Loading...

PERBAIKAN MUTU GENETIK DAN POPULASI SAPI MELALUI TE

PERBAIKAN MUTU GENETIK DAN POPULASI SAPI MELALUI TE
Daging sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Kebutuhan akan daging ini semakin hari semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kesadaran akan pentingnya gizi. Agar suplai kebutuhan daging dalam negeri terpenuhi, pemerintah telah melakukan berbagai upaya.Salah satu diantaranya melalui percepatan peningkatan populasi ternak dengan carabioteknologi Transfer embrio (TE).MANFAAT DAN KEUNGGULAN TETE merupakan metode alternatif yang lebih baik dan lebih cepat untuk mendukung tujuan penerapan teknologi Inseminasi Buatan (IB).Metode ini dikembangkan dalam usaha meningkatkan mutu genetik dan populasi ternak sapi di Indonesia. Adapun manfaat teknologi TEadalah: 1) Meningkatkan mutu genetik ternak; 2) Mempercepat peningkatan populasi ternak; 3) Berpotensi mencegah berjangkitnya penyakit hewan menular yang ditularkan lewat saluran kelamin; 4) Mempercepat pengenalan material genetik baru lewat ekspor embrio beku.Keunggulan teknologi TE dibandingkan inseminasi buatan adalah: a) Perbaikan mutu genetik pada IB hanya berasal dari pejantan unggul sedangkan dengan teknologi TE, sifat unggul dapat berasal dari pejantan dan induk yang unggul; 2) Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh derajat kemurnian genetik yang tinggi (purebred) dengan TE jauh lebih cepat dibandingkan IB dan kawin alam; 3) Dengan teknik TE, seekor betina unggul mampu menghasilkan lebih dari 20-30 ekor pedet unggul per tahun, sedangkan dengan IB, hanya dapat menghasilkan satu pedet per tahun; 4) Melalui teknik TE dimungkinkan terjadinya kebuntingan kembar, dengan jalan mentransfer setiap tanduk uterus (cornua uteri) dengan satu embrio. PELAKSANAAN TEKeberhasilan TE dipengaruhi oleh :kondisi sapi donor, sapi resipien, kualitas embrio yang dihasilkan dan pelaksanaan TEdari donor ke resipien.1. Seleksi Sapi Donor dan Sapi Resipien.Kriteriasapi donor: a) Memiliki genetik unggul; b) Memiliki kemampuan reproduksi; dan c) Keturunannya memiliki nilai pasar. Sapi resipien sebaiknya mempunyai umur yang masih muda terutama sapi dara (belum pernah bunting). Sapi resipien tidak harus mempunyai mutu genetik yang baik dan berasal dari bangsa yang sama, tetapi harus mempunyai organ dan siklus reproduksi normal, tidak pernah mengalami kesulitan melahirkan (distokia), sehat serta bebas dari infeksi saluran kelamin; 2.Super Ovulasi.Sapi merupakan ternak uniparous, dimana sel telur yang terovulasi setiap siklus birahi biasanya hanya satu buah. Dalam program TE, untuk merangsang terjadinya ovulasi ganda, maka diberikan hormon superovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar. Hormon yang banyak digunakan untuk rekayasa superovulasi adalah hormon gonadotropin seperti Pregnant Mares Serum Gonadotripin (PMSG) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH). Penyuntikan hormon gonadotropin akan meningkatkan perkembangan folikel pada ovarium (folikulogenesis) dan pematangan folikel sehingga diperoleh ovulasi sel telur yang lebih banyak. Hormon FSH mempunyai waktu paruh hidup dalam induk sapi antara 2-5 jam.Pemberian FSH dilakukan sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore hari selama 4 hari dengan dosis 28-50 mg (tergantung berat badan).Perlakuan superovulasi dilakukan pada hari ke sembilan sampai hari ke 14 setelah birahi.3.SinkronisasiBirahiadalah usaha mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan resipien.Umumnya menggunakan hormon prostaglandin F2a (PGF2a ) atau kombinasi hormon progesteron dengan PGF2a. Prosedur yang digunakan adalah : a) Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2a satu kali. Birahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan; b) Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2a dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari.Penyuntikan PGF2a pada ternak resipien harus dilakukan satu hari lebih awal daripada donor. Keadaan ini disebabkan karena pada ternak donor yang telah diberi hormon gonadotropin, birahi biasanya lebih cepat yaitu 36-60 jam setelah penyuntikan PGF2a, sedangkan pada resipien birahi biasanya timbul 48-96 jam setelah penyuntikan PGF2a . 4. IByang baik dilaksanakan 6 sampai 24 jam setelah timbulnya birahi. Birahi pada sapi ditandai oleh alat kelamin luar (vagina) berwarna merah, bengkak dan keluarnya lendir jernih serta tingkah laku sapi yang menaiki sapi lain atau diam apabila dinaiki sapi lain. Pada program TE, IB dilakukan dengan dosis ganda dimana satu straw semen beku biasanya mengandung 30 juta spermatozoa unggul. 5. Koleksi dan Transfer embrio, pada sapi donor dilakukan pada hari ke 7 sampai 8 setelah birahi. Sebelum dilakukan panen embrio, bagian vulva dan vagina dibersihkan dan disterilkan dengan menggunakan kapas yang mengandung alkohol 70%.Koleksi embrio dilakukan dengan menggunakan foley kateter dua jalur 16-20G steril (tergantung ukuran serviks).Pembilasan dilakukan dengan memasukkan medium flushing Modified Dulbeccos Phosphate Buffered Saline (M-PBS) yang telah dihangatkan di dalam water bath 37oC.Embrio yang didapat dari pembilasan bisa langsung ditransfer ke dalam sapi resipien atau dibekukan untuk disimpan dan ditransfer pada waktu lain. Klasifikasi embrio yang didapat pada pembilasan didasarkan pada penampilan umum morphologis dengan kriteria : 1) Kualitas embrio A (sangat baik). Stadium embrio sesuai dengan yang diantisipasi (morula, blastosis dini atau blastosis) tidak cacat, bentuk bundar spherical, ikatan blastomer erat dan kompak, bentuk simetris dan warna agak gelap; 2) Kualitas embrio B (baik).Stadium perkembangan 16-32 sel, tampak sedikit cacat seperti keluarnya salah satu blastomer dari ikatan dan bentuk asimetris; 3) Kualitas embrio C (cukup).Stadium perkembangan agak retarded satu sampai dua hari dari stadium yang diantisipasi (8-16 sel), cacat, beberapa blastomer keluar, ukuran blastomer tidak sama besar atau asimetris; 4) Kualitas embrio D (jelek) dan tidak layak di transfer.Embrio yang mengalami hambatan perkembangan parah (2-8 sel), embrio mengalami degenerasi seluler, ikatan-ikatan blastomer longgar sampai lepas atau ovum yang tidak terbuah (infertlized ova). 6. Transfer Embrio. Ada dua metode TE yaitu pembedahan dan tanpa pembedahan.Metode pembedahan dengan membuat sayatan di daerah perut (laparotomi) baik sayatan sisi (flank incici) atau sayatan pada garis tengah perut (midle incici).Metode tanpa pembedahan dengan memasukkan embrio kedalam straw kemudian ditransfer kedalam uterus resipien menggunakan cassoue gun insemination(Inang Sariati).Sumber :1. http://www.biotek.lipi.go.id/index.php/produk/37-Embrio2.http://sains.kompas.com/read/2012/08/22/19372668/Transfer.Embrio.Bantu.Perbanyak.Keturunan.Sapi3. https://www.google.co.id/search?tbm=isch&sa=1&q=transfer+embrio+pada+sapi&oq=transfer+embrio+pada+sapi