Pisang merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mendapat prioritas untuk diteliti dan dikembangkan karena sangat potensial dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam negeri ataupun eksport. Diantara buah-buahan pisang menduduki posisi tertinggi, baik dalam segi luas areal ataupun kapasitas produksinya.Buah pisang kandungan gizinya cukup tinggi, yang meliputi karbohidrat, gula, protein, lemak, vitamin A,B,dan C serta garam-garam mineral. Pada buah yang masih mentah ,tetapi telah tua benar, kandungan karbohidrat antara 15 – 30 % tergantung pada varietasnya. Setelah buah matang baik dari pohon atau diperam, kandungan karbohidrat turun tajam antara 1,5 – 15 %, dan kandungan gula meningkat dari 6 – 19 %., kandungan protein hanya 1,2 %. Setiap tahun produksi pisang secara keseluruhan mampu menyediakan 13.000 – 27.000 ton protein.Dengan perkembangan industri pengolahan hasil dewasa ini dan pertambahan penduduk yang begitu pesat, permintaan terhadap komoditas pisang diperkirakan cukup tinggi.Pada tahun 1942, Indonesia terkenal sebagai negara pengeksport pisang, tetapi kini tidak terjadi lagi walaupun peluang untuk itu besar. Hal ini dikarenakan kontinuitas dan kualitas produksi pisang di Indonesia tidak memenuhi standar sesuai dengan persyaratan dunia.Dari berbagai jenis pisang yang ditanam di Indonesia, pisang Ambon (AAA group) menduduki tempat terpenting. Kelebihan pisang ini adalah buahnya pulen, rasanya manis, aromanya harum dan penempilan buahnya menarik. Sedangkan kekurangan adalah kulit buahnya lemah (mudah rusak) dan peka terhadap serangan hama dan penyakit. Selain pisang Ambon, pisang emas diperkirakan memiliki prospek pasar yang cerah untuk di eksport ke Korea Selatan dan Hongkong. Sedangkan untuk pisang-pisang yang termasuk balbisiana (pembawa genom B) seperti pisang Kepok ( ABB), pisang Raja (AAB), pisang Batu (BB) merupakan jenis-jenis pisang yang tahan terhadap hama dan penyakit dan kekeringan. Dilihat dari jumlah kromosomnya pisang Ambon, pisang Kepok termasuk tanaman triploid yaitu mempunyai 3 set kromosom (3 n =33) sedangkan pisang Batu dan pisang Emas termasuk diploid. Tanaman triploid dan pada umumnya tanaman yang mempunyai jumlah kromosom ganjil mempunyai gamet jantan maupun betina dengan steril besar. Untuk itu perbanyakan dan pemulian tanaman pisang ini dengan vegetatif salah satunya melalui kultur haploid (kultur anther).Walaupun secara nominal nilainya kecil, tetapi benih memegang peranan yang sangat penting dalam usahatani buah-buahan, karena baik atau tidaknya benih yang digunakan sangat menentukan produksi tanaman.Dalam budidaya tanaman pisang, benih bisa diperoleh dari tunas anakan, bonggol dan bit yang diperbanyak secara konvensional mau-pun kultur jaringan. Perbanyakan tanaman pisang secara kultur meristem (in- vitro) membutuhkan investasi biaya yang cukup besar dan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang bermodal besar. Karena itu, harga materi tanaman hasil perbanyakan in vitro kadang kala tidak terjangkau oleh petani bermodal kecil. Dengan sedikit sentuhan teknologi sederhana para petani tersebut dapat memproduksi materi tanaman sendiri dari materi induk yang telah dimiliki.Tanaman yang dipilih sebagai pohon induk bisa berupa rumpun dewasa yang sudah berbuah dan menghasilkan anakan atau tanaman hasil kultur jaringan yang bonggolnya sudah berdiameter minimal15cm. Yang penting tanaman harus sehat dan bebas dari hama dan penyakit. Sumber : - Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia Lainnya , Bogor Ditulis oleh : Mariyenie, SP (Penyuluh Pertanian BP3K Rungan)