Kayu manis dapat diperbanyak secara generatif menggunakan biji atau secara vegetatif menggunakan tunas, anakan atau cangkokan.A. Pemilihan Pohon induk. Pohon induk yang baik adalah pohon induk yang sudah berumur lebih dari 10 tahun, jumlah cabangnya sedikit, kulitnya tebal, pertumbuhannya cepat, kanopinya seimbang, tidak diserang hama penyakit, aroma kulitnya baik, dan mempunyai kadar minyak atsiri dan sinemaldehid yang tinggi. Disamping itu pohon induk bukan berasal dari daerah penyebaran penyakit, dan sebaiknya pohon yang terpilih berasal dari blok penghasil tinggi.B. Penyiapan Benih Tanaman1. Pengadaan bahan tanamana. Perbanyakan melalui tunasPohon yang ditebang saat panen, dari tunggul bekas tebangan tersebut akan tumbuh tunas baru. Apabila pohon yang ditebang berkualitas baik, tunas tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber benih, dengan cara membumbun tunas-tunas baru. Setelah berakar, tunas dipotong dari pohon utama dan tunas sudah tumbuh mandiri. Waktu pemindahan ke lapangan, dilakukan setelah berumur 1 tahun setelah pemotongan. Cara memindahkan tunas yaitu dengan misahkan tunas dari batang pokok/tunggak, dan usahakan agar akar tidak rusak sewaktu memindahkan tunas. b. Perbanyakan melalui cangkokPerbanyakan melalui cangkok banyak dilakukan oleh peneliti untuk mengoleksi plasma nutfah kayu manis, karena benih yang dihasilkan persis sama dengan tanaman asalnya. Pencakokan dilakukan pada cabang yang tumbuh ke atas (cabang authotrop) yang tidak terlalu muda/tua, dengan diameter batang sekitar 2 cm. 2. Pesemaiana. Persiapan dan pelaksanaan pesemaianBiji kayu manis yang digunakan harus cukup tua, yaitu sudah berwarna hitam kebiruan atau secara fisiologis telah masak dan diambil dari pohon induk terpilih. Bila buah belum cukup masak, daya kecambahnya hanya mencapai 55%. Biji tersebut kemudian disemaikan pada bedengan pembibitan. Ukuran bedengan adalah lebar 1-1,2 m, dengan panjang sesuai kebutuhan, atau ditanam langsung ke dalam kanatong plastik (ukuran 18 x 25 cm) yang telah diisi campuran tanah dan pupuk organik.Lokasi pembibitan dipilih sedekat mungkin dengan sumber air untuk penyiraman, dekat jalan untuk memudahkan transportasi dan tidak terlalu jauh dari daerah pengembangan. Jika menggunakan bedengan, bedengan, setelah dibersihkan dari rumput-rumputan , tanah dicangkul dan digemburkan, ditinggikan agar air lebih mudah mengalir keluar dan masuk parit drainase. Posisi titik tumbuh (embrio) berada di bawah, biji ditanam dengan menekan sekurang kurangnya ¾ bagian biji masuk ke dalam tanah. Biji jangan terlalu dalam (>3cm) di bawah permukaan tanah. Jarak tanam biji cukup 10 x 10 cm. Agar kelembaban udara dapat dipertahankan sekitar 80-90 % , maka bedengan diberi naungan dengan atap alang-alang atau rumbia. Posisi miring ke arah barat agar sinar matahari pagi lebih banyak masuk atau sinar matahari sore lebih sedikit. Diatas tanah bedengan dipasang mulsa atau sungkup plastik. Setelah 6-8 minggu benih akan bertunas dan tumbuh menghasilkan 3-4 pasang daun. Selanjutnya benih tersebut dipindahkan ke dalam pot plastik (polybag) yang telah diisi campuran tanah dan pupuk organik (pupuk kandang) atau kompos) . Selanjutnya benih dipelihara dan masih perlu dinaungi dengan intensitas pencahayaan secara bertahap dinaikkan sampai umur 6-8 bulan agar siap untuk ditanam. Biji kayu manis tergolong rekalsitran, sehingga penyimpanan benih harus dalam kondisi lembab dengan menggunakan bahan pelembab (serbuk gergaji) yang dibasahi. Baik dalam suhu ruang dan suhu AC. Sampai hari ke tujuh, biji masih memperlihatkan daya kecambah dan vigor kecambah yang tinggi (84-88% dan 55-60%).b. Pemeliharaan benihPemeliharaan benih meliputi penyiraman yang teratur agar tidak kekeringan. Apabila pertumbuhan benih terlihat lambat, maka perlu dipupuk dengan pupuk daun. Sesuai dengan pertambahan umur benih, naugan semakin dikurangi, sehingga tinggal 50% untuk adaptasi di lapangan. Setelah benih berumur 6 bulan, dengan tinggi tanaman antara 60-80 cm, benih sudah dapat ditanam di lapangan. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP, Jakarta).Sumber: Pedoman Teknis Budidaya Kayumanis. Departeman Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta. 2008.