Loading...

PRODUKSI BIBIT UBI KAYU

PRODUKSI BIBIT UBI KAYU
Ubi kayu diperbanyak dengan menggunakan stek batang. Alasan dipergunakan perbanyakan vegetatif (stek) adalah selain karena lebih mudah, juga lebih ekonomis bila dibandingkan dengan perbanyakan menggunakan biji. Namun demikian, kenyataan di lapang menunjukkan bahwa untuk pengembangan ubi kayu secara luas, penyediaan stek seringkali menjadi kendala. Pada umumnya petani memenuhi kebutuhan stek untuk periode tanam berikutnya dengan menggunakan stek dari pertanaman ubi kayu sebelumnya, yang seringkali kualitas stek kurang baik dan kemurnian varietas tidak bisa dijamin, di samping juga harus menunggu panen (9 bulan) untuk mendapatkan stek. Untuk memenuhi kebutuhan stek yang berkualitas baik, diperlukan budidaya ubi kayu yang bertujuan khusus untuk produksi stek. Secara umum tidak terdapat perbedaan teknik produksi tanaman ubi kayu untuk tujuan produksi benih/stek dan untuk konsumsi. Pada prinsipnya tanaman harus diupayakan tumbuh sehat dan bebas dari tekanan organisme pengganggu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam produksi benih/stek ubi kayu adalah sebagai berikut: Pilih lahan yang subur dan cukup irigasi. Hindari penanaman tanaman untuk produksi benih/stek pada lahan yang bermasalah dan irigasi tidak tersedia (tidak memadai) serta bukan endemik hama penyakit; Tanam pada saat yang tepat, sehingga pada saat stek dibutuhkan tanaman sudah cukup umur; Lakukan pemeliharaan secara optimal sehingga tanaman tumbuh normal. Pemupukan, penyiangan dan pengairan yang dilakukan terlambat akan menghambat pertumbuhan tanaman; Disarankan menghindari penanaman tanaman untuk benih/stek pada lahan edemik hama/penyakit utama ubi kayu; Lakukan panen stek sesuai dengan kebutuhan untuk menghindari kerusakan stek TEKNOLOGI PRODUKSI STEK Persiapan Lahan Tanah dibersihkan dari sisa tanaman terdahulu, kemudian baru diolah. Pengolahan tanah didasarkan pada jenis tanah, yaitu: Tanah ringan atau gembur; tanah cukup dibajak atau dicangkul satu kali, kemudian diratakan dan dapat langsung ditanami; Tanah agak berat; tanah dibajak atau dicangkul 1–2 kali, kemudian diratakan dan dibuat bedengan atau guludan, untuk selanjutnya ditanami; Tanah berat dan berair: tanah dibajak atau dicangkul sebanyak dua kali atau lebih, kemudian dibuat bedengan atau guludan sekaligus sebagai saluran drainase. Penanaman dilakukan di atas guludan. Pada lahan miring atau peka terhadap erosi, pengolahan tanah harus dikelola dengan sistem konservasi, yaitu: Tanpa olah tanah; Pengolahan tanah minimal yaitu dengan pengolahan tanah secara larik atau individual. Pengolahantanah ini efektif untuk mengendalikan erosi; Pengolahan tanah sempurna dengan sistem guludan kontur, tanah dibajak dengan traktor 3–7 singkal piring atau secara tradisional (dengan ternak) sebanyak 2 kali atau satu kali yang diikuti dengan pembuatan guludan, guludan dibuat searah kontur. Persiapan Stek Perkecambahan stek tergantung pada kondisi varietas, umur tanaman, penyimpanan dan lingkungan. Teknik pengambilan stek: Stek diambil dari bagian tengah dari tanaman yang berumur 8–12 bulan; Batang dapat digunakan sebagai stek apabila masa penyimpanannya kurang dari 30 hari setelah panen, atau pada kondisi batang masih segar; Panjang stek optimum adalah 20–25 cm; Sebelum tanam, stek dapat diperlakukan dengan insektisida dan fungisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, maka stek harus dipilih dari tanaman yang sehat, diameter stek antara ± 2 cm dan umurnya seragam. Pada saat memotong stek, diusahakan kulit batang tidak terkelupas supaya tidak mudah kering dan daya tumbuhnya baik. Untuk perbanyakan stek/bibit ubi kayu menggunakan stek mini, dilakukan dengan cara: Stek dipotong setiap 2–3 mata tunas Potongan stek direndam dalam air yang telah diberi perlakuan fungisida (Benlate 1–2 cc/liter) untuk mencegah tumbuhnya jamur, kemudian stek siap ditanam. Untuk perbanyakan stek/bibit ubi kayu menggunakan stek normal (panjang 20–25 cm), dilakukan dengan cara: Stek dipotong sepanjang 20–25 cm Potongan stek direndam selama 1–2 jam, dalam air yang telah diberi perlakuan fungisida (Benlate 1–2 cc/liter) untuk mencegah tumbuhnya jamur. Selanjutnya stek dapat langsung ditanam. Penanaman Cara Tanam Untuk perbanyakan stek mini: stek mini yang sudah diperam hingga bertunas, ditanam dengan posisi tidur, 3–5 cm di bawah permukaan tanah. Untuk perbanyakan stek ukuran normal (20–25 cm): stek yang sudah siap ditanam dengan posisi tegak, dengan 1/4 bagian berada di bawah permukaan tanah. Jarak tanam Normal: 100 x 80 cm2 (12.500 tanaman per hektar) 100 x 75 cm2 (13.333 tanaman per hektar) Rapat: 80 x 50 cm2 (25.000 tanaman per hektar) 50 x 50 cm2 (40.000 tanaman per hektar) Pemupukan: Pupuk kandang diberikan pada saat pembuatan guludan (5–10 t/ha) Pupuk dasar diberikan pada 1 bulan setelah tanam, dengan ditugalkan pada jarak 10–15 cm dari pangkal batang (100 kg Urea, 100 kg SP36, 50 kg KCl per ha) Pupuk ke dua diberikan pada umur 3–4 bulan setelah tanam dengan dosis 100 kg Urea dan 50 kg KCl per ha Penyiangan, Pembumbunan dan Wiwil Pengendalian gulma dilakukan pada 2 tahap, yaitu pada umur 4–5 minggu setelah tanam dan 8 minggu setelah tanam. Pembumbunan dilakukan untuk menggemburkan tanah. Pembumbunan dilakukan pada umur 2–4 bulan. Pada umur ini tanaman ubi kayu mulai melakukan pembentukan umbi, sehingga dibutuhkan tekstur tanah yang gembur untuk untuk perkembangan umbinya. Wiwil/pengurangan tunas dilaksanakan pada umur 3 bulan dengan menyisakan 2 tunas yang pertumbuhannya normal. Pengairan Pengairan secara intensif dilakukan hingga tanaman berumur 4–5 bulan, dengan interval 1 bulan sekali. Untuk selanjutnya, pengairan dapat dilakukan 1-2 bulan sekali atau tergantung pada kondisi tanah. Pengendalian hama dan penyakit Hama utama pada tanaman ubi kayu adalah tungau merah (Tetranychus urticae). Hama ini lebih banyak dijumpai di daerah beriklim kering dibanding di daerah beriklim basah. Hama ini banyak dijumpai di musim kemarau. Pengendalian hama tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk biji bengkuang 50 g/liter air, fumigasi menggunakan larutan belerang dicampur dengan larutan sabun juga efektif dalam mengendalikan hama tungau merah. Untuk penyakit yang biasa dijumpai adalah Xanthomonas manihotis (jenis bakteri), gejala serangan: daun mengalami bercak-bercak seperti terkena air panas. Pengendalian dilakukan dengan menggunakan bakterisida dan penyakit bercak daun (Cercospora henningsii) yang sering dijumpai menyerang daun yang sudah tua. Panen Stek Panen stek dapat dilakukan pada umur 8–12 bulan setelah tanam. Apabila stek dipanen pada umur sebelum 8 bulan setelah tanam akan mempengaruhi kualitas stek, stek masih muda sehingga kalau ditanam cepat kering, selain itu stek yang dihasilkan juga masih sedikit (3-4 stek). Demikian juga kalau dipanen pada umur di atas 12 bulan setelah tanam, kualitas stek menurun karena stek terlalu tua, diameter stek > 3 cm. Diameter stek yang terlalu besar, akan mempercepat transpirasi kalau stek ditanam, sehingga mempercepat stek kering. Tanaman ubikayu yang layak untuk diambil steknya apabila diameter batang sudah mencapai 2-3 cm, bagian batang yang layak untuk stek lebih kurang sudah mencapai 1 m. Produksi stek tergantung pada jenis varietas dan jarak tanam yang digunakan. Pada varietas yang mempunyai batang yang tinggi akan menghasilkan stek lebih banyak dibanding varietas dengan batang pendek. Tanaman yang ditanam rapat akan menghasilkan jumlah bibit yang lebih banyak dibanding apabila ditanam pada jarak tanam yang normal Penyimpanan bibit/stek ubikayu Bibit/stek yang sudah dipanen sebaiknya segera dipinggirkan dan ditempatkan secara tegak dalam posisi terbalik ditempat yang teduh seperti di bawah pohon/teras yang terlindung dari panas matahari secara langsung. Membiarkan bibit di bawah terik matahari akan mengakibatkan stek menjadi kering. Penundaan waktu tanam hingga 2-4 minggu dari saat stek dipanen akan mengakibatkan kualitas bibit menjadi rendah karena adanya gangguan dari mikroba dan kadar air dalam stek sudah sangat rendah sehingga mengganggu daya tumbuh maupun vigor tanaman. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Gambar : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian