Loading...

Penyakit Pada Sapi Potong Dan Pencegahannya

Penyakit Pada Sapi Potong Dan Pencegahannya
Beternak sapi potong merupakan usaha yang sangat menjanjikan karena kebutuhan akan daging dari tahun ketahun semakin meningkat.  Peternakan sapi potong merupakan usaha sampingan bagi masyarakat Indonesia terutama dipedesaan. Pada umumnya masyarakat  memelihara sapi potong hanya sebagai harta simpanan saja, padahal potensi peternakan sapi itu sendiri bila dikelola secara baik dan benar akan menghasilkan keuntungan yang besar. Dalam pemeliharaan ternak sapi potong salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kesehatan ternak. Kontrol kesehatan sapi yang baik adalah langkah penting dalam beternak sapi potong. Faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas sapi potong antara lain : Bibit Pakan Kandang Manajemen Pemeliharaan Program pencegahan dan pengobatan penyakit ternak Penyakit pada sapi potong dibedakan menjadi dua yaitu : Penyakit yang disebabkan oleh agen infeksius (bakteri, virus, fungi, parasit dan prion) Penyakit yang disebabkan karena kurang tepatnya manajemen pemeliharaan (pakan dan kandang).  Penyakit yang disebabkan oleh agen infeksius (bakteri, virus, fungi, parasit dan prion) antara lain : Scabies (Sarcoptes Scabei) Gejala : Terdapat kerak-kerak pada permukaan kulit Ternak selalu menggesekan kulit yang terkena kudis Kerontokan bulu, kulit menjadi teal dan kaku Pencegahan : Menjaga kebersihan kandang dan ternak dengan membersihkan kandang seminggu sekali dan memandikan ternak 2 minggu sekali, isolasi ternak yang terinfeksi, pemberian anti parasit .  BEF (Bovine Ephemereal Fever/ Demam 3 hari) Merupakan penyakit sapi yang bersifat akut yag menyebabkan demam, disebabkan oleh Rhapdhovirus yang disebarkan oleh serangga (nyamuk culicoides). Gejala : Demam dengan kenaikan suhu antara 1-4 °C dari suhu normal Ternak gemetar, nafsu makan turun, keluar leleran dari hidung dan mata Kadang-kadang terjadi kepincangan kaki bahkan ada yang tidak bisa berdiri karna nafsu makan kurang dan kembung. Pencegahan : Menciptakan kebersihan kandang, kering dan tidak lembab serta memberantas sarang nyamuk. Cacingan Penyakit cacing disebabkan oleh parasit internal pada saluran pencernaan sapi. Parasit yang menimbulkan menimbulkan cacingan pada sapi, antara lain Trichuris sp., Oestophagostomum sp. Gejala : Sapi kurus, lemah, lesu, nafsu makan menurun, Bulu kasar, kusam dan rontok Perut besar dan kepala agak menunduk, diare, Daerah bawah rahang terlihat membengkak (bottle jaw) Pencegahan : Menjaga kebersihan kandang Pengaritan rumput setelah panas yaitu pada jam 12.00-15.00 Menggembalakan sapi pada siang hari agar tidak ada lagi telur cacing yang menempel di rumpu Anthrax Penyebab penyakit anthrax adalah Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan atau minuman, dan dapat juga melalui pernafasan. Sapi yang tertular anthraks akan menunjukkan gejala klinis, yaitu : demam tinggi, badan lemah, dan gemetar, gangguan pernafasan pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin, dan badan penuh bisul, kadang-kadang darah berwarna merah kehitaman keluar melalui lubang hidung, telinga, mulut, anus, dan vagina kemudian diikuti kematian Kotoran ternak cair dan sering bercampur darah Limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pencegahan : Dilakukan vaksinasi yang teratur tiap tahun di daerah wabah anthrax Pengawasan yang ketat dan teratur terhadap lalulintas ternak Mengasingkan ternak yang sakit dan diduga terkena penyakit Bangkai ternak yang sakit atau diduga sakit tidak boleh dipotong tetapi harus dibakar atau dikubur. Penyakit yang disebabkan karena kurang tepatnya manajemen pemeliharaan (pakan dan kandang) antara lain : Diare Diare merupakan suatu penyakit dikarenakan adanya peningkatan frekuensi pengeluaran feses yang mengandung air melebihi normal. Faktor penyebab diare dapat dikelompokkkan dalam 3 kelompok : Gangguan fungsional - alergi makanan dan obat, cacat digesti, cacat absorpsi dan aspek psikologi. Penyakit metabolik atau penyakit umum yang mempengaruhi saluran pencernaan – uremia, congestive heart failure, liver chirrhosis, hypoadrenocorticism, dan keracunan logam berat. Penyakit intrinsik pada usus – bakteri, fungi, protozoa, metazoa parasit, virus dan radang non spesifik. Berdasarkan lamanya, diare dapat dibedakan menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis. Diare akut biasanya disebabkan oleh pakan, parasit ataupun karena penyakit infeksi. Diare kronis pada hewan, pertama kali harus dicurigai adanya parasit seperti nematoda, Giardia, Tritrichomonas. Parasit ini dapat diketahui dengan pemeriksaan feses  Keracunan Pakan Penyebab dari keracunan adalah karena ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung zat racun. Tanda-tanda : Bisa disertai kembung atau tidak Mati mendadak, mulut berbusa, kebiruan pada selaput lendir, pengelupasan kulit/eksim atau terjadi pendarahan, kembung            Pencegahan: Tidak memberikan tanaman beracun atau menggembalakan ternak di daerah yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun.  Kembung/ Bloat Bentuk kembung secara umum dapat dibedakan menjadi dua bentuk : Kembung berupa gas yang terperangkap karena adanya penyumbatan kembung berupa busa yang menghambat terjadinya pelepasan gas. Bentuk kembung berupa busa merupakan bentuk yang cukup sering terjadi, hal ini dimungkinkan karena adanya masalah fermentasi pada rumen. Fermentasi rumen yang tidak sempurna salah satunya dapat mengasilkan busa. Gejala : Perut kembung, bila diraba terasa keras dan merasa sakit, sulit buang kotoran Jika berbaring sapi mengalami kesulitan untuk berdiri kembali. Sapi yang menderita kembung terlihat dari bagian perut sebelah kirinya yang membesar , punggung membungkuk, dan frekuensi pernapasan meningkat. Penyakit kembung yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan kematian. Pencegahan : mencegah agar sapi tidak memakan rumput muda atau basah, tidak digembalakan pada pagi hari, dan beri obat kembung. Penyakit kembung terjadi karena sapi dilepas dan memakan rumput yang masih basah, sehingga timbul gas dalam pencernaan yang tidak bisa dikeluarkan dari dalam perut. Tidak memberi sapi pakan yang masih basah atau tidak melepas sapi yang lapar terlalu pagi, karena rumput masih basah oleh embun.     Oleh : Astaria Kismaryati BPP Kec.Semin Â