Loading...

PORANG, TUMBUHAN LIAR YANG SEDANG NAIK DAUN

PORANG, TUMBUHAN LIAR YANG SEDANG NAIK DAUN
Porang adalah salah satu tumbuhan yang tumbung secara liar, tetapi belakangan ini tumbuhan ini tengah naik daun di Indonesia karena memiliki potensi pasar yang cukup besar. Tidak terkecuali di Kabupaten Karangasem Bali, porang mulai di lirik, dibudidayakan dan di kembangkan. I Putu Sudita adalah salah seorang petani asal Dusun Tanah Ampo, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali yang sudah membudidayakan porang di lahan garapannya. Sudita menceritakan porang awalnya tumbuh liar di lahan garapannya, dia tidak pernah menghiraukan tumbuhan ini, bahkan jika tumbuh banyak dia biasanya menyingkirkan karena dianggap sebagai gulma yang menggagu. Sampai pada suatu hari ada seorang yang datang dan memberikan informasi bahwa tumbuhan ini memiliki nilai ekonomi dan mudah untuk dibudidayakan. Namun Sudita tidak mudah percaya, bahkan dia sempat berpikir bahwa porang mengandung zat terlarang. Akhirnya Sudita mencari informasi di internet dan berkoordinasi dengan Penyuluh Pertanian setempat. Setelah mendapatkan kejelasan akhirnya Sudita tertarik untuk membudidayakan porang. Pada Tahun 2019, Sudita yang tergabung dalam Kelompoktani Kembang Lestari mulai mengumpulkan porang liar dan membudidayakan di satu area. Kurang lebih 100 porang dia dapat dari lahan garapan dan lahan sekitar. Sudita yang sudah menjadi petani dari Tahun 1982 ini, mengatakan bahwa awalnya dia sulit membedakan antara porang dengan suweg, karena keduanya sepintas terlihat sama dan di wilayahnya keduanya tumbuh. Tetapi setelah di amati lebih jauh barulah diketahui perbedaan yang cukup jelas. Adapun perbedaan yang mencolok antara porang dengan suweg adalah terletak pada warna umbinya, corak batangnya dan pada bagian daun. Jika dilihat dari warna umbinya, porang memiliki umbi berwarna kuning, sementara suweg umbinya berwarna putih. Corak batang porang dan suweg sangat mirip dimana sama-sama isi bercak putih, tetapi corak putih pada porang lebih jarang dan lebih bulat, sementara pada suweg lebih lonjong dan lebih rapat. Tekstur batangnya juga sedikit beda, batang porang teksturnya halus, sementara batang suweg teksturnya kasar. Yang cukup membedakan porang dengan suweg adalah bulbil atau katak yaitu umbi generatif yang tumbuh pada pangkal daun. Bulbil atau katak pada porang akan tumbuh pada saat berumur 2 bulan di pangkal daun, sementara pada suweg tidak akan tumbuh bulbil atau katak. Setelah kurang lebih delapan bulan menanam, dan batang semu telah layu (seolah-olah tanaman mati) Sudita melakukan panen. Dari 100 pohon didapatkan hasil 120 kg umbi basah dan dijual dengan harga Rp 7.500/kg. Dari hasil ini Sudita menyimpulkan porang cukup menjanjikan dan mudah dibudidayakan dibandingkan dengan tanaman lain. Porang tidak perlu sinar penuh, tidak perlu perawatan khusus, juga tidak ada serangan hama maupun penyakit yang serius dirasakan. Saat ini Sudita sudah memiliki tanaman porang sekitar 4.000 pohon, dan terus mengembangkan bersama beberapa petani lainnya. Didampingi Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem, Sudita juga mencoba membudidayakan porang dengan berbagai perlakuan, seperti menggunakan plastik mulsa, menanan dari biji, menanam dari bulbil juga dari umbi. Dalam waktu dekat ini Sudita juga akan mengikuti Bimtek budidaya porang yang akan dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem. (penulis: Eka Budi/PP Madya Kab. Karangasem)