Pada umumnya pengembangan tanaman durian yang dilakukan oleh petani secara generatif (dari biji), sehingga menyebabkan fase vegetatif tanaman lebih panjang (sekitar 7-10 tahun lebih) baru memasuki masa produksi. Hal tersebut merupakan salah satu kendala dalam produktivitas dan mutu buah durian yang dihasilkan. Namun dengan kemajuan teknologi, kendala tersebut dapat diatasi dengan menggunakan cara sambung pucuk. Sambung pucuk durian merupakan perbanyakan tanaman gabungan antara perbanyakan secara generatif (dari persemaian biji) dengan salah satu bagian vegetatif (cabang/ranting) yang berasal dari tanaman lain.Kegiatan sambung pucuk tanaman durian kerap digunakan dengan menggabungkan batang bawah dan batang atas. Batang bawah diharapkan menjadi batang yang tahan terhadap patogen tanah dan kokoh sedangkan batang atas merupakan bagian yang memilki karakter produksi durian yang diinginkan. Batang bawah biasanya dipakai dari tanaman durian yang tumbuh dari biji sehingga perakarannya lebih kuat.Langkah kerja dalam perbanyakan benih bibit durian dengan sambung pucuk, adalah sebagai berikut :1. Semaian Batang BawahPembibitan batang bawah sebaiknya dilakukan pada saat musim buah durian, karena biji tanaman ini tidak mempunyai masa dorman dan bersifat rekalsitran ( tidak tahan kering. Urutan kerja dalam mempersiapkan persemaian dan pendederan biji tersebut adalah : a. Siapkan benih yang dari durian matang, dipilih biji yang ukurannya sedang. Bersihkan dari sisa daging buah yang melekat pada biji. Hindari terpaan sinar matahari langsung.b. Buat bedengan persemaian/pendederan. Semai biji dengan membenamkannya ke dalam tanah pada posisi pusar ( hilum ) menghadap ke bawah. Tekan dan tutup dengan tanah.c. Beri perlakukan fungisida untuk menghidari serangan jamur dan perlakuan insektisida butiran untuk mencegah serangan serangga.d. Buat naungan kolektif untuk bedengan pendederan benih selama satu bulan.e. Setelah bibit berumur sekitar satu bulan, dilakukan seleksi, dan akar yang terlalu panjang dipotong, disesuaikan dengan ukuran kantong plastik yang digunakan. f. Bibit dipindahkan ke kantong plastik (polibag) ukuran 18x12 cm, yang berisi media tumbuh tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. g. Kantong plastik diletakkan pada tempat yang terlindung atau naungan lebih kurang 60%. Pemeliharaan pada kantong plastik tersebut berlangsung kira-kira satu bulan, sehingga setelah bibit berumur dua bulan sambungan pucuk sudah dapat dilakukan.2. Tunas SambungTunas sambung berupa pucuk, hendaknya diperoleh dari cabang yang dorman (istirahat) dari pohon induk terpilih, dengan langkah-langkah sebagai berikut :a. Tetapkan pohon induk durian sebagai sumber mata tunas. Pohon induk sebaiknya dipangkas kira-kira empat bulan sebelum pengambilan entris agar diperoleh mata tunas sambungan dalam jumlah banyak dan bermutu. b. Pilih tunas pucuk dari ranting yang tegak sampai miring 45o dan tangkai pucuk bernas sepanjang 12 cm. Tangkai daun segera di potong, dengan menyisakan tiga helai daun ( satu pasang ditambah satu daun pada bagian ujung ). Daun-daun tersebut selanjutnya dipotong dengan menyisakan masing-masing seperti bagian helai daun. c. Jika menggunakan pucuk yang tidak dorman, maka pilih ranting yang lebih panjang, karena bagian pucuk yang tidak dorman harus dipotong, selanjutnya beri perlakuan yang sama pada ranting yang dorman tersebut diatas. d. Ranting tunas sambung dapat disimpan maksimal 4-5 jam, dengan penyimpanan yang baik menggunakan pisang atau dikemas dalam kardus yang dilapisi kertas koran basah.3. Kegiatan Penyambungana. Persiapkan alat dan bahan-bahan yang diperlukan, yaitu pisau Cutter berukuran lebar 1 cm, plastik pengikat berupa plastik kemasan es lilin, dengan ketebalan 0,003 mm, diiris dengan ukuran lebar 1 cm, panjang sesuai kebutuhan. b. Potong semaian batang bawah bekas atau dibawah kotiledon, buat celah dan masukkan tunas sambung yang telah diruncing ( bentuk V ), ikat dengan lembaran plastik pengikat yang telah disiapkan. Upayakan tidak ada celah antara tunas sambung dengan batang bawah untuk mencegah masukknya air dan penyakit pada bekas perlukaan tersebut, yang dapat menggagalkan pertautan antara tunas sambung dengan batang bawah.c. Kegiatan penyambungan dilakukan dibawah naungan 50 sampai 60 %. dengan ketinggian sebatas orang bisa berjalan yang diperlukan oleh pelaksana. 4. Pemeliharaan BibitBibit sambungan dipelihara dibawah sungkup plastik dan naungan 50% sampai 60%, untuk mempertahankan kelembaban, segera setelah penyambungan dilakukan. Tanah alas penempatan bibit sambungan ditaburi kapur tembok sebagai tindakan menetralisir pH tanah dan pencegahan penyakit cendawan. Langkah-langkah pemeliharaan bibit durian sambungan adalah :a. Penyemprotan fungisida pada bibit yang telah memenuhi sungkup, kemudian ditutup rapat. b. Pengamatan pertama terhadap kemungkinan serangan jamur dilakukan pada hari ketiga, dan jika ditemukan gejala serangan, ulangi penyemprotan fungisida pada pagi atau sore hari. c. Ulangi pengamatan ( pengamatan kedua ), empat hari kemudian. Semprot seluruh persemaian jika ditemukan adanya gejala-gejala serangan jamur. Pengamatan gejala serangan penyakit dan penyemprotan fungisida dilakukan berulang kali dengan interval empat hari, sampai bibit sambungan mencapai umur 14 hari, sebagai batas fase kritis serangan penyakit jamur yang dapat menyerang bibit. d. Penempatan bibit sambungan dalam sungkup berlangsung selama satu bulan. Selama bibit dalam sungkup, tidak dilakukan penyiraman karena kelembaban cukup tinggi dan penyiraman dapat memicu serangan penyakit, terutama jamur.5. Kegiatan LanjutanKegiatan lanjutan merupakan kegiatan yang dilakukan setelah sungkup dibuka yang meliputi :a. Penyiraman bibit seperlunya saja, untuk menghindari serangan penyakit jamur. b. Seleksi benih dengan memisahkan bibit sambungan jadi dengan sambungan yang gagal atau mati. c. Penyiangan dengan mencabut gulma yang tumbuh pada kantong plastik. d. Pemindahan bibit sambungan ke kantong plastik yang berukuran lebih besar ( misalnya 20x25 cm; 20x30 cm); menggunakan media tanah campur pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1; dan dicampur pula dengan furadan, kapur pertanian, dan pupuk SP-36 seperlunya. Dan dilakukan pemasangan ajir bambu.e. Kegiatan penyiraman tanaman, penyemprotan fungisida, serta penjarangan naungan tetap dilakukan secara bertahap, sampai bibit siap ditanam di lapangan.Penulis : Verena Saptorini HM, S.PPenyuluh Pertanian PertamaDinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo