Buah naga (Hylocerous undatus sp) termasuk famili tanaman kaktus dan mulai populer di Indonesia sejak tahun 2000an dan semakin berkembang sampai saat ini. Namun harga buah naga masih dinilai mahal oleh masyarakat luas. Dengan demikian, buah naga masih mempunyai peluang pasar yang luas dan siapapun dapat melakukan budidaya sendiri, karena tanaman buah naga mudah dibudidayakan dan dapat dilakukan di lahan yang sempit misalnya di pekarangan sendiri. Dalam budidaya buah naga perlu dilakukan persiapan yang meliputi: memilih lokasi, pembuatan tiang penompang, pengolahan tanah, dan penyiapan bibit Memilih LokasiLokasi tanam perlu dipilih yang sesuai dengan kondisi alam yang dikehendaki oleh kehidupan tanaman buah naga, bertujuan untuk mencegah kegagalan budidaya dan mencapai produksi optimal serta sesuai dengan mutu yang telah ditetapkan. Kondisi alam yang dikehendaki tanaman buah naga untuk tumbuh optimal antara lain: ketinggian 0 - 350 meter dari permukaan air laut, curah hujan sekitar 720 mm per tahun, suhu udara ideal berkitar 26 - 36o C, kelembaban 70 - 90%, dan rata-rata pH tanah antara 6,5 - 7. Pengolahan TanahLahan yang akan ditanami buah naga dibersihkan dari kotoran non organik, seperti batu-batuan, plastik, dan kaleng bekas. Jika terdapat rumput atau semak, harus dipotong sampai pangkal batang, hasil potongannya dimasukkan dalam lubang yang telah digali, lalu dibakar agar hama dan penyakit yang ada dapat dimusnahkan. Selanjutnya tanah dicangkul sedalam satu cangkulan, lalu dibolak-balik agar tanah menjadi gembur dan diratakan. Kemudian dibuat lubang-lubang untuk berdirinya tiang penompang dengan kedalaman sekitar 50 cm dan lebar sama dengan panjang 12 x 12 cm. Jarak antar lubang tiang 2 m x 2,5 m, sekaligus sebagai jarak tanam 2 m dan jarak antar baris tanaman 2,5 m. Lubang siap dipasang tiang penompang (caranya lihat alenia berikut). Diantara baris lubang dibuat parit sedalam 20 cm, agar air dapat mengalir dan tidak tergenang di kebun. Kemudian sekitar lubang tiang penompang dibuat lubang tanam sedalam 15 cm dan berdiameter/garis tengah 150 cm, sehingga lubang tiang letaknya ditengah. Selanjutnya membuat media tanam, dengan mencampurkan tanah lapisan atas, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Lalu media tanam dimasukan ke dalam lubang tanam dan disiram, dibiarkan terkena sinar matahari hingga kering. Penyiraman hanya dilakukan pada lubang tanam saja. Lalu menyiramkan pupuk PPC (pupuk pelengkap cair) organik pada setiap lubang tanam sebanyak 30 ml yang dicampurkan dengan 10 liter air untuk lubang tanam. PPC disiramkan secara merata melingkari tiang penompang. Penyiraman PPC dilakukan sehari sebelum tanam. Pembuatan Tiang PenopangTiang penompang merupakan tiang buatan yang kuat untuk panjatan dan menahan batang serta cabang tanaman buah naga agar tanaman bisa tumbuh tegak. Tiang penompang ini dapat dibuat antara lain dari beton/cor, kayu yang kuat, paralon yang diisi adukan pasir dan semen, atau tanaman hidup yang dipangkas setinggi sesuai kebutuhan (seperti tanaman gamal, jaranan, dan suren). Tiang penompang ditanam pada lubang yang telah disiapkan saat pengolahan tanah. Bagian ujung atas tiang diberi besi atau kayu yang kuat dengan bentuk "+" dengan garis tengah sekitar 100 cm, bagian tengah diperkuat dengan besi yang dimasukan dalam beton. Di atas tiang ("+") diberi ban motor bekas atau besi melingkar yang fungsinya untuk menompang batang dan cabang tanaman buah naga. Jarak antar tiang 2 m x 2,5 m sekaligus menjadi jarak tanam, sehingga dalam satu hektar tanah dapat dibuat 2.000 tiang. Penyiapan Bibit Penyiapan bibit merupakan rangkaian kegiatan penyediaan bibit buah naga bermutu dan dalam jumlah yang cukup serta waktu yang tepat. Untuk mendapatkan produksi buah naga yang optimal, harus menanam bibit yang bermutu dari varietas unggul, bibit bebas dari hama dan penyakit, dan dijamin bibit dapat tumbuh baik. Bibit tanaman buah naga dapat berbentuk biji dan setek. Bibit dari biji diambil dari buah naga berkualitas bagus, namun cara ini sedikit sulit dan biasanya dilakukan oleh para penangkar berpengalaman. Petani banyak menanam buah naga secara vegetatif karena mudah dilakukan, yaitu menggunakan setek berupa potongan batang tanaman buah naga sepanjang 25 - 30 cm.Cara membuat bibit dari setek sebagai berikut: 1) Setek diambil dari batang atau cabang tanaman buah naga yang pernah berbuah minimal 3-4 kali, agar hasil setek bisa berproduksi lebih cepat dan produktivitasnya sudah diketahui dari hasil buah sebelumnya; 2) Batang atau cabang dipilih bergaris tengan minimal 8 cm, keras, tua, berwarna hijau kelabu dan sehat, semakin besar batang akan semakin baik karena batang tersebut akan menjadi batang utama tanaman buah naga; 3) Batang atau cabang dipilih yang panjangnya sekitar 80-120 cm, lalu dipotong 80% sehingga sisanya sekitar 20%; 4) Batang atau cabang yang dipotong (80%), dipotong-potong lagi dengan panjang sekitar 25 - 30 cm, potongan setek harus memiliki setidaknya 4 (empat) mata tunas ujung; 5) Cara memotongnya, batang bagian atas dipotong rata dan bagian bawah dipotong meruncing untuk merangsang pertumbuhan akar, caranya sepanjang 1-2 cm di salah satu sisi batang dipotong miring ke arah batang pokok; 6) Setek yang sudah dipotong-potong dikering anginkan sampai getahnya mengering, jika langsung ditanam getah yang basah dapat menyebabkan busuk batang; 7) Setek agar terhindar dari resiko serangan jamur dapat dicelupkan dalam larutan fungisida; 8) Sebelum setek dimasukkan di polybag, terlebih dahulu direndam atau dicelupkan dengan ramuan perangsang akar selama 10-15 menit, kemudian setek siap ditanam di polybag atau bedengan.Polybag untuk pembibitan buah naga berukuran 20 cm x 20 cm yang diisi dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir, pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Media jangan terlalu penuh, lalu pada permukaan media dalam polybag disiramkan campuran pupuk pelengkap cair (PPC), perangsang akar, dan air, dengan perbandingan 10 ml: 10 ml :10 liter, polybag siap untuk menanam setek buah naga. Menanam setek pada polybag dengan cara, tancapkan setek bagian yang runcing kedalam media tanam sedalam 5 cm baik di bedengan atau polybag yang sudah disiram air sebelumnya. Berikan naungan untuk melindungi setek dari sengatan matahari dan lakukan penyiraman setiap 2-3 hari sekali. Setiap seminggu sekali disiram PPC dan dilakukan pola PHT (pengamatan hama terpadu) untuk tindakan pencegahan agar terhindar dari hama dan penyakit. Setelah 3 minggu, tunas pertama mulai tumbuh dan naungan harus dibuka agar bibit mendapatkan cahaya matahari penuh. Pemeliharaan untuk pembibitan ini sampai 3 bulan dan biasanya tinggi bibit sekitar 50-80 cm baru siap dipindahkan ke kebun/lahan. Semoga bermanfaat. (Penulis: Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber Informasi:1. Daniel Kristanto. 2008. Buah Naga, Pembudidayaan di Pot dan di Kebun. Penebar Swadaya. 2. Anonim, 2003. Menanam Dragon Fruit/Buah Naga. MIM Mojokerto. 3. Hasil Kajian dan Pengalaman di Lapangan oleh Pemuda Tani Sukoharjo dan Petani Mitra.