Loading...

PENYIRAMAN DAN PEMUPUKAN TANAMAN PAPRIKA

PENYIRAMAN DAN PEMUPUKAN TANAMAN PAPRIKA
Pada beberapa tahun belakangan ini, di Indonesia terdapat peningkatan permintaan sayuran di produksi di rumah plastik. Ada banyak jenis tanaman sayuran yang dapat dibudidayakan di rumah plastik seperti tomat, sayuran daun, paprika, mentimun dan lai-lain. Jenis sayuran yang paling banyak dibudidayakan dalam rumah plastik adalah tanaman paprika. Dalam sistem penanaman paprika di rumah plastik, penyiraman dilakukan bersamaan dengan pemberian nutrisi atau pupuk, yang biasa disebut dengan sistem fertigasi. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan air dan nutrisi agar tanaman tumbuh optimal sesuai dengan berbagai tahap pertumbuhan tanaman agar hasil tanaman maksimal. Dengan demikian fertigasi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya paprika dalam rumah plastik. Sistem Fertigasi Pada umumnya petani di Indonesia menggunakan 2 sistem fertigasi yaitu sistem fertigasi manual dan sistem tertigasi tetes (drip irrigation system). Pada sistem fertigasi manual, pemberian larutan nutrisi dilakukan dengan cara menyalurkan larutan nutrisi ke dalam polybag satu per satu, sedangkan pada sistem fertigasi tetes, pemberian larutan nutrisi dilakukan dengan jalan memasang pipa saluran dari sumber larutan nutrisi yang didistribusikan ke masing-masing polybag. Frekuensi dan Volume Fertigasi Di tingkat petani, frekuensi fertigasi dalam satu hari disesuaikan dengan kondisi cuaca. Jika pada kondisi panas dan tidak ada hujan, umumnya 4-5 kali dalam satu hari, sedangkan pada kondisi hujan dan mendung sebanyak 3-4 kali. Pemberian fertigasi tergantung pula pada kondisi cuaca dan hasil pengukuran over drain, yaitu larutan nutrisi yang keluar dari polybag. Ukuran over drain dengan satuan persen ini, bertujuan untuk mengetahui apakah tanaman paprika sudah cukup menerima larutan nutrisi atau belum. Ketika tanaman masih muda, persentase over drain adalah sebesar 5-10%, dengan bertambah besarnya tanaman akibat pertumbuhan, jumlah air dan nutrisi yang dibutuhkan juga meningkat. Pada saat tanaman paprika mulai berbuah, target over drain adalah sebesar 20 - 30%. Sebagai contoh cara menghitung over drain sebagai berikut: pada tanaman yang berumur 1-4 MST diperlukan larutan nutrisi sebanyak 500 ml/tanaman. Oleh karena itu per polybag harus diberi larutan nutrisi sebanyak 1.000 ml/ hari karena setiap polybag ditanami 2 tanaman. Jika over drain yang tertampung selama 24 jam kurang dari 50 ml,berarti tanaman paprika kekurangan nutrisi sehingga volume pemberian nutrisi harus ditambah dengan menambah frekuensi fertigasi. Namun, jika over drain yang tertampung selama 24 jam lebih dari 100 ml, indikasinya tanaman paprika kelebihan nutrisi sehingga volume pemberian nutrisi harus dikurangi, dengan mengurangi frekuensi fertigasi. Banyaknya volume fertigasi pada tanaman paprika tergantung pada umur tanaman. Menurut Moekasan (2003), volume fertigasi pada tanaman paprika pada fase vegetative (1 - <6 MST ) rata-rata sebanyak 600 ml/tanaman/hari. Pada fase berbunga dan mulai berbuah (6-8 MST) sebanyak 900 ml/tanaman/hari, sedangkan pada fase pematangan buah (> 8 MST) sebanyak 1.500 ml/tanaman/hari. Electro Conductivity (EC) Dalam pengelolaan fertigasi, terdapat 2 faktor yang perlu diperhatikan adalah electro conductivity (EC) atau penghantaran listrik di dalam suatu larutan dan pH larutan fertigasi.Nilai EC merupakan indikator kepekatan hara dalam suatu larutan dan satuan ukurannya mS/cm (atau mmho/cm), kadangkala disebut hanya mS saja atau sama sekali tidak disebutkan satuannya. Nilai EC yang digunakan untuk tanaman paprika tergantung pada tingkat pertumbuhan paprika t. Tanaman kecil, yang relatif belum membutuhkan hara yang banyak, biasanya diberi EC 1, tanaman mulai membesar dan mulai membesar diberi EC 1,2 - 1,5, dan bila tanaman lebih besar lagi diberi EC lebih tinggi lagi dan seterusnya. Untuk tanaman paprika, sering ditingkatkan menjadi 2,5-3. Namun demikian,sebagai acuan dalam pengelolaan tingkat garam terlarut di daerah perakaran adalah EC keluar tidak boleh lebih 1 daripada EC masuk. Apabila perbedaan EC masuk dan EC keluar sudah melebihi 1, maka dilakukan pencucian media tanam dengan menggunakan larutan nutrisi EC yang lebih rendah misalnya dengan EC 1 atau 1,2. Untuk mengetahui nilai EC keluar, dapat dilakukan pengukuran over drain yang ditampung dalam wadah dengan EC meter. pH optimum untuk suatu larutan nutisi agar dapat tersedia bagi tanaman adalah 5,5-6. Nutrisi atau Unsur Hara Tanaman paprika juga memerlukan unsur hara maktro dan mikro untuk pertumbuhanannya dan memberikan hasil panen yang baik. Jumlah unsur hara harus berada dalam keadaan cukup dan seimbang agar tingkat hasil tanaman yang diharapkan dapat tercapai. Pada saat ini, beberapa ahli telah memberikan rekomendasi pemberian nutrisi dalam setiap periode pertumbuhan tanaman paprika. Nutrisi untuk paprika sudah tersedia di pasaran dalam bentuk paket yang terdiri dari dua campuran pupuk yaitu A dan B sehingga sering disebut juga AB Mix. Campuran pupuk ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian A yang mengandung unsur Ca sedangkan bagian B mengandung unsur Sulfat dan Fosfat. Oleh karena itu bagian A dan B tidak boleh dicampur dalam keadaan larutan pekat karena ketiga unsur tersebut akan bersenyawa membentuk endapan,yang akan terjadi penyumbatan pada saluran irigasi. Disarikan oleh : Lasarus, Pusat Penyuluhan Pertanian. Sumber : 1. Nikardi G, dkk; 2006. Budidaya Tanaman Paprika ( Capsicum Annuum var.grossum) di dalam Rumah Plastik. Penerbit Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang. 2 Standar Prosedur Operasional (SOP) Paprika di Greenhouse, Budidaya Tanaman Sayuran & Biofarmaka, Ditjen Hortikultura, Deptan, 2006.