Loading...

PENYEMAIAN DENGAN DAPOG LEBIH EFISIEN DAN PRAKTIS

PENYEMAIAN DENGAN DAPOG LEBIH EFISIEN DAN PRAKTIS
Usahatani yang lebih efisien tentu merupakan keinginan bagi setiap petani, karena dengan usaha tani yang efisien, berati dapat menghemat biaya dan tenaga yang digunakan dalam kegiatan usaha tani tersebut. Saat ini berbagai upaya dilakukan untuk memotivasi petani agar dapat berusaha tani lebih efisien, seperti diciptakannya alat pengolah tanah, alat penanaman, serta alat panen dan pasca panen. Dengan menggunakan jenis-jenis peralatan tersebut, menjadi pekerjaan petani menjadi lebih efisien yaitu berupa tenaga lebih sedikit, waktu mengerjakan semakin singkat, serta kualitas tentunya lebih bagus, sehingga usaha tani lebih menguntungkan. Salah satu teknologi yang diterapkan oleh petani yang tergabung dalam Subak Samsam yang terletak di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan dalam membuat pesemaian dilakukan dengan cara menggunakan tray. Penyemaian dengan menggunakan tray ini dilakukan bila dalam penanaman dilakukan dengan menggunakan transplanter, sehingga ukuran tray ini harus disesuaikan dengan spesifikasi dari transplanter yang digunakan, yang biasanya berukuran 28 x 68 cm. Namun menurut petani tersebut bukan hanya penanaman menggunakan transplanter saja harus penyamaian dengan menggunakan tray. Saat ini ia juga membuat pesemaian tidak saja menggunakan tray, namun juga menggunakan terpal yang dihamparkan pada tanah, kemudian dibatasi dengan menggunakan kayu, dengan lebar sesuai kebutuhan, sehingga tampak seperti petak-petak pesemaian. Bila nantinya menggunakan mesin transplanter, maka dibuat ukuran lebar 28 cm, sesuai spesifikasi pada alat tranplanter. Sedangkan panjangnya tergantung kondisi, bisa sepanjang kayu yang digunakan sebagai pembatas petak 2-3 m. Bila pesemaian tersebut digunakan untuk mesin tranplanter, maka hanya tinggal memotong saja. Menurut Petani yang melaksanakan penyemaian dengan cara ini, penyemaian dengan sistem ini mempunyai kelebihan seperti : bibit tanaman tidak mengalami stress karena pencabutan, sehingga bibit tanama tampak tetap sehat, setelah ditanam cepat berkembang, tanaman tidak mengalami stagnasi dan umur pesemaian lebih singkat, serta dalam pengangkutan bibit lebih mudah, karena bisa digulung lalu diangkat. Adapun langkah-langkah dalam pembuatan pesemaian ini dengan menggunakan terpal adalah sebagai berikut : Lahan tempat pesemaian harus betul-betul rata; Hamparkan plastik/terpal pada tempat yang telah disiapkan, dan buatkan saluran keliling, untuk menampung kelebihan air. Buatkan petakan-petakan dengan lebar 28 cm, sedangkan panjang tergantung keadaan/kebutuhan, dari kayu ukuran 2 x 3 cm, buat alat penahan sehingga kayu tidak mudah bergesar-geser; Isikan media tanam, yang berasal dari tanah berpasir dan pupuk organik dengan perbandingan 2 : 3, lalu ratakan dan siram dengan air, sehingga mencapai ketinggian 2 cm. Taburkan benih secara merata pada purmukaan media, dengan kepadatan kurang lebih ukuran tray 28 cm x 48 cm dengan jumlah benih sebanyak 1 gelas aqua. Ingat benih yang ditabur adalah benih yang sudah di rendam dan diperam kurang lebih 24 jam. Setelah benih disebar secara merata, maka selanjutnya pesemaian ditutup dengan daun pisang, atau bisa juga menggunakan alang-alang, sehingga benih tidak kelihatan, karena benih yang telah ditabur sangat riskan terhadap burung-burung yang ada disekitarnya. Setelah bibit berumur 3 hari setelah semai, maka penutup dari daun pisang atau daun alang-alang diambil, dimana saat itu tanaman sudah tumbuh; Bila pesemaian sudah berumur 10 – 15 hari, bibit sudah dapat dipindah untuk ditanam, dengan cara mengangkat terpal, dengan terlebih dahulu memotong terpal secara melintang, pada bagian kayu yang dipakai sebagai pembatas pesemaian. Cara pengangkutan dapat dilakukan dengan cara menggulung terpal yang telah terpotong tadi; Bila penanaman dengan menggunakan mesin tanam/transplanter, maka pemotongan dilakukan sesuai ukuran yaitu 48 x 28 cm. Dengan melakukan penyemaian seperti ini, maka pelaksanaan penyemaian tidak mesti harus dilakukan di lahan sawah, namun bisa juga dilakukan di halaman rumah, belakang rumah, sehingga lebih mudah dalam pengawasan pesemaian ( I Wayan Pasek Suardika, SP., BPP Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali).