Tanaman kelapa rakyat di Indonesia 70% sudah melewati puncak produktivitasnya atau melebihi umur 60 tahun. Sedangkan permintaan minyak dan produksi kelapa cukup tinggi. Jika did tiap hektare kebun kelapa terdapat kurang lebih 100 batang tanaman kelapa, maka terdapat kurang lebih 266 juta tanaman kelapa yang perlu diremajakan. Program peremajaan tanaman kelapa sangat dibutuhkan di tempat – tempat penghasil kelapa, seperti Riau, Jawa Timur, Sulawei Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dll. Ada tiga tantangan yang dihadapi oleh program peremajaan kelapa nasional. Pertama, sumber daya manusia, dibutuhkan sumber daya yang cukup banyak untuk melakukan peremajaan kelapa. Kedua, bagaimana meyakinkan petani agar bersedia menebang tanaman kelapanya yang tidak produktif tersebut. Hal ini dapat diatasi dengan cara memberikan bibit secara gratis, atau petani dapat membeli dengan harga subsidi. Ketiga, bagaimana memberikan pendapatan alternatif bagi petani dalam masa jeda produksi akibat penebangan tanaman tua dan peremajaan tersebut. Persoalan ini dapat diatasi dengan mendorong petani untuk menanam tanaman sela di perkebunan kelapa mereka. Program peremajaan kelapa yang dilakukan secara nasional akan bermanfaat ganda. Tidak hanya menyelamatkan industri kelapa dalam jangka panjang, tetapi juga memproteksi pasar domestik / mencegah impor kelapa. Sebuah ironi sebagai negara penghasil kelapa terbesar, namun mengimpor produk kelapa turunan. Manfaat lain dari peremajaan ini adalah munculnya industri kayu hasil tebangan tanaman kelapa tua. Jika diasumsikan rata-rata setiap batang sepanjang 10 meter dan diameter kayu yang dapat dipakai sepanjang 20 cm, maka terdapat volume total kayu kelapa sebesar 83 juta kubik. Suatu jumlah yang sangat besar dan potensi pendapatan yang sangat besar pula. Jika harga kayu kelapa mentah dipasaran saat ini adalah Rp. 1,5 juta per kubik maka dapat dihitung berapa potensi pendapatan dari progra permajaan ini. Apalagi jika kayu-kayu tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah lebih seperti flooring atau lantai kayu. Balitbangtan Kementerian Pertanian telah mengeluarkan juknis tanaman kelapa dalam mendukung peremajaan kelapa, terutama dalam penyiapan benihnya. Berikut adalah spesifikasi benih kelapa yang akan digunakan dalam pembangunan kebun induk benih kelapa: 1. berasal dari benih sumber, yaitu benih yang terdiri atas tiga kelas, yaitu benih penjenis (breeder seed/bs), benih dasar (foundation seed/fs/bd) dan benih pokok (stock seed/ss/bp). bs adalah benih sumber yang diproduksi dan dikendalikan langsung oleh pemulia (breeder) yang menemukan atau diberi kewenangan untuk mengembangkan varietas tersebut. bs kelapa dikelola oleh upbs di balai penelitian palma. untuk sertifikasi benih ini dicirikan dengan label berwarna putih yang ditandatangani oleh pemulia dan kepala institusi penyelengaara pemuliaan tersebut.2. berasal dari sumber benih (blok penghasil tinggi dan pohon induk terpilih) yang telah ditetapkan melalui keputusan direktur jenderal perkebunan atau kepala dinas perkebunan provinsi. Penulis: Nanik Anggoro P, SP, M.Si / Penyuluh Pertanian BBP2TPEmail : nanik.anggoro@gmail.comSumber: Juknis Tanaman Kelapa Dalam Balitpalma 2017, Save The Tree of Life oleh Mawardin dan Aditya K 2015.