Kedelai hitam Mallika tinggi gizi dan sangat potensial di wilayah tropis seperti Indonesia. Kedelai hitam di Indonesia diyakini memiliki prospek yang sangat baik. Dengan luas lahan potensial mencapai 1,4 juta ha dan keistimewaannya yang tahan kekeringan, tahan genangan air, dan produktivitas tinggi, banyak petani yang kini tertarik untuk menanam kedelai hitam. Jumlah varietas kedelai hitam yang dikembangkan di Indonesia sangat minim. Padahal dari segi syarat tumbuh, kedelai hitam (Glycine soja) lebih cocok ditanam di daerah tropis seperti Indonesia dibandingkan kedelai biasa (Glycine max). Satu varietas kedelai hitam yang dicetak UGM adalah vareietas Mallika. kedelai hitam, Mallika, Dirjen Tanaman Pangan menyebutkan, bahwa varietas baru ini diharapkan dapat meningkatkan hasil kedelai kita dari rata-rata 1,3 ton per hektar, menjadi sekitar 3 ton per hektar Kedelai hitam kultivar Mallika sudah cukup teruji dan mampu menunjukkan beberapa keunggulan baik kuantitas dan kualitasnya. Potensi hasil Mallika berkisar antara 1,64-2,93 ton/ha, dan di tingkat petani mampu mencapai 2,40 ton/ha (tahun 2004), 2,76 ton/ha (tahun 2005), bahkan 3,0 ton/ha. Kedelai hitam kultivar Mallika mempunyai daya simpan benih yang lebih baik dibandingkan kedelai kuning kultivar Wilis. Setelah disimpan selama 6 bulan baik di ketinggian tempat 600 m dpl (rerata suhu 21,33 0) maupun 115 m dpl (rerata suhu 27,62 0), Mallika masih menunjukkan daya tumbuh sebesar 96,67 % dan 94,04 %, sedangkan kultivar Wilis hanya 89,00 % dan 57,04 %. Kultivar Mallika menghasilkan produktivitas 2,31; 1,57; dan 1,41 ton/ha apabila dilakukan pengairan dengan frekuensi 2, 4, dan 6 minggu sekali; sementara kultivar Cikuray (kedelai hitam unggul nasional) hanya menghasilkan 1,55; 1,42; dan 1,25 ton/ha, dan varietas lokal lainnya hanya 1,41; 1,32; dan 1,19 ton/ha. Meskipun produktivitasnya cukup tajam pada saat terjadi kekurangan air (40%), tetapi pada kondisi kekeringan produktivitas Mallika tetap lebih tinggi dari Cikuray dan kedelai hitam lokalnya. Kondisi demikian menunjukkan bahwa Mallika mampu beradaptasi terhadap kondisi kekeringan, sehingga Mallika juga cukup baik dibudidayakan di lahan baon (hutan). Bahkan dalam kondisi tergenang akibat banjir besar, seperti pernah terjadi di kabupaten Trenggalek tahun 2004, ternyata Mallika masih dapat mencapai produktivitas 1,70 ton/ha. Kandungan protein dan lemak Mallika adalah 37 dan 20 %, Cikuray adalah 35 dan 17 %, Burangrang 39 dan 20 %, dan kultivar Wilis 37,10 dan 18 %. Kedelai hitam merupakan tanaman asli Asia dan sangat baik ditanam di wilayah tropis seperti Indonesia. Kedelai hitam juga sudah lama menjadi bagian dari kuliner Indonesia. Kecap manis yang selalu ada di setiap masakan berbahan baku kedelai hitam. Begitu juga dengan tempe, tahu, dan rempeyek. Kandungan protein keledai hitam sangat tinggi yakni sekitar 38 %, ini berarti lebih tinggi dari protein daging. Kedelai hitam juga mengandung antioksidan dan mencegah penyakit jantung koroner serta kanker. Kedelai mengandung senyawa lecithin yang bermanfaat untuk menghancurkan timbunan lemak dalam tubuh. Kedelai hitam sangat baik ditanam di dataran rendah. Tanaman ini memiliki daya adaptasi tinggi baik di lahan kering maupun lahan sawah, bahkan lahan pasang surut. Kedelai hitam merupakan komoditas yang penyediaannya disuplai dalam porsi besar oleh petani lokal. Pengembangan kedelai hitam terus ditingkatkan untuk mencapai produksi optimum dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pengembangan kedelai hitam secara ekstensif ditempuh dengan perluasan areal tanam ke lahan-lahan marginal yang bersifat masam. Kedelai hitam Mallika mampu berproduksi rata-rata tiga ton per hektar per musim tanam, sebenarnya sangat sulit untuk diwujudkan oleh petani. Sebab tingkat produksi kedelai nasional kita, masih sebatas 1,3 ton per hektar per musim tanam. Kalau angka ini akan ditingkatkan, maka paling tinggi hanyalah sebesar dua ton per hektar per musim tanam. Hasil kedelai di AS dan RRC yang bisa mencapai 4 ton per hektar per musim tanam, terutama disebabkan oleh faktor cahaya matahari. Di kawasan sub tropis, pada musim panas matahari akan bersinar sampai 17 jam sehari. Hingga fotosintesis kedelai akan berlangsung optimal. Informasi varietas Mallika: • varietas lokal yang telah mengalami pemurnian dan telah diuji pada 17 lokasi • berbulu coklat pada batang dan tempat polong • semi-intermediette • berbunga pada 33 HST dan polong masak pada 67 HST (hari setelah tanam) • memiliki bulu coklat pada batang dan tempat polong • dilepas Februari 2007 • Umur panen berkisar 90-an hari dengan kondisi daun sudah berwarna coklat • umur bunga 33 hari • umur polong masak 67 hari • Mallika (Bahasa Tamil & Bahasa Arab) berarti raja • Potensi hasil 2,4 ton-2,9 ton/ha • daya hasil sebanyak 2,34 ton/hektare • tahan terhadap kekeringan, genangan air, dan hama kedelai • jarak tanam 10 cm x 40 cm • penanaman 2 benih/lubang tanam dengan ditugal • bobot 100 biji kedelai hitam adalah 17 gram • Kadar air bermutu 11 % • memiliki kandungan protein 37 persen dan lemak 20 persen • kulit mengandung antioksidan antosianin • daya simpan benih lebih tinggi dari kedelai kuning • disimpan selama enam bulan, masih mempunyai daya tumbuh lebih dari 80 persen Penulis; Sundari, SST. BBP2TP. Bogor