliran air dan percikan air hujan di tanah dan daun. Selain itu, bakteri menyebar melalui persinggungan antar dedaunan oleh angin kencang. Tanaman lain yang menjadi inang bakteri pustul diantaranya adalah buncis, kratok, kacang panjang, dan kacang lupin.Kedua yaitu penyakit hawar, bakteri penyebab penyakit hawar kedelai adalah Pseudomonas savastanoi pv. glycinea. Gejala awal berupa bintik atau bercak kecil berwarna coklat pada daun. Noda terus berkembang melebar bentuknya mirip sudut, tembus ke permukaan bawah daun, dan muncul warna kekuningan. Bercak yang melebar dapat bergabung sehingga membentuk bercak lebih besar dan akhirnya daun menguning, kering, dan akhirnya rontok. Penyakit muncul lebih parah dalam cuaca dingin dan hujan.Dalam kasus yang parah, penyakit ini menyebabkan gugur daun, tetapi tidak membunuh seluruh tanaman. Penyakit ini jarang menyerang benih, tetapi ketika bercak muncul pada polong maka mengganggu pembentukan biji. Secara sepintas gejala serangan bakteri hawar (blight) mirip dengan bakteri pustul. Perbedaan yang mencolok adalah daun yang terserang bakteri hawar menimbulkan kerusakan di permukaan atas daun tembus hingga bawah daun, bercak bentuknya agak menyudut.Infeksi awal biasanya terjadi ketika bakteri yang ada di lingkungan tanah atau dalam residu tanaman sakit, terpercik oleh air hujan ataupun tiupan angin dan mengenai daun kedelai. Serangan penyakit menjadi lebih parah pada cuaca hujan yang diiringi angin kencang. Penyakit hawar umumnya muncul pada periode cuaca lembab, dengan suhu hangat sekitar 260C. Cuaca panas dan kering menghambat bakteri sehingga penyakit tidak berkembang.Pengendalian Penyakit bakteri sulit dikendalikan dengan hanya satu cara dan sejauh ini belum ada cara pengendalian yang efektif untuk mengendalikan pustul dan hawar kedelai. Oleh karena itu cara yang bijaksana adalah melakukan pencegahan agar penyakit tidak berkembang parah, melalui beberapa cara yaitu pertama dengan varietas tahanm bila tersedia varietas tahan dianjurkan untuk menanam varietas tersebut. Varietas Anjasmoro berdasarkan pengamatan lapangan ada indikasi agak rentan penyakit pustul. Kedua dengan Sanitasi Lahan Membakar dan membenam sisa tanaman sakit pada kegiatan persiapan lahan dapat mengurangi sumber infeksi untuk mencegah munculnya penyakit baru di musim tanam berikutnya. Dianjurkan untuk menghindari tanam kedelai di lahan yang tercemar oleh bakteri pustul dan hawar.Ketiga dengan Pergiliran Tanaman, kedelai dirotasi dengan jenis bukan inang bakteri misalnya jagung, padi, dan serealia lain. Keempat dengan Pengendalian Hayati, bakteri agens pengendali hayati (APH) yang memicu munculnya ketahanan tanaman seperti Bacillus spp., dan Pseudomonas fluorescens sangat potensial digunakan untuk menekan serangan bakteri pustul dan hawar (Habazar et al. 2012; Rahayu 2012). Terakhir yaitu dengan pengendalian kimiawi, Bakterisida dengan komposisi senyawa tembaga yang diketahui efektif menekan bakteri parasit tanaman sering digunakan pada tanaman hortikultura, sangat potensial diaplikasikan untuk pengendalian bakteri kedelai.Penulis : Tedi Parmana, SP (PP. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merangin)Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/3510/