Berbagai jenis penyakit tanaman seperti layu bakteri, busuk lunak maupun bercak daun merupakan kendala penting bagi berbagai jenis tanaman. Kendala lain yang dihadapi adalah serangan rayap, baik pada tanaman hidup maupun kayu kering sehingga menyebabkan kerugian pada peralatan dan bangunan kayu serta meubelair. Pengendalian hama penyakit tersebut umumnya menggunakan senyawa pestisida sintetik yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan, selain itu menimbulkan resistensi pada hama dan penyakit. Penggunaan bahan tanaman yang bersifat pestisida nabati lebih aman dilakukan. Penelitian menunjukkan bahwa cengkeh, baik sebagai minyak maupun serbuk, dan minyak serai wangi bersifat toksik terhadap beberapa jenis jamur dan bakteri patogen tanaman. Penggunaan minyak atsiri sebagai pestisida nabati sudah banyak dilakukan, namun bahan pencampurnya masih terlalu kompleks serta cara pembuatannya memerlukan alat yang spesifik. Pestisida nabati yang diformulasikan dari minyak cengkeh dan serai wangi merupakan salah satu invensi unggulan dari Balitbangtan dimana komposisinya dapat bersifat racun kontak dan sebagai fumigan terhadap bakteri, jamur dan serangga rayap. Komposisi pestisida nabati ini mengandung minyak cengkeh (bahan aktif eugenol), minyak serai wangi (bahan aktif sitronella), pembawa minyak nabati, pengemulsi tween dan perekat alkil gliserol ftalat. Kelebihannya adalah pestisida ini mudah larut dalam air sehingga mudah dalam pemakaiannya. Minyak cengkeh dan serai wangi dapat diekstraksi sendiri dari bahan baku daun cengkeh dengan cara disuling menggunakan metode kukus atau uap panas. Pestisida nabati ini mampu menekan perkembangan penyakit bercak daun pada jahe < 10 % setelah pemakaian selama 4 bulan. Sedangkan sebagai anti rayap pada kayu kering menunjukkan tingkat kematian (mortalitas) rayap cukup baik yaitu 92 %. Minyak cengkeh dan serai wangi dapat digunakan juga untuk penyakit pembuluh kayu atau Vascular Streak Dieback (VSD) pada kakao, dimana telah menjadi masalah serius dalam produksi kakao di Asia, termasuk Indonesia. Tanaman kakao yang terserang penyakit pembuluh kayu menunjukkan gejala daun menguning, terutama daun kedua dan ketiga dari ujung, serta terdapat bercak-bercak hijau kecil yang berbatas tegas. Daun pada akhirnya gugur menyisakan ranting yang permukaannya berubah menjadi kasar dan kemudian mati. Bila tidak segera dikendalikan, penyakit pembuluh kayu dapat menyebabkan penurunan produksi bahkan kematian tanaman kakao. Salah satu alternatif unggulan dalam pengendalian penyakit pembuluh kayu adalah aplikasi fungisida nabati. Sifatnya yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia menjadi nilai lebih dibandingkan dengan aplikasi fungisida sintetis. Bahan baku pembuatan fungisida nabati yang dikembangkan di Balittri berasal dari minyak nabati yang mudah ditemukan, seperti minyak cengkeh dan serai wangi. Aplikasi fungisida nabati berbahan dasar minyak cengkeh dan serai wangi dengan dosis 3 - 5% pada saat daun muda muncul terbukti efektif menekan persentase dan intensitas serangan penyakit pembuluh kayu. Keefektifan tersebut disebabkan kandungan komponen aktif turunan monoterpen seperti seperti eugenol, sinamaldehid, timol, dan lain-lain pada cengkeh. Minyak serai wangi mengandung senyawa sitronelal dan geraniol. Aktifitas senyawa-senyawa fenol pada tanaman bersifat sebagai anti jamur, sehingga mampu menekan pertumbuhan dan perkembangan jamur penyebab penyakit pembuluh kayu bahkan pada akhirnya mati. Ditulis ulang oleh : Enrico S. BBP2TP Sumber tulisan : Balitbangtan