Loading...

Program dan Kendala Pengembangan Agrobisnis Jagung

Program dan Kendala Pengembangan Agrobisnis Jagung
Peranan jagung sebagai bahan baku industri akan semakin penting. Diperkirakan pertumbuhan industry pakan 12% per tahun dari tahun 2003-2010. Industri yang banyak menggunakan jagung sebagai bahan baku industri pakan ternak (75.2%), penggilingan (19.5%), campuran kopi pupuk (1.5%), minuman (0.5%), mie dan sejenisnya (0.4%0, roti (0.4%), industry makanan (0.4%) dan kerupuk (0.08%). Dalam dekade terakhir ini permintaan akan pakan ternak meningkat dengan pesat. Fenomena ini memberikan indikasi bahwa kapasitas pasar jagung masih cukup besar, baik di dalam maupun luar negeri. Apabila kapasitas pasar ini dipenuhi dengan meningkatkan produksi dalam negeri, apalagi dilakukan di luar Jawa, misalnya Kalimantan, akan memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar, baik dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan penduduk, meningkatkan pendapatan masyarakat, menurunkan tingkat kemiskinan, meningkatkan pendapatan regional maupun dalam rangka penghematan devisi. Pengembangan jagung di Kalimantan dihadapkan pada masalah yang sangat kompleks bahkan bersifat dilematis. Pada tingkatan tertentu peningkatan produksi justru akan merugikan petani. Hal ini dikarenakan sistem produksi jagung masih berorientasi pada jagung muda, dimana walaupun harga cukup tinggi tetapi kapasitas pasar terbatas. Disamping itu jagung muda tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Produksi jagung pipilan belum berkembang, disamping karena memerlukan tenaga, waktu dan biaya yang lebih besar juga karena dihadapkan pada kendala pemasaran. Disisi lain, apabila produksi jagung tidak meningkat, sumber daya petani tidak termanfaatkan secara optimal, baik lahan maupun tenaga kerja, terutama di daerah-daerah potensial. Pengembangan komoditas jagung, di Indonesia masih mengalami beberapa kendala, antara lain sebagai berikut : 1) Masih sedikitnya penggunaan benih hibrida. 2) Kelangkaan pupuk. 3) Kelembagaan belum berkembang. 4) Teknologi pascapanen dan panen belum memadai. 5) Lahan garapan sempit.. Strategi peningkatan produksi jagung, nasional ditempuh melalui cara-cara berikut : 1) Peningkatan produktivitas. 2) Perluasan areal tanam. 3) Pengamanan produksi. 4) Pemberdayaan kelembagaan. 5) Pengolahan dan pemasaran. Kebijakan pengembangan komoditas jagung nasional, antara lain sebagai berikut : 1) Menciptakan lingkungan strategis sosial ekonomi yang kondusif bagi pengembangan usaha. 2) Memberi dukungan fasilitas dan mendorong akselerasi pelaksanaan adopsi teknologi maju. 3) Meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing. 4) Meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan berbagai pihak yang terkait dalam pengembangan komoditas jagung. 5) Memantapkan sasaran dan keberlanjutan sistem dan usaha agrobisnis. Nampak bahwa analisis kebijakan berperan sangat menentukan dalam mewujudkan sistem dan usaha agrobisnis yang berdaya saing. Dengan mengetahui program dan kendala pengembangan agrobisnis jagung, diharapkan dapat meningkatkan produksi jagung dan dapat mewujudkan sistem dan usaha agrobisnis yang berdaya saing, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Madya, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : Pedoman Bertanam Jagung, Tim Karya Tani Mandiri, Seri Budi Daya Tanaman. 2010.