Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman biji-bijian yang paling banyak di perdagangkan dan paling penting setelah gandum dan padi. Jagung sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Beberapa daerah di Indonesia (seperti di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan. Hasil tanaman jagung di Indonesia juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih belum optimalnya penyebaran varietas unggul dimasyarakat, pemakaian pupuk yang belum tepat, penerapan teknologi dan cara bercocok tanam yang belum diperbaiki. Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman jagung adalah peningkatan taraf hidup petani dan memenuhi kebutuhan pasar maka perlu peningkatan produksi jagung yang memenuhi standar baik kualitas dan kuantitas jagung yang dihasilkan. Untuk melakukan hal tersebut perlu dilakukan hal yaitu memahami dan mengetahui karakteristik tanaman jagung tersebut seperti morfologi, fisiologi dan agroekologi yang diperlukan oleh tanaman jagung sehingga dapat meningkatkan produksi jagung di Indonesia. Penyakit adalah gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Penyakit tidak memakan tanaman melainkan merusak tanaman dengan mengganggu proses-proses di dalamnya. Tanaman yang terserang penyakit umumnya memiliki bagian tubuh yang utuh, tetapi aktivitas hidupnya terganggu sehingga dapat mengalami kematian. Penyakit juga dapat merugikan secara ekonomis dan menurunkan produksi terhadap tanaman tersebut. Berikut ini beberapa Penyakit Tanaman Jagung Hawar Daun (Helmithosporium turcicum) Pada awal terinfeksi maka gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul dimulai pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering, dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memusnahan seluruh bagian tanaman yang terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Secara kimiawi menggunakan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani) Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk tidak beraturan berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.Serangan penyakit dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah kemudian menjalar ke bagian atas. Pada varietas yang tidak tahan penyakit ini (rentan) serangan cendawan dapat mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman di lapang. Keadaan tanah yang basah, lembab, dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kelembaban areal pertanaman, yaitu dengan pengaturan jarak tanam tidak terlalu rapat dan pengaturan drainase air agat tidak terjadi genangan. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan sefamili. Pengendalian kimiawi dengan menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb dan karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis) Penyakit bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung. Penyakit ini menyerang tanaman jagung pada 1-2 minggu. Kegagalan budidaya jagung akibat serangan penyakit ini dapat mencapai 100%.Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada permukaan atas dan bawah daun terdapat warna putih seperti tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanamanjagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun- daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan.Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi pada tanaman yang sudah tua namun masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil. Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain penggiliran tanaman, penanaman jagung secara serempak, pemusnahan seluruh bagian tanaman terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan cara perlakuan benih menggunakan fungisida berbahan aktif metalaksil dengan dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg benih. Selain itu penyemprotan tanaman pada umur 5, 10, dan 15 hari menggunakan fungisida berbahan aktif metalaksil, famoksadon, atau benomil. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Busuk Tongkol Busuk tongkol Fusarium (Fusarium moniliforme) Gejala penyakit ini permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah. Busuk tongkol Diplodia (Diplodia maydis) Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman jagung di lapangan. Busuk tongkol Gibberella (Gibberella roseum) Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan ini dapat menjadi busuk dan kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, buah berwarna biru hitam di permukaan kelobot dan bongkol. Pengendalian ketiga penyakit busuk tongkol di atas yaitu dengan cara tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah keatas. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi-padian, karena patogen-patogen tersebut mempunyai banyak tanaman inang. Secaraa kimiawi dapat dilakukan penyemprotan tanaman menggunakan fungisida berbahan aktif metalaksil, famoksadon, atau benomil. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Busuk Batang Penyakit busuk batang jagung disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan hingga 65%. Tanaman jagung yang terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah, dan bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang yang terinfeksi akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah, drainase yang baik, pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Karat Daun (Puccinia polysora) Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inoculum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pemusnahan seluruh bagian tanaman terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi fungisida berbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, atau difenokonazole dengan dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.) Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2) x (0,6-2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3-4 minggu setelah tanam. Tongkol jagung yang terserang/terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pemusnahan seluruh bagian tanaman terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi fungisida berbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, atau difenokonazole dengan dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Virus Mosaik Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, dan dilihat secara keseluruhan tanaman jagungtampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydissecara non persisten. Tanaman jagung yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasil. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu, mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang, pergiliran tanaman atau tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama, pengendalian serangga vektor penular virus ini, terutama kutu Mysus persicae, serta tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus. Dengan melihat data diatas beberapa jenis penyakit yang menyerah Tanaman Jagung, dapat di simpulkan bahwa tanaman jagung juga merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan penyakit. Untuk menghindari penurunan produksi pada tanaman jagung perlu diperhatikan beberapa faktor yaitu pada pemilihan benih, diharapkan mengunakan varietas unggul seperti varietas jagung Bt. Dan memperhatikan pemakaian pupuk yang sesuai. Penerapan cara bercocok tanam yang baik untuk menghindari banyaknya serangan penyakit pada budidaya Jagung.