Selain sapi, ternak kerbau merupakan pilihan utama petani untuk dipelihara. Di samping berfungsi sebagai tabungan, kerbau juga dapat membantu mengolah tanah pertanian dan alat transportasi. Sementara ini, kondisi populasi kerbau di Indonesia makin hari makin terus menurun. Salah satu penyebabnya adalah gangguan penyakit hewan. Untuk menghindari serangan penyakit pada kerbau, peternak harus rajin menjaga kebersihan kandang, pemberian pakan yang teratur, serta menjaga kesehatannya dengan melakukan vaksinasi. Beberapa penyakit yang biasa menyerang ternak kerbau adalah sebagai berikut:1. Haemorrhagic Septicaemia (Pasteurilosis). Penyakit ini disebabkan oleh jasad renik Pasteurella multocida dan bila menyerang ternak kerbau terbilang sangat ganas, sebab dapat menimbulkan kematian. Gejala klinik dari penyakit ini terjadi kenaikan suhu badan secara tiba-tiba mencapai 42O C, air ludah berlebihan, depresi yang parah dan dalam waktu 24 jam menimbulkan kematian. Kerbau yang terserang umumnya pada bagian dada, tenggorokan dan tulang belikat terasa panas. Pengobatan dapat dilakukan dengan senyawa sulfonadinamida yang dicampur dengan antibiotika seperti oksitetrasiklin. Sebagai contoh dengan pemakaian 30 ml Na sulfonadinamida (33,3 % larutan) tiap 45,5 kg berat badan. Kebanyakan penyakit ini pada malam hari di musim hujan yang dingin. Supaya jangan terserang lakukan vaksinasi. Vaksinasi ada 3 macam yaitu (a) borth bacterin (bakteri pada sari daging) (b) alum precipitate dan (c) oil-adjuvant vaccines; 2. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).Penyakit ini hampir menyerang keseluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus, dan ditandai dengan deman dan penampilan kaku pada mulut dan kuku. Pada umumnya ternak kerbau sangat mudah terserang PMK sehingga menyebabkan diare, serta kerbau perah akan turun produksinya sampai 30 %. Ternak kerbau yang terserang PMK, selama 10 hari atau lebih, tenaga kerjanya akan semakin menurun. Pengobatan penyakit PMK secara tradisional di Indonesia dengan menggunakan buah asam jawa yang diambil sarinya, yang berfungsi sebagai zat menciutkan (astrigent juice). Disamping menggunakan asam jawa, pengobatan penyakit PMK dapat juga dilakukan dengan menggunakan garam gosok atau campuran garam dengan ubi kayu; 3. Kembung Perut (Bloat). Penyakit kembung perut diartikan sebagai penggelembungan rumen dan retikulum secara berlebihan akibat pengaruh gas hasil fermentasi dari karbohidrat yang berasal dari pakan yang dimakannya secara cepat, karena dari sejumlah besar asam laktat yang terbentuk, akibat dari pH rumen menjadi sangat asam, sehingga mengakibatkan tekanan menjadi meningkat. Penyebat dari Bloat ini disebabkan karena ternak kerbau yang digembalakan pada padang penggembalaan yang banyak menanam kacang-kacangan.Ternak kerbau perah lebih mudah terserang bloat dibandingkan dengan ternak kerbau pedaging. Pada musim penghujan ternak kerbau kurang terserang bloat, karena rumput tumbuhnya lebih cepat dibandigkan dengan tumbuhnya kacang-kacangan. Pencegahan penyakit bloat dapat dilakukan dengan menghentikan pemberian pakan butiran dan kosentrat, serta harus menyediakan air minum secara terus menerus. Pengobatan penyakit bloat ini dapat dilakukan dengan (a) daun kelapa tua dan cairan daun kelapa tua melalui mulut sebanyak 1 kg; (b) ternak kerbau diajak lari selama 30 menit sebanyak 3-4 kali sehari untuk meransang rumen; (c) pemberian hot saline atau sabun urus-urus; (4) pemberian larutan asam asetat sebanyak 0,5–1 liter melalui mulut; 4. Antrax. Penyakit yang disebabkan Bacillus anthracis ini sangat berbahaya dan menular kepada manusia. Penularan kepada manusia disebabkan oleh: (a) kegagalan dalam memastikan dan melaporkan penyakit ini, setelah terjadi tindakan akut, (2) kecenderungan untuk segera memotong ternak yang terserang oleh penyakit dan dibagikan untuk dimakan, (3) kecenderungan memanfaatkan kulit ternak yang terserang penyakit antraks, (4) penguburan ternak yang mati oleh penyakit ini terlalu dangkal. Diharapkan semua yang berhubungan dengan penyakit antraks harus dibakar. Serangan antraks menimbulkan kematian secara tiba-tiba tanpa ada gejala klinis yang memadai. Gejala lain akan timbul deman, otot bergerak sendiri, jatuh dan keluar darah dari mulut, anus, vulva, telinga dan suhu badan meninggi sampai 42O C; 5.Tuberculosis. Penyakit ini sering menyerang kerbau perah, karena sering dikandangkan. Penyebabnya, jasad renik Mycobaterium tubercolosis. Tanda umumnya adalah ternak menjadi malas, suhu tubuh naik turun, nafsu makan turun, batuk kering, dan diare. Jika bakteri sudah sampai ke ambing, ambing akan membengkak dan air susu yang dihasilkan encer seperti air. Lama penyerangan dari penyakit tuberculosis bisa berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun. Pencegahannya dengan pemakaian anti biotik secara tepat; 6. Sarcoptic Mange. Penyakit ini disebabkan oleh caplak jenis Sacoptic scabaeli var babulus. Tanda kerbau terkena terdapat luka di leher, sepanjang bagian perut, dengan luka pada mulanya kecil tetapi makin lama makin besar dan mengeropeng. Pada tingkat lanjut, keropeng tersebut semakin membesar dan kulit menebal dan pada akhirnya ternak kerbau semakin melemah dan tidak bersemangat. Penyakit ini sering terjadi diwaktu musim kemarau, karena ternak kerbau jarang digunakan sebagai tenaga kerja. Penanggulangan penyakit ini dilakukan dengan menghilangkan caplak melalui penyemprotan dengan insektisida secara memadai; 7.Siphona Exigua. Penyakit ini menyerang kulit yang disebabkan oleh serangga. Kerbau lebih menderita dibandingkan dengan ternak lainnya, karena berkurangnya darah yang disebabkan oleh gigitan serangga. Penanggulangannya dengan membasmi serangga secara seksama; 8. Mastitis. Penyakit ini lebih banyak menyerang kerbau perah. Penyebabnya, bakteri Sagalactiae dyglactiae, Sagalactiae faecalis, Sagalactiae uberis. Dan juga oleh bakteri Staphylococcus aureus, E choli, Corynebacteriumpyogenes, M. Tubercolosis, Psedomonas sp, Mycoplasma, dan Baccillus sp. Tanda terserang Mastitis, terjadinya pembengkakan dengan warna kemerah-merahan pada ambing, sehingga susu menjadi encer dan bergumpal. Untuk mengatasinya, lakukan pemerahan dengan baik dan hati-hati dan puting susu dibersihkan setelah dilakukan pemerahan. Pengobatannya dengan menggunakan penisilin, tetrasiklin, sulfonadinamid dan streptomysin guna untuk menghilangkan mikroba penyebab mastitis. Dalam pemakaian obat-obat tersebut susu kerbau perah dilarang dikonsumsi oleh manusia selama 5 sampai 7 hari (Inang Sariati). Diambil dari berbagai sumber