Loading...

Penyakit Tanaman Kencur dan Cara Pengendaliannya

Penyakit Tanaman Kencur dan Cara Pengendaliannya
Tanaman kencur dibudidayakan untuk diambil rimpangnya dan akan digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu), fitofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman, rempah, serta bahan campuran saus, rokok pada industri rokok kretek. Oleh karena itu, tanaman kencur harus tumbuh normal dan sehat, agar menghasilkan rimpang yang bermutu. Tanaman yang tumbuhnya tidak normal dapat disebabkan karena terserang penyakit tanaman. Penyakit tanaman yang utama menyerang tanaman kencur dan cara pengendaliannya dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Penyakit Layu Bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum Tanaman inangnya selain kencur adalah jahe, temumangga, temu putih, kencur, kunyit, temulawak, bangle, lempuyang, tomat, terong, nilam, tembakau, kacang tanah, cabai, kentang, kacang panjang, babadotan, meniran, ceplukan, Commelina sp., nanangkaan, spigelia anthekmia, Erechtites sp.,dan krokot. Gejala serangan penyakit ini terlihat pada tanaman kencur umur 3 bulan, daun menguning dan menggulung yang dimulai dari daun yang lebih tua kemudian diikuti daun yang lebih muda, lama-lama ke seluruh helai daun kuning dan mati. Gejala menguning pada daun biasanya dimulai dari pinggir daun, kemudian menyebar keseluruh helai daun. Pada tahap lanjut, daun mudah dicabut dari bagian rimpang. Jika potongan tangkai daun atau rimpang dipijit dengan tangan atau direndam dalam air jernih di dalam gelas, akan mengeluarkan lender berwarna putih seperti air susu. Rimpang yang sakit dan busuk berbau sangat tajam. Pengendalian penyakit ini dapat dengan cara kultur teknis, mekanis, biologis, dan kimiawi. Pengendalian penyakit Layu dengan cara kultur teknis, antara lain: 1) Menanam benih kencur yang sehat; 2) Sekitar 1 menit sebelum disemai, benih kencur dicelupkan ke dalam larutan desinfektan; 3) Menjaga tanaman kencur tidak terluka; 4) Tidak menanam tanaman kencur bekas lahan kencur atau tanaman inang yang terserang penyakit layu selama 5 tahun; 5) Di daerah epidemik, harus dilakukan pergiliran dengan tanaman lain yang bukan inang, misalnya Brassicaceae dan bawang-bawangan. Pengendalian penyakit layu dengan cara mekanis, antara lain: 1) Membuat saluran-saluran drainase yang baik, agar bedengan/guludan tidak tergenang; 2) Melakukan sanitasi/pembersihan dan pemeliharaan kebun dengan teratur dan intensif, yaitu mencabut tanaman kencur yang sakit dan gulma dengan baik; 3) Pemakaian abu sekam dan ekstrak bawang merah pada tanah terkontiminasi R, solanacearum dapat menekan serangan penyakit sampai 33%. Pengendalian penyakit layu secara biologis dengan menekan serangan penyakit yang dapat memakai kompos agens antagonis seperti Gliocladium sp., Trichoderma sp., Bacillus sp. Atau Psedomonas fluorescens, kompos BIOTRIBA Pengendalian penyakit layu secara kimiawi, dapat menggunakan bakterisida (Agrept), pestisida nabati (minyak atsiri cengkeh dan serai wangi sebesar 1%). 2. Penyakit Akar Nematoda Nematoda yang paling merugikan pada tanaman kencur adalah Radopholus similes, Meloidogyne spp. dan Pratylenchus coffeae. Tanaman inang penyakit ini antra lain: kentang, kubis, tomat, ubi jalar, tembakau, teh, tebu, krisan, padi-padian, lempuyang hitam, lengkuas, kencur, kunyit, temulawak, temuputih, temukunci, temuireng, dan kapulaga. Gejala serangan penyakit ini terlihat, pada tanaman yang terserang cenderung lebih cepat tua dibanding dengan tanaman sehat. Jika serangan lebih berat dapat mengakibatkan akar dan rimpang menjadi busuk. Bila rimpang yang terserang dipotong melintang, tampak luka berwarna coklat dengan batas yang jelas antara bagian rimpang sakit dengan yang masih sehat. Pengendalian penyakit ini antara lain dengan cara kultur teknis, mekanis, biologis, dan kimiawi. Pengendalian penyakit ini dengan cara kultur teknis, antara lain: 1) Lahan dipilih yang belum pernah ditanami kencur belum pernah ada laporan terinfeksi berat oleh nematoda; 2) Untuk lahan yang sudah pernah terinfeksi nematoda, diperlukan perlakuan secara kimia minimal 2 - 3 minggu sebelum tanam benih kencur; 3) Dilakukan sanitasi kebun dengan baik; 4) Pergiliran/rotasi tanaman dan pemilihan waktu tanam yang benar (pada awal musim hujan); dan 5) Menggunakan benih kencur bebas nematoda. Pengendalian penyakit ini secara mekanis, dengan perlakuan rimpang kencur dengan air panas 40oC selama 20 menit, atau suhu 50 oC selama 10 menit. Perlakuan air panas harus dilakukan secara hari-hati karena viabilitas benih akan terpengaruh. Pengendalian penyakit Akar Nematoda secara biologis, antara lain dengan: 1) Pemanfaatan bakteri Pasteuria penetrans dengan dosis 2 kapsul per tanaman per 6 bulan untuk pengendalian Meloidogyne spp., dan Radopholus similis; 2) Pemanfaatan jamur Arthrobotrys sp., Dactylaria sp., dan Dactdella sp. untuk pengendalian larva nematoda; 3) Pestisida nabati tepung biji mimba 20 -50 gram per tanaman per 3 bulan (untuk daerah yang ada tanaman mimba). Pengendalian penyakit Akar Nematoda secara kimiawi dengan insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. 3. Penyakit Kuning Fusarium sp. Gejala penyakit ini, mula-mula bagian daun muda berwarna pucat, kemudian meyebar ke seluruh bagian daun lainnya. Lalu batang menjadi keriput, tetapi tidak rontok. Kemudian rimpang yang terserang berwarna kecoklatan tetapi tidak menyeluruh. Pengendalian penyakit ini dapat dengan cara kultur teknis, mekanis, biologis, dan kimiawi. Pengendalian penyakit kuning secara kultur teknis, antara lain: 1) Menggunakan benih yang sehat, cukup umur, dan tidak luka; 2) Menanam kencur di lahan yang mempunyai drainase baik; 3) Mengadakan pergiliran/rotasi dengan tanaman lainnya. Pengendalian penyakit kuning cara mekanis dengan melakukan eradikasi tanaman yang terserang dan membakarnya. Pengendalian secara biologis, sebelum benih kencur ditanam, pada lubang tanam diberi agens antagonis seperti Trichoderma spp. Atau Gliocladium spp. Atau kompos yang matang.   4. Penyakit Phytium sp. Tanaman inangnya hanya tanaman kencur dan gejala yang ditunjukkan adanya daun-daun menguning lalu kering dan seterusnya seluruh bagian tanaman membusuk, akhirnya tanaman mati. Jika tanaman dicabut, tampak pangkal batang palsunya busuk basah dan berwarna coklat kehitamman. Jika tanahnya dibongkar rimpang sudah busuk dan mongering. Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain: 1) Dibuat drainase yang baik; 2) Rotasi dengan tanaman bukan inang; dan 3) Penyemprotan dengan fungisida yang teratur dan diulangi setelah 3 bulan. Penulis : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian, Pusluhtan) Sumber informasi: 1. Standar Prosedur Operasional (SPO) Kencur (Kaempferia galanga L.). Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura. Kementerian Pertanian. 2011. 2. Standar Prosedur Operasional (SPO), Penerapan Sistem Jaminan Mutu Kencur. Direktorat Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura. 2004.