Loading...

Peran Penyuluh Dalam Hiliriasasi Inovasi Teknologi kepada Petani Lada

Peran Penyuluh Dalam Hiliriasasi Inovasi Teknologi kepada Petani Lada
Komoditas lada memberikan kontribusi yang besar untuk negara Indonesia dari sektor perkebunan. Saat ini hasil panen belum memperoleh hasil yang cukup menggembirakan petaninya. Rendahnya produktivtitas tanamann lada yang dimiliki oleh petani belum menyamai potensinya yang berada dalam kisaran 2-3 ton/ha. Rataan produktivitas tanaman lada yang dimiliki oleh petani 0,67 – 0,83 ton/ha. Tantangan besar lainnya adalah mutu lada yang dihasilkan dengan kecenderungan menurun. Permasalahan dalam meningkatkan produktivitas lada dan meningkatkan mutu harus dapat dipecahkan. Tujuannya adalah agar Indonesia dapat kembali menjadi negara penghasil lada terbesar di dunia. Apabila itu terjadi maka dampak langsung yang dirasakan petani lada adanya peningkatan keuntungan. Pertambahan keuntungan yang konstan dan terkelola dengan baik memberikan implikasi pada peningkatan kesejahteraan petani lada. Upaya memecahkan masalah membutuhkan keterlibatan pelaku usaha, intitusi, kebijakan dan petugas yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu petugas yang ada di Kementerian Pertanian yang memiliki tugas menyampaikan inovasi teknologi pertanian kepada masyarakat adalah penyuluh pertanian. Penyuluh memiliki peran dalam mengubah perilaku petani dalam berusaha tani sehingga usahatani yang dilakukan menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam melakukan hilirisasi inovasi teknologi lada, penyuluh pertanian memasifkannya kepada pengguna akhir. Proses diseminasi inovasi merupakan aktivitas penting sehingga terjadi adanya keputusan yang diambil petani untuk menggunakan teknologi yang baru. Indikator diseminasi inovasi pertanian adalah adopsi teknologi secara luas dan berkelanjutan. Hilirisasi inovasi teknologi komoditas lada dapat dikembangkan melalui tiga cara; (1) cara vertikal/top down; (2) cara horizontal; (3) cara transfer teknologi petani ke petani. Model vertikal, adalah diseminasi inovasi teknologi dilakukan secara langsung berdasarkan hasil penelitian. Proses diseminasi dilaksanakan berjenjang dari hasil penelitian kepada penyuluh. Berikutnya penyuluh mendiseminasikan kepada petani, Cara horizontal dilaksanakan dengan keterlibatan penyuluh. Hal ini dikenal dengan istilah training and visit system. Keterkaitan peneliti dengan dengan pengguna akhir dijembatani dengan adanya umpan balik kepada penelitian. Dalam cara ini memiliki kelemahan yaitu keterkaitan penyuluhan dan penelitian karena masih banyaknya petani pasif terhadap penemuan inovasi teknologi. Cara ketiga adalah dengan melakukan dengan pelibatan petani secara aktif untuk transfer teknologi petani ke petani. Dalam melakukan percepatan hilirisasi inovasi teknologi dilakukan secara spesifik lokasi. Spesifik lokasi dilakukan disebabkan belum meratanya informasi inovasi teknologi yang diterima oleh petani. Sistem informasi yang telah dilaksanakan hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh cara konvensional. Setidaknya dalam melaksanakan inovasi beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti: (1) karakteristik petani dalam memanfaat media komunikasi; (2) ketersediaan akses inovasi teknologi yang terhubung dengan penggunaan teknologi informasi; (3) sumber daya yang berhubungan dengan penggunaan SDMC; (4) tingkat akses media informasi berhubungan dengan bibit unggul. Penyuluh atau pemerintah daerah perlu menilai empat syarat agar difusi inovasi teknologi Lada dapat berhasil dengan baik di lokasi yang spesifik. Pertama, kebutuhan pengguna sebagai yang utama untuk inovasi teknologi yang ditawarkan. Kedua, pengguna yang menjadi sasaran inovasi diperhatikan sebagai dasar tetnologi yang ditawarkan. Ketiga, teknologi yang ditawarkan memiliki kemampuan bersaing dengan inovasi teknologi sejenis yang berada dilokasi. Keempat, Inovasi teknologi yang ditawarkan memiliki kelebihan keuntunggan yang tinggi dibandingkan inovasi teknologi sejenis yang berada di pasaran. Dengan inovasi teknologi yang dibutuhkan dan sesuai dengan harapan pengguna diharapkan inovasi teknologi lada dapat digunakan cepat oleh petani dan dirasakan manfaatnya. Penulis: Miskat Ramdhani/Penyuluh BBP2TP