Loading...

POLA PERTANIAN TERINTEGRASI PADA KELOMPOKTANI TABENG SARI DESA ABANG BATUDINDING - KINTAMANI

POLA PERTANIAN TERINTEGRASI PADA KELOMPOKTANI TABENG SARI DESA ABANG BATUDINDING - KINTAMANI
Oleh : Ir. I Ketut Kestawa (THL-TB PP) Kelompoktani Tabeng Sari merupakan salah satu kelompok tani madya yang berada di Desa Abang Batudinding, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, tepatnya di dusun Beluhu. Kelompok ini berdiri pada tanggal 9 Juli 2009 yang beranggotakan 22 orang, dan dikukuhkan oleh Perbekel/Kepala Desa Abang Batudinding, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Poktan ini mengusung visi “Terwujudnya kelompok tani ternak yang mandiri dan professional dengan penerapan teknologi pertanian terintegrasi yang berlandaskan Tri Hita Karana”. Berangkat dari visi tersebut, poktan Tabeng sari kemudian membuat suatu kegiatan budidaya pertanian dan perkebunan yang diintegrasikan dengan peternakan sapi bali baik dalam kandang individu maupun kandang koloni di kelompok dan di masing masing lahan anggota. Sejak dahulu memang pola integrasi ini sudah diterapkan oleh masyarakat tani di Bali utamanya di dusun Beluhu, dimana ternak sapi dipelihara beredekatan dengan lahan pertanian petani sehingga kotoran sapi dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan dan meningkatkan hasil pertanian sementara hasil sampingan dari budidaya pertanian juga dimanfaatkan untuk pakan ternak sehingga mampu mengurangi biaya pakan serta biaya pembelian pupuk kandang bagi lahan pertanian mereka. Kondisi alam yang berbukit disekitar lahan pertanian juga mengakibatkan banyak tanah yang tidak bisa digunakan untuk kegiatan budidaya dan rawan longsor. Hal ini dimanfaatkan oleh poktan untuk menanam tanaman penguat lahan yang berfungsi sebagai pencegah erosi sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan hijauan bagi ternak sapi. Tanaman penguat lahan yang ditanam pada lahan - lahan miring antara lain tanaman bambu dan kaliandra. Tanaman ini dipilih karena dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan, dan pakan ternak, disamping itu juga keberadaan bunga kaliandra juga sangat bagus untuk menjaga kelestarian lebah madu liar yang bertugas untuk mempolinasi bunga sebagai bakal buah pada tanaman budidaya. Serta sebagai tempat hidup bagi berbagai serangga yang bermanfaat dalam pengendalian Organisma Pengganggu Tanaman Budidaya. Sementara itu tanaman pertanian yang dibudidayakan poktan tabeng sari antara lain tanaman jagung dan kacang-kacangan, ubi jalar, aneka sayuran, kopi, jeruk dan pisang yang ditanam secara bergantian maupun tumpang sari. Adapun komoditas unggulan dari poktan Tabeng sari antara lain kopi dan jeruk. Poktan tabeng sari yang berada pada ketinggian antara 900-1.200 meter dpl dengan rata-rata curah hujan 1.860 mm/tahun (data monografi desa Abang Batudinding dan BPP Kintamani Timur Kecamatan Kintamani), hal ini juga ikut mempengaruhi potensi tanaman yang beraneka ragam yang dapat beradaptasi diwilayah ini utamanya diwilayah poktan Tabeng Sari. Beberapa tanaman hortikultura yang dapat tumbuh dan berbuah lebat di wilayah ini antara lain manggis, sawo, lengkeng dan mangga walaupun demikian tanaman tersebut belum menjadi tanaman utama yang menghasilkan bagi petani setempat. Namun potensi ini mungkin kedepan akan dilirik oleh petani mengingat kondisi pasar jeruk yang sudah jenuh sehingga konsumen membutuhkan komoditas tanaman buah yang berbeda dan beraneka ragam. Dari bidang peternakannya, petani yang tergabung dalam poktan Tabeng Sari ditahun 2019 ternak sapi mereka telah mengalami perkembangan dari tahun sebelumnya yang hanya memiliki satu hingga dua ekor saja. Ditahun 2019 Poktan ini telah memiliki 97 ekor ternak sapi yang terdiri dari 30 ekor sapi jantan untuk penggemukan, 47 ekor sapi betina dan telah menghasilkan 20 ekor pedet dimana beberapa diantaranya telah siap untuk dijual. Penambahan ini tidak terlepas dari program pemerintah daerah Bali yang menggalakan pola pertanian terintegrasi dalam satu sistem Pola Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi), dimana masing-masing anggota mendapatkan bantuan bibit sapi sebanyak satu ekor yang dipelihara dalam kandang koloni di satu lahan milik petani yang telah dikontrak oleh poktan Tabeng Sari. Selain itu, melalui berbagai pembinaan sekaligus melihat sendiri keunggulan pola budidaya pada kandang koloni, serta pola budidaya yang terintegrasi dengan tanaman budidaya yang dinilai cukup efisien apalagi jika melihat potensi tanaman rumput dan hijauan pakan ternak yang berlimpah maka banyak dari anggota kemudian mulai membudidayakan ternak sapi lebih dari dua ekor dalam satu kandang koloni di lahan masing-masing anggota. Disamping itu pula, permintaan bibit sapi hasil petani di wilayah Abang Batudinding cukup tinggi karena kondi bibit sapi diwilayah ini dinilai cukup proporsional baik sebagai bakalan untuk ternak penggemukan maupun ternak pembibitan sapi bali. Sumber pakan hijauan selain rumput, diperoleh dari hasil sampingan kebun dan tanaman budidaya lainnya antara lain berupa batang pisang beserta daun dan pelepahnya, daun dan pucuk kopi, daun dan batang semu tanaman jagung, daun ubi jalar, kaliandra. Sementara saat musim paceklik rumput, sapi diberikan daun gamal, daun nangka, daun kopi, labu siam dan batang serta daun pisang. Sementara ini belum memanfaatkan teknologi pengolahan Hijauan pakan ternak (silase, rumput kering, pakan terfermentasi, dll) karena petani lebih memilih memanfaatkan bahan pakan yang sudah tersedia dan mudah diperoleh dibandingkan membuat atau menyimpan dan mengolah pakan dengan cara dikeringkan atau difermentasi. Bahan pakan tambahan lainnya yang diberikan antara lain hasil rebusan beberapa bahan antara lain batang pisang, buah nangka yang tidak layak jual, labu siam yang lewat tua, labu kuning yang rijek dan aneka tanaman umbi-umbian yang semuanya telah dicacah. Pemberianya pada ternak sapi diperkaya dengan menambahkan dedak, garam dan probiotik. Kotoran sapi yang diperoleh secara periodik dikumpulkan dan diolah oleh anggota poktan dengan menggunakan salah satu bioaktifator EM4, R-Bacillus sp. dan Azotobacter sp. Pada kandang koloni simantri, kotoran hewan sebagian digunakan juga sebagai bahan baku biogas yang dimanfaatkan petani sekitar untuk kegiatan memasak sehingga bisa mengurangi biaya pembelian bahan bakar. Untuk kencing sapi ditampung dalam fermentor dan diolah untuk dimanfaatkan kembali pada lahan kelompok. Sementara kotoran sapi di kandang koloni simantri sebagian diolah dengan bioaktifator sebelum digunakan pada lahan pertanian. Kelebihan produksi baik itu berupa pupuk kompos, bio urine maupun bio slury dapat dimanfaatkan oleh kelompok secara bergilir dan atau di perjual belikan kepada masyarakat umum untuk menambah kas kelompoktani. Pola budidaya pertanian yang terintegrasi ini dirasa sangat bermanfaat oleh anggota poktan selain memudahkan sistem pengelolaannya karena dekat dengan lokasi tanaman budidaya, juga mampu meringankan biaya yang dikeluarkan petani baik untuk pakan maupun untuk mencukupi kebutuhan dasar tanaman budidaya berupa pupuk organik. Selain itu khusus untuk kandang koloni di simantri ada manfaat tambahan berupa bio gas dan bio slury yang telah dimanfaatkan anggota dan petani sekitar. Sehingga kegiatan budidaya pertanian dengan pola terintegrasi ini sangat bermanfaat bagi masyarakat petani dan poktan Tabeng Sari serta mampu mengangkat taraf hidup masyarakat utamanya anggota poktan Tabeng Sari. Oleh Karena itu tidak berlebihan kiranya jika Poktan Tabeng Sari Desa Abang Batudinding ini akhirnya didapuk untuk mewakili Kabupaten Bangli mengikuti lomba Ternak Tingkat Propinsi Bali di Tahun 2019 ini. Selain karena aktifitas kelompok yang padat dan terencana serta tertuang dalam sebuah rencana kegiatan poktan, disamping berbagai keunggulan lainnya yang dimiliki oleh poktan Tabeng Sari.