Pisang (Musa sp.) merupakan tanaman tropis yang sangat populer. Buahnya digemari dan telah dikirimkan ke berbagai belahan dunia. Indonesia memiliki keanekaragaman buah pisang yang tinggi. Setidaknya terdapat beberapa varietas buah pisang unggulan yang membanjiri pasar-pasar lokal maupun ekspor. Buah pisang merupakan buah yang kaya akan kandungan vitamin, kalsium protein, mineral, lemak, maupun zat besi. Selain itu kandungan asam triptophan yang tinggi sangat efektif untuk meredakan gejala stress. Banyaknya manfaat dan keuntungan yang dapat diperoleh pada buah pisang membuat konsumsi buah pisang semakin hari semakin meningkat. Selain itu faktor harga yang relatif stabil di pasaran membuat banyak petani saat ini yang beralih untuk tanam pisang. Salah satu faktor penentu berhasil tidaknya suatu usaha budidaya tanaman adalah ketersediaan bibit yang berkualitas. Termasuk dalam usaha budidaya tanaman pisang, bibit pisang yang memiliki kualitas baik berpeluang untuk menghasilkan buah pisang yang baik pula, baik kualitas maupun kuantitasnya. Kriteria bibit pisang berkualitas yaitu bibit yang berasal dari indukan yang sehat, bebas dari hama dan penyakit. Ada banyak sekali varietas pisang di Indonesia, untuk menentukan jenis atau varietas yang ingin dibudidayakan sesuaikan dengan permintaan pasar setempat atau sesuai keinginan anda. Tanaman pisang diperbanyak secara vegetatif, yaitu dengan memanfaatkan tunas, anakan, bonggol maupun bit. Cara Perbanyakan Tunas Tanaman Pisang dengan Metode Bit (Bonggol) Metode Bit adalah bonggol yang diambil dari benih indukan yang sudah terbukti produktifitasnya (bibit yang sudah berdaun pedang). Anakan diambill dari bonggol indukan dengan cara dibersihkan diambil dari bonggol indukan semua yang menempel seperti akar, dan lapisan kulit terluar dikikis habis untuk memastikan bongol tidak mengandung pathogen yang berasal dari tanah. Bonggol dibersihkan dari akar dan tanah yang menempel, kemudian dipotong 1 cm diatas leher bonggol. Pada titik tumbuh di pusat bonggol dikorek dengan lebar dan dalam ± 3 cm menggunakan pisau yang runcing. Dengan dirusaknya epitel meristem bonggol yang akan dijadikan induk berumur 2-3 bulan akan muncul akar baru, dengan cara bonggol direndam dengan ZPT organik ditambah air sebanyak 1 liter. Perendaman bonggol dengan ZPT organik dilakukan selama 24 jam. Setelah dilakukan perendaman bongol selama 24 jam maka muncul calon/bakal akar yang baru yang diikuti oleh mata tunas-tunas baru. Kemudian bonggol yang sudah memiliki mata tunas baru ditanam di polybag atau di lahan. Bonggol yang digunakan sebaiknya berasal dari tanaman yang sudah diuji produktivitasnya, berdaun pedang (tinggai 41-100 cm), daunnya berbentuk pedang dengan ujung runcing. Perendaman dengan ZPT organik untuk merangsang tumbuhnya anakan. Untuk membuat ZPT organik dapat dilakukan sendiri karena bahannya mudah didapatkan dan cara membuatnya juga sederhana, dengan cara: 10-15 siung bawang merah diblender hingga halus, selanjutnya ditambahkan air bersih sebanyak 1 liter dan diaduk hingga rata. Larutan yang terbentuk disaring agar terpisah dari ampasnya. ZPT organik ini siap untuk digunakan. Perbanyakan tunas dengan metode bit (bonggol) berbeda dengan perbanyakan tunas dengan system kultur jaringan, dimana kultur jaringan prosesnya akan membutuhkan biaya yang mahal, waktu yang lama dan ukuran pertumbuhannya juga sangat kecil, sementara perbanyakan dengan bonggol dalam waktu 2-3 bulan ukurannya sudah besar. Mulai dari persiapan benih sampai tanam di lapangan diperlukan Beda dengan bibit kultur jaringan, dimana proses lama dan tumbuh sangat kecil, sementara perbanyakan dengan metoda bit (bonggol) mulai dari persiapan benih sampai tanam di lapangan memerlukan waktu hanya 2-3 bulan dan tunas baru yang dihasilkan ukuran besar. Kulutru jaringan bisa murah bila dalam banyak, tetapi waktu relatif lama. Susi Deliana Siregar Daftar Pustaka: Budidaya Pisang, 2008. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Bogor.