Loading...

PERKEMBANGAN COKELAT INDONESIA (1)

PERKEMBANGAN COKELAT INDONESIA (1)
Cokelat Indonesia masih dihargai dengan nilai rendah di pasar luar negeri, karena mutunya yang masih terlalu rendah dibandingkan beberapa produsen lain seperti Pantai Gading, Brazil, Ghana, dan Malaysia. Sampai saat ini, cokelat Indonesia masih menghadapi kemelut mutu rendah tersebut. Perkembangan sebelum 1965: Menurun. Meskipun bukan merupakan daerah asal cokelat, namun sejak lebih dari seabad lalu Indonesia telah tercatat sebagai pengekspor komoditas ini. Sejak tahun 1820 komoditas yang didatangkan pertama kali ke daerah Sulawesi Utara pda tahun 1560-an oleh bangsa Spanyol ini mulai diekspor ke Manila, Filipina. Sayangnya pada akhir ekspor kakao dari Manado dihentikan sebelum masa Perang Dunia Kedua, karena menurunnya produksi akibat serangan penyakit. Perkembangan cokelat di Indonesia hingga akhir abad ke-19 memang cukup meyakinkan. Di Jawa kemunduran bisnis kopi karena penyakit karat daun cukup berpengaruh bagi dimulainya penanaman cokelat, yang mula-mula dilakukan di Jawa Tengah, kemudian diikuti oleh Jawa Timur dan Jawa Barat. Meskipun demikian, sebagian besar penanaman cokelat di pulau Jawa sebelum perang Dunia kedua di Semarang, Surakarta, dan Pekalongan. Penelitian-penelitian tentang cokelat seperti pemuliaan, polinasi, pengendalian hama dan penyakit, dan berbagai aspek budidaya lainnya pada masa itu juga telah membantu perkembangan cokelat di Indonesia. Hal yang menggembirkan, beberapa penemuan penting justru telah lebih dahulu diterapkan di Indonesia sebelum diikuti negara lain. Misalnya, penggunan parasit untuk mengendalikan pod borer yang bru diintroduksikan beberapa tahun lalu ke Filipina dan Malaysia, tetapi telah dicoba di pulau Jawa sejak dulu kala. Meskipun banyak penemuan penting yang telah dilakukan, produksi cokelat justru banyak menurun pada abd ke-20. Penurunan ini lebih banyak disebabkan oleh meluasnya penanaman karet, terutama di pulau Jawa. Meskipun kemudian dikembangkan kembali, namun hebatnya serangan pod borer dan kepik Helopelthis sp. telah membatasi pengembangannya. Situasi poliik Indonesia era 1950-an hingga awal 1960-an (dan nasionalisasi) juga menempatkan industri perkebunan yang tanggungjawabnya diserahkan kepada orang-orang yang sama sekali kurang berpengalaman. Pertikaian diantara partai-partai dan kelompok politik juga telah memeperbesar kerugian, karena masing-masing kelompok berusaha menekan tanaman yang dapat memberikan bantuan ekonomi kepada kelompok manapun. Perkembangan tahun 1965-1989: Mulai membaik. Pada masa pemerintahan orde baru, usaha perbaikan ekonomi masyarakat pada akhirnya juga mempengaruhi kondisi perkebunan Indonesia. Kebijakan mengenai keterbukaan di bidang ekonomi telah memungkinkan kembalinya sejumlah kelompok perkebunan multinasional dan mengalirnya bantuan keuangan dari badan-badan keuangan dunia (khususnya Bank Dunia), termasuk bantuan teknis dalam manajemen dan budidaya perkebunan. Namun sangat mengherankan, tidak ada pinjaman dari badan dunia yang semata-mata untuk mengembangkan perkebunan cokelat, kecuali pinjaman dari Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk PTP XXIII, yaitu proyek PIR cokelat di Sulawesi Tenggara (yang pembangunannya telah dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya), kita hanya menemukan beberapa perkebunan cokelat yang terlibat dalam projek tersebut. Meskipun hampir tidak ada pinjaman luar negeri untuk cokelat rakyat dan PTP (BUMN perkebunan), kondisi PTP dan kondisi ekonomi dalam negeri yang membaik telah memeberi semangat besr bagi usaha penanaman cokelat. Apalagi harga cokelat pada tahun 1970-an mengalami peningkatan yang berarti. Jumlah penanaman baru mencapai puncak pada tahun 1987-1989, yakni terjadi lonjakan dari 29.995 ha pada tahun 1986 menjadi 38.391 ha pada tahun 1987 dan 53.137 ha pada tahun 1988. (Penulis: Nanik Anggoro P/ Penyuluh Pertama BBP2TP Sumber: Seri Budidaya Tanaman; Pedoman Bertanam Coklat, penulis Yrama Widya, Tim Bina Karya Tani)