Pengembangan budidaya padi gogo pada lahan kering merupakan alternatif strategis swasembada pangan. Saat ini produktivitas padi gogo telah mencapai 33,39 Ku/ha tetapi masih lebih rendah dari produktivitas padi sawah yang mencapai 55,08 ku/ha dengan luasan 9% dari total luas produksi. Lahan target penanaman padi gogo yang direkomendasikan diantaranya: daerah datar/bantaran sungai dengan lahan lebih subur dan bila ada kekeringan masih ada air dari sungai; Kawasan perbukitan (Daerah Aliran Sungai) dengan kemiringan lahan > 15% walaupun rawan erosi tetapi dapat dicegah dengan tindakan konservasi tanah yang memadai (teras bangku untuk lapisan permukaan dan subsoil-solum yang dalam dan sistem budidaya lorong /alley cropping untuk solum tanah yang dangkal). Padi gogo sebagai tanaman tumpangsari perkebunan dan Hutan Tanaman Industri muda seperti tumpangsari dengan karet muda sampai tahun ketiga dan tumpangsari dengan kelapa sawit sampai tahun keempat. Diperkirakan terdapat 2 juta hektar lahan perkebunan tersedia khususnya diumur tanaman pokok berumur satu tahun hingga empat tahun. Tanaman utama yang dapat dijadikan lokasi adalah Kelapa, Sawit, Jati, Karet, Jeruk. Masalah yang kemungkinan dihadapi bila melakukan penanaman padi gogo dibawah naungan adalah intensitas cahaya rendah akibat tertutupi oleh tanaman utama, penyakit blas, Keracunan Alumunium (Al) pada lahan masam, cekaman kekeringan. Selain itu pertimbangan lainnya adalah wilayah tersebar dengan skala kecil (sub-sistem) dan akses terbatas (daerah marginal) serta dibutuhkan dukungan sistem perbenihan formal dikarenakan belum tersosialisaikan dengan baik sistem budidaya dalam naungan ini. Benih padi gogo yang direkomendasikan untuk penanaman dengan naungan adalah varietas Rindang 1 dan Rindang 2. Varietas Rindang 1 memiliki rata-rata hasil 4,62 ton ha, potensi hasil 6.97 ton/ha, toleran naungan, tahan terhadap penyakit blas ras 001, 041, 033, toleran terhadap keracunan Al, berespon moderat terhadap kekeringan, dan memiliki tekstur nasi pera. Varietas Rindang 2 memiliki rata-rata hasil 4.20 ton/ha, potensi hasil 7.39 ton/ha, berespon moderat terhadap naungan, sangat toleran terhadap keracunan aluminium (Al), tahan terhadap 6 ras blas, memiliki tekstur nasi pulen. Beberapa jenis varietas Inpago lainnya diantara lain Inpago 12 yang memiliki potensi hasil 10,2 t/ha dengan umur 111 hari, toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta tahan terhadap penyakit blas ras 033. Bila ingin memperoleh waktu tanam yang lebih cepat maka dapat memilih Inpago 9 yang dapat dipanen setelah 109 hari dengan potensi hasil tinggi juga, yaitu 8,4 ton/hektar, namun ketahanannya agak menurun yaitu agak toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, dan agak tahan terhadap penyakit blas. Ras 133. Bila menyukai rasa nasi pera dapat memilih Inpago 9 dan Inpago 11 yang juga mempunyai potensi hasilnya tinggi. Sementara itu ada juga yang nasinya wangi (aromatik) dan rasanya pulen, yaitu Situpatenggang. Ada juga yang menghasilkan beras merah, yaitu Inpago 7. Sumber: http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/seminar/2017/VUB%20gogo%20toleran%20naungan%2023032017.pdf https://media.neliti.com/media/publications/7947-ID-evaluasi-pertumbuhan-dan-produksi-padi-gogo-haploid-ganda-toleran-naungan-dalam.pdf https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4068900/kementan-inpago-jagonya-padi-gogo https://www.antaranews.com/berita/685591/balitbangtan-siapkan-vub-padi-gogo-toleran-naungan