PESTISIDA NABATI DARI RIMPANG Latar Belakang Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan pestisida sintetis mendorong dibuatnya kesepakatan internasional untuk memberlakukan pembatasan penggunaan bahan bahan sintetis pada proses produksi terutama pestisida kimia sintetis dalam pengendalian hama dan penyakit di bidang pertanian dan mulai mengalihkan kepada pemanfaatan jenis-jenis pestrisida yang aman bagi lingkungan. Kebijakan di tingkat internasional telah mendorong pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan nasional dalam perlindungan tanaman, untuk menggalakkan program pengendalian hama terpadu dengan mengutamakan pemanfaatan agen pengendalian hayati atau pestisida nabati. Dalam era globalisasi, kebijakan ini juga sebagai salah satu syarat untuk kualitas produk eksport, sehingga meningkatkan daya saing kita, baik di pasar local, regional maupun dipasar internasional. Dalam mendukung kebijakan tersebut di atas, penggunaan pestisida nabati dalam kegiatan perlindungan tanaman perlu selalu dipromosikan dan dimasyarakatkan. Salah satu upaya memasyarakatkan tersebut adalah dengan adanya pelatihan tanaman obat sebagai pestisida nabati dimana dengan adanya pelatihan ini maka informasi tentang tanaman khususnya tanaman obat yang berpotensi sebagai pestisida nabati dapat tersampaikan dan dimanfaatkan oleh petugas dalam rangka meningkatkan kompetensinya sebagai penyuluh lapangan dalam melakukan pendampingan kepada petani di wilayah binaannya. INFORMASI DAN PEMBAHASAN Pengenalan Simplicia Simplicia adalah tanaman rimpang yang dirajang dan dikeringkan. Proses pembuatan simplicia adalah sebagai berikut : Rimpang ( kunyit ) dilayukan selama 3 hari selanjutnya di sortir dibedakan yang super, empu, dan yang kecil-kecil. yang super dan empu dijadikan bahan baku jamu, sedangkan yang kecil dijadikan jamu ternak unggas ( ayam pedaging ). Setelah disortir di cuci bersih dan ditiriskan selama 1 hari. Apabila kunyit sudah kering kemudian dilakukan perajangan dengan ketebalan 2-3 mm, perajangan yang terlalu tipis akan membuat simplicia hancur pada saat kering. Setelah dirajang dijemur di bawah sinar matahari. 100 kg kunyit basah jika dikeringkan akan menyusut menjadi 12 kg kunyit kering. Simplicia, khususnya kunyit (Curcuma Domestica) dapat digunakan sebagai pestisida nabati yang bersifat sebagai insektisida dan fungisida yang bisa mengendalikan kutu daun, penggerek batang, dan belalang. Kunyit bisa dijadikan pestisida nabati karena di dalamnya mengandung bahan aktif volatile oil, borneol dan sineil. Manfaat kunyit (Curcuma Domestica) sebagai pencegah jamur. Budidaya Tanaman Tumpangsari (Pepaya, jagung, jahe, kunyit, cabai) Budidaya tanaman tumpang sari tempat praktek lapangan berada di kelompok tani Tani Makmur II, Desa Gunung Sari Kecamatan Ketindan Kabupaten Malang. Pada budidaya tumpangsari pengolahan tanah dilakukan dengan pemberian kotoran sapi, kambing, dan seresah pohon yang diatasnya. Tumpang sari yang dilakukan dimulai dengan menanam tanaman papaya setelah lima bulan menanam jagung setelah jagung umur 20 hari tanah di gulud sekalian menanam kunyit dan jahe. Jarak tanam kunyit 20 cm. pada saat jagung berumur 40 hari lalu menanam cabe. Pembahasan Tumpangsari Dalam pengamatan lahan tumpangsari yang ada di lahan Kelompok Tani Tani Makmur II Desa Gunung sari. Kegiatan budidayanya hanya pada pengolahan yaitu pemberian pupuk dasar berupa pupuk organik dari kotoran sapi, kambing dan seresah tanaman diatasnya. Lalu dilakukan pembumbunan. Setelah itu tanaman tidak dilakukan pemupukan berikutnya, tanpa ada perlakuan pemupukan lanjutan dan tidak menggunakan pestisida sama sekali. Hal ini tidak sesuai dengan konsep budidaya pertanian organik dimana dalam setiap tahapan seharusnya memerlukan pemupukan kedua, pengamatan pestisida dan penyiangan. Penanaman Tanaman rimpang Laos dan Jahe di polibag Alat dan bahan yang digunakan dalam Penanaman laos dan jahe adalah sebagai berikut : Alat dan bahan : Polibaq Cangkul Tanah Pupuk kandang Air Bibit laos dan jahe pisau Cara Penanaman : Campurkan media tanam berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 Siapkan Polibag, kemudian masukkan media tanam ke Polibag sampai hampir penuh Polibag Polibag yang sudah berisi media tanam dikocor dengan air. Bibit laos / jahe yang digunakan yg mempunyai mata tunas 2 sampai 3 Bibit laos / jahe siap ditanam di dalam polibag dengan posisi mata tunas menyamping dan di tengah2 polibag. Bibit yang ditanam kedalamannya tidak boleh lebih dari 10 cm, kalau bisa mata tunas masih kelihatan dengan tujuan agar mempermudah pertumbuhan tunas. Kemudian letakkan Polibag yang sudah ditanami ke tempat yang teduh. Pada saat penanaman laos / jahe seharusnya dilakukan pemeraman selama 3 hari sampe muncul tunas dengan media sekam atau jerami, baru dilaksanakan penanaman. Pemeliharaan tanaman di polibag penyiraman dilakukan 1 minggu sekali apabila sudah kelihatan tunas tumbuh baru bisa diletakkan di bawah terik matahari. Pemeliharaan tanaman di polibag untuk penyiraman dilakukan 1 minggu sekali apabila sudah kelihatan tunas tumbuh baru bisa diletakkan di bawah terik matahari. Budidaya Laos dan Jahe Bibit rimpang yang ditanam pada kegiatan praktek lapangan rata rata memiliki mata tunas 1 sampai 2 hal ini tidak sesuai dengan syarat bibit rimpang yang baik yang memiliki mata tunas 2 sampai 3. ( Sukmajaya, 2019 ) Pada saat penanaman laos / jahe seharusnya dilakukan pemeraman selama 3 hari sampai muncul tunas dengan media sekam atau jerami, baru dilaksanakan penanaman Pembuatan Pestisida (Fungisida /Insektisida ) Bahan : Lengkuas 500 gram Kunyit 500 gram Jahe 500 gram Kencur 500 gram Gambir 0,5 butir Air kelapa 2,5 liter Gula pasir 25 gram EM4 secukupnya Alat : Blender Saringan Corong Jerigen 5 liter Kaleng Gelas ukur Selang bening kecoil Botol aqua 600 ml. pisau Cara Pembuatan : Blender semua bahan rimpang dan gambir sampai halus Rendam hasil tumbukan bahan tersebut pada air kelapa Tambahkan gula dan EM 4 Tutup rapat dan fermentasi selama 1 minggu Saring hasil fermentasi dan bahan siap diaplikasikan Cara Aplikasi ke tanaman : Cairan hasil saringan dicampur dengan air 50 cc/tangki Tambahkan perekat dan perata dengan cairan lidah buaya 200 gram / tangki Semprotkan pada tanaman pagi atau sore hari Interval penyemprotan 2 kali seminggu Pembahasan Pestisida Nabati Hasil pestisida nabati yang dibuat antara lain; tidak melalui proses fermentasi. Karena setelah terfermentasi maka kandungan pestisidanya menjadi pestisida plus dan fungsinya beragam yang bisa menjadi POC. ( Andriani, 2019 ) Aplikasi Pestisida Nabati Sebelum melakukan aplikasi pestisida nabati terlebih dahulu dipersiapkan perlengkapan keselamatan kerja /K3 yaitu masker, sarung tangan, sepatu boot, mantel, kaca mata, topi. Setelah itu dilakukan kalibrasi. Kalibrasi adalah pengukuran alat semprot dalam pengaplikasian pestisida nabati. Tujuan dari kalibrasi adalah untuk mengetahui kecepatan jalan dalam penyemprotan dan besaran daya semprot nozzle. Supaya penggunaan pestisida lebih efektif dan efisien. Pembahasan pestisida nabati Perlakuan yang dilakukan sebelum aplikasi pestisida dan penyemprotan pestisida sudah sesuai dengan konsep K3. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kegiatan On The Job Training (OJT) pada Pelatihan Vokasi Tanaman Obat Sebagai Pestisida Nabati Bagi Petugas membawa manfaat bagi petugas dan memberikan pemahaman dan pendalaman materi karena mempraktekan secara langsung cara membuat pestisida nabati dan melakukan budidaya tanaman rimpang di lapangan. Untuk menjaga stabilitas ekosistem pertanian (agroekosistem), perlu dilakukan upaya peningkatan pemakaian pestisida nabati Keberhasilan penggunaan pestisida organik di lapangan sangat ditentukan oleh kualitas pestisida nabati. Saran Setelah diadakan pelatihan ini diharapkan akan ada pendampingan yang berkelanjutan bagi alumni pelatihan vokasi agar peserta lebih mendalami materi yang disampaikan secara klasikal maupun OJT. DAFTAR PUSTAKA Andriani, L, 2019, Pestisida Nabati Disampaikan pada pelatihan tanaman obat sebagai pestisida nabati tanggal 15 sd 19 Juli 2019. BBPP Ketindan. Lawang Sukmajaya,A,2019. Produksi Tanaman Obat Disampaikan pada Pelatihan Tanaman Obat Sebagai Pestisida Nabati Tanggal 15 sd 19 Juli 2019. BBPP Ketindan. Lawang Wiwin, dkk. 2008. Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati. Prima Tani Balittas. Jakarta