Guna meningkatkan produktivitas, selain menggunakan benih unggul bermutu, petani juga didorong agar menggunakan perangkap likat kuning untuk mengendalikan hama."Perangkap likat kuning terbukti efektif mengurangi penggunaan pestisida karena mampu menangkap hama lebih cepat, murah dan pasti lebih ramah lingkungan,"Bawang putih (Allium sativum) merupakan tanaman sayuran yang banyak kegunaannya, antara lain sebagai bahan baku obat-obatan tradisional dan mengandung atsiri untuk kecantikan, di samping sebagai bumbu masakan bagi kalangan ibu-ibu rumah tangga. Permasalahan pada tanaman bawang putih adalah serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Jenis OPT pada tanaman bawang putih terdiri dari hama dan penyakit. Yang tergolong hama antara lain trips, tungau, ulat bawang, ulat tanah, ulat grayak dan lalat pengorok daun. Sedangkan yang tergolong penyakit adalah bercak ungu, mati ujung daun, busuk daun, karat daun, busuk lunak dan mati pucuk. Pengendalian OPT pada tanaman bawang putih dilakukan secara terpadu dengan menerapkan dua strategi, yaitu pre-empetif dan responsif. Strategi pengendalian pre-empetif adalah berdasarkan pada pemahaman terhadap OPT dari pengalaman sebelumnya interaksi antara OPT dengan tanaman dan lingkungan, literatur dan hasil penelitian dan diintergrasikan dengan teknik budidaya tanaman. Sedangkan strategi pengendalian responsif merupakan stategi yang didasarkan pada pemantauan terhadap tanaman, OPT dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi di musim tanam yang sedang berjalan. Perangkap likat kuning adalah perangkap untuk menangkap serangga yang terbuat dari plastik berwarna kuning yang dilapisi lem. Perangkat tersebut dibuat dari bahan-bahan yang relatif murah dan mudah didapat. Cara membuatnya gampang dan murah, cukup siapkan plastik berwarna kuning ukuran 15 x 21,5 cm yang dilapisi oleh plastik bening dan diolesi dengan lem tikus. Pasang dengan tiang ajir bambu. Satu hektar idealnya dipasang 40 perangkap," , penggunaan likat kuning bisa membantu mengurangi hama dan penggunaan pestisida. Setiap spesies serangga hama memiliki ketertarikan yang berbeda terhadap warna perangkap likat. Perangkap likat kuning efektif untuk menurunkan populasi lalat pengorok daun Liriomyza, lalat buah, kutu kebul, kutu daun dan thrips Perangkap likat yang terpasang pada area pertanaman bisa dijadikan sarana monitor populasi serangga hama. Ada beberapa, Ketua kelompok tani di Desa Sutopati Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang Bawang Putih Regek mengaku menggunakan likat kuning sangat membantunya menekan serangan hama. Pengalaman kami, penggunaan likat kuning bisa mengurangi penggunaan pestisida 10 hingga 20%. Dengan likat kuning, kami bisa tahu seberapa tingkat serangan hama khususnya kutu dan serangga. Dari situ kami bisa mengukur penggunaan pestisida yang wajar. Jadi tidak over dosis dan merusak lingkungan," pungkasnya Selain informasi tersebut bila penggunaan alat perangkat likat kaurang berhasil dilanjutkan kegiatan pengamatan rutin dengan tujuan untuk mengetahui adanya serangan OPT, tingkat perkembangannya dan keberadaan musuh alami. Pengamatan dapat dilakukan dengan memeriksa kondisi tanaman secara reguler dan pemasangan perangkap likat kuning atau biru. Perangkap likat kuning dapat digunakan untuk memantau hama Thrips sp dan Liriomyza sp. Bila hasil pengamatan menunjukkan adanya serangan hama yang sudah dianggap merugikan maka dapat dilakukan penyemprotan insektisida yang efektif. Jika menggunakan biopestisida dapat digunakan ekstrak : biji sirsak, bijisrikaya, biji buah nona atau daun Aglaia odorata dengan konsentrasi 2,5 g/liter air untuk mengendalikan pengorok daun (Lyriomyza sp). Mencabut tanaman yang terserang layu fusariu seawal mungkin sehingga tidak menular ke tanaman lain Bila cuaca hujan terus menerus atau kelembaban tinggi selama beberapa hari dapat dilakukan penyemprotan fungisida efektif untuk menekan penyakit-penyakit daun Pengelolaan pestisida Menghindari pencampuran bahan aktif pestisida dengan mengacu 6 tepat, kesesuaian nozzle yang digunakan dan rotasi bahan aktif pestisida. Demikian naskah ini saya buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Ditulis oleh : Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber : Balitbangtang dan Berbagai sumber media elektronik (Internet) lainnya Gambar : Dok. Kementan