Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua dari bagian pohonnya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna, terutama bagi masyarakat pesisir. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan oleh tumbuhan ini.Menurut Dirjenbun Luas areal tanaman kelapa rakyat di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 3.786.063 ha dengan produksi 3.176.078 ton kopra dan tersebar di 33 provinsi. Indonesia merupakan negara produsen kelapa/kopra terbesar kedua dunia setelah Filipina. Arti penting kelapa bagi masyarakat juga tercermin dari luasnya areal perkebunan rakyat yang mencapai 98% dari 3,89 juta ha total areal kelapa serta melibatkan lebih dari 7,13 juta rumah tangga petani. Ekspor komoditas kelapa mencapai US$ 288,47 juta dengan volume 714.160 ton pada tahun 2004. Namun, pemahaman terhadap peran ekonomi kelapa secara nasional tampak masih bias, sehingga kelapa sering dianggap sebagai komoditas sunset. Bias ini timbul karena peran suatu komoditas hanya diukur dari kontribusi terhadap perolehan devisa dan peranannya secara nasional, tanpa memperhatikan peranannya dalam ekonomi rumah tangga, sosial budaya masyarakat, serta perekonomian pedesaan. Dengan tingkat produktivitas rata-rata 4.500 butir/ha/tahun atau 17,19 miliar butir/tahun dan harga kopra Rp2,4 juta/ton, aliran uang ke pedesaan melalui komoditas ini minimal mencapai Rp 9,168 triliun/tahun hanya dari nilai kopra. Dalam rencana kegiatan penanganan agribisnis kelapa nasional, Direktorat Jenderal Perkebunan memprogramkan untuk melaksanakan peremajaan kelapa seluas 100.000 ha/tahun. Secara nasional, proporsi tanaman tidak menghasilkan (TTM) atau tanaman rusak (TR) sampai tahun 2005 mencapai 9,77% dari total areal kelapa 3,79 juta ha atau setara 370.000 ha. Angka ini akan bertambah terus apabila petani tidak dapat meremajakan kelapanya. Salah satu penyebab rendahnya pendapatan petani kelapa adalah tanaman kelapa yang dimiliki petani tidak produktif karena sudah tua atau rusak. Dengan tingkat produktivitas 1,0 ton kopra/ha/tahun, pemilikan 1,0 ha/KK, dan harga kopra Rp2.400/kg, pendapatan kotor hanya mencapai Rp2,4 juta/ha/tahun. Kebutuhan kelapa di masa datang, baik secara nasional maupun internasional, diperkirakan akan meningkat tajam karena isu kesehatan, peningkatan penduduk, dan penggunaan minyak nabati untuk biodiesel. Di sisi lain, sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan di negara-negara produsen kelapa, lahan untuk pengembangan areal kelapa menjadi makin terbatas karena akan diprioritaskan untuk produksi tanaman pangan. Berdasarkan situasi tersebut, peluang pengembangan areal kelapa makin terbatas, sehingga alternatif yang dinilai layak untuk merevitalisasi perkelapaan adalah meremajakan kelapa yang sudah tua. Jika setiap tahun dilakukan peremajaan 7,5% dari total tanaman tua, maka kebutuhan benih mencapai 5,55 juta butir/tahun (200 butir benih/ha) untuk luasan 27.750 ha. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi tebang bertahap dengan tetap memperhatikan kemungkinan kehilangan pendapatan karena sebagian kelapa secara bertahap di ganti dengan kelapa unggul. Pendapatan petani dalam jangka pendek dapat diperoleh melalui intensifikasi tanaman kelapa yang tersisa dan melakukan diversifikasi baik horizontal maupun vertikal.Tanaman kelapa diremajakan jika telah berumur > 60 tahun. Peremajaan juga dilakukan pada pohon kelapa yang berumur Metode tebang bertahap sebesar 20% per tahun merupakan alternatif paling tepat untuk diterapkan ditinjau dari segi agronomis dan pendapatan petani. Metode peremajaan kelapa tebang bertahap dapat dilakukan sambil menerapkan jarak tanam baru, yaitu 6 m x 16 m sistem pagar, sehingga memungkinkan pengusahaan tanaman sela di antara kelapa. Dengan demikian pendapatan petani tidak terputus, karena selain buah kelapa dari pohon yang belum ditebang, juga dari produksi tanaman sela.Jika pada saat pertanaman kelapa pengganti populasi kelapa tua tinggal 80%, berarti penebangan baru dimulai tahun ke-2, kecuali tanaman yang dekat dengan tanaman pengganti. Jika populasi hanya 70%, berarti penebangan tahun ke-2 hanya 10 % dan seterusnya hingga pada tahun ke-5 penebangan selesai dilaksanakan.Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP)Alamat Email : harnati_r@yahoo.comSumber Bacaan :1. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Statistik Perkebunan Indonesia 2003-2005 Kelapa. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.2. Dedi Soleh Effendi. 2008. Strategi Kebijakan Peremajaan Kelapa Rakyat. Pengembangan Inovasi Pertanian 1 (4), 2008 : 288-297. Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain. Manado 3. Sumber gambar berasal dari sweet coconut, orange coconut.