Loading...

Perbanyakan Alpokat Fuertindo Dengan Teknik Okulasi

Perbanyakan Alpokat Fuertindo Dengan Teknik Okulasi
Tanaman alpukat (Persea americana Mill.) merupakan tanaman introduksi, diduga berasal dari Amerika Tengah dan Guatemala yang dibawa ke Indonesia sekitar abad 18. Tanaman ini telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tanaman alpokat tidak menghendaki persyaratan iklim yang ekstrim sehingga hampir di seluruh kondisi iklim di Indonesia relatif sesuai untuk pertumbuhan tanaman alpokat. Namun demikian, di pulau Jawa, sebagian Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara masih mendominasi produksi alpokat dibandingkan daerah lain di Indonesia.Di Indonesia, buah alpukat belum mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena selain cara budidayanya masih bersifat tradisional, untuk mengonsumsi buah ini harus dicampur dengan bahan lain, misalnya ditambah susu/gula, dicampur es atau dibuat bahan olahan lain. Namun, jika dilihat potensi produksinya, buah alpukat Indonesia tergolong paling tinggi di Asia dan merupakan negara penghasil alpokat terbesar ketiga di dunia setelah Meksiko dan Amerika Serikat dengan total produksi terus mengalami kenaikan dari 224.278 ton pada tahun 2010 menjadi 306.450 ton pada tahun 2014.Keberhasilan pengembangan tanaman alpokat selain ditentukan oleh budidaya yang benar, juga ditentukan ketersediaan benih yang unggul. Benih tanaman alpukat dapat dihasilkan melalui perbanyakan secara generatif, vegetatif maupun kombinasi keduanya. Perbanyakan secara generatif, yaitu dengan biji umumnya untuk penyediaan batang bawah sebagai pendukung batang atas. Jika digunakan sebagai induk, tanaman asal biji akan menghasilkan pohon yang tinggi, masa produksi lama, dan menghasilkan buah yang beragam.Perbanyakan vegetatif pada alpokat dapat dilakukan secara okulasi (penempelan) dan grafting (penyambungan). Tanaman hasil perbanyakan secara vegetatif akan menghasilkan benih unggul dan akan berbuah sesuai dengan induknya. Berdasarkan pengalaman, cara perbanyakan secara penyambungan lebih disukai dan akan memberikan persen keberhasilan yang lebih tinggi, yaitu diatas 90% jika dibandingkan dengan penempelan.Perbanyakan tanaman alpukat Fuertindo dapat dilakukan secara okulasi dengan tingkat keberhasilan okulasi jadi mencapai 90%. Prinsip dasar keberhasilan dalam okulasi adalah pertautan yang rapat dan tepat antara kambium batang bawah dan batang atas yang disambung. Kambium adalah lapisan tipis yang tumbuh di antara kulit kayu (phloem) dan kayu (xylem), di mana keaktifan pertumbuhan terjadi. Faktor lain yang sangat berpengaruh untuk keberhasilan teknik okulasi dapat dipengaruhi oleh faktor tanaman dan faktor lingkungan.Penulis : Tedi Parmana, SP (PP. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merangin)Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/3572/