Loading...

PUPUK ORGANIK CAIR URINE SAPI

PUPUK ORGANIK CAIR URINE SAPI
PUPUK ORGANIK CAIR URINE SAPIOleh : ACHMAD ARMAN DAHLAN, S.PtPPL Kec. Pacet Kab. MojokertoIndonesia selain dikenal dengan negara agraris juga dikenal sebagai negara yang kaya akan hasil peternakannya. Salah satu peternakan yang banyak dikenal adalah peternakan sapi. Sapi (Bison benasus L) merupakan ternak ruminansia besar yang mempunyai banyak manfaat baik untuk manusia ataupun tumbuhan, seperti daging, susu, kulit, tenaga dan kotoran. Produk utama dari sapi adalah daging dan susu oleh karena itu peternak selalu menginginkan cara penggemukan sapi yang lebih efektif sehingga pertumbuhan sapi tidak makan waktu lama dapat memberikan penghasilan dengan keuntungan yang memuaskan. Akan tetapi, usaha peternakan sapi perah dengan skala usaha lebih dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Kita lihat populasi sapi perah di Indonesia terus meningkat dari 334.371 ekor pada tahun 1997 menjadi 368.490 ekor pada tahun 2001 dan limbah yang dihasilkanpun akan semakin banyak (BPS, 2001).Satu ekor sapi dengan bobot badan 400–500 kg dapat menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27,5-30 kg/ekor/hari. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (air seni atau urine). Sebagai limbah organik yang mengandung lemak, protein dan karbohidrat, apabila tidak cepat ditangani secara benar, maka kota-kota besar tersebut akan tenggelam dalam timbunan sampah berbarengan dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran air, udara, dan sumber penyakit.Sistem pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik pada tanaman pertanian semakin lama semakin berkembang.Dalam upaya mengatasi masalah pencemaran lingkungan dan lahan pertanian tersebut,maka sistem budidaya tanaman pertanian dengan limbah ternak terutama urin sapi kini juga mulai digalakkan oleh peneliti, tetapi para petani masih sedikit yang menerapkannya. Padahal jika limbah peternakan urin sapi diolah menjadi pupuk organik mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi tanah, yaitu dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah karena memiliki bermacam-macam jenis kandungan unsure hara yang diperlukan tanah selain itu juga menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan.Urine sapi dapat diolah menjadi pupuk organik cair setelah diramu dengan campuran tertentu. Bahan baku urin yang digunakan merupakan limbah dari peternakan yang selama ini juga sebagai bahan buangan. Pupuk Organik Cair dari urin sapi ini merupakan pupuk yang berbentuk cair tidak padat yang mudah sekali larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting guna kesuburan tanah.Untuk pemanfaatan limbah peternakan padat sudah banyak diterapkan di daerah pedesaan. Contohnya, di kalangan peternak sapi perah, terutama di Kecamatan Pacet, dapat membuat biogas dan pupuk organik dari kotoran sapi menjadi tambahan pendapatan dan mata pencaharian baru bagi penduduk sekitar (sumber radar malang). Akan tetapi untuk pengelolaan limbah cair peternakan masih sangat kurang di tingkat daerah pedesaan. Padahal jika dikaji lebih dalam lagi kandungan unsur N, P, K di dalam kotoran cair lebih banyak dibandingkan dengan kotoran padat.Tabel 1. Jenis Dan Kandungan Zat Hara Pada Kotoran Ternak Sapi Padat Dan CairNama ternak dan bentuk kotorannyaNitrogen (%)Fosfor (%)Kalium (%)Air (%)Sapi –padat0.400.200.1085Sapi –cair1.000.501.5092Sumber : Lingga, 1991Berdasarkan tabel diatas, maka dapat dilihat bahwa kandungan zat hara pada urin sapi, terutama jumlah kandungan nitrogen, fosfor, kalium, dan air lebih banyak jika dibandingkan dengan kotoran sapi padat yang telah lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Selain itu banyak penelitian, diantaranya adalah Anty ( 1987 ) yang melaporkan bahwa urine sapi mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh diantaranya adalah IAA. Karena baunya yang khas urine ternak juga dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman sehingga urine sapi juga dapat berfungsi sebagai pengendalian hama tanaman dari serangan (Phrimantoro, 1995). Sehingga untuk pemanfaatan air urin ini dapat digunakan sebagai pupuk organik cair yang sangat berguna bagi pertanian.Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi senyawa sederhana yang melibatkan mikroorganisme. Fermentasi merupakan segala macam proses metabolisme (enzim, jasad renik secara oksidasi, reduksi, hidrolisa, atau reaksi kimia lainnya) yang melakukan perubahan kimia pada suatu subsrat organik dengan menghasilkan produk akhir.Prinsip dari fermentasi ini adalah bahan limbah organik dihancurkan oleh mikroba dalam kisaran temperatur dan kondisi tertentu yaitu fermentasi . Studi tentang jenis bakteri yang respon untuk fermentasi telah dimulai sejak tahun 1892 sampai sekarang. Ada dua tipe bakteri yang terlibat yaitu bakteri fakultatif yang mengkonversi selulosa menjadi glukosa selama proses dekomposisi awal dan bakteri obligate yang respon dalam proses dekomposisi akhir dari bahan organik yang menghasilkan bahan yang sangat berguna dan alternatif energi pedesaaan ( Joo, 1990).Wibowo (1989) menyatakan bahwa fermentasi sering didefinisikan sebagai proses pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerobik yaitu tanpa memerlukan oksigen. Karbohidrat terlebih dahulu akan dipecah menjadi unit - unit glukosa dengan bantuan enzim amilase dan enzim glukosidose, dengan adanya kedua enzim tersebut maka pati akan segera terdegradasi menjadi glukosa, kemudian glukosa tersebut oleh khamir akan diubah menjadi alkhohol.Tabel 2. Beberapa Sifat Urine Sapi Sebelum dan Sesudah DifermentasiPerbandingan NPKWarnaBauSebelum1,10,50,9KuningMenyengatSesudah 2,72,43,8Coklat kehitamanKurang MenyengatBerdasarkan hasil pengamatan pada urine yang belum difermentasi dan urine yang sudah difermentasi terdapat perbedaan kandungan diantara keduanya. Kandungan nitrogen pada saat sebelum difermentasi yang memiliki kandungan unsur hara N, P, K adalah 1,1; 0,5; 0,9 dan saat urine setelah difermentasi terjadi peningkatan kandungan jumlah unsur hara N, P, K,menjadi 2,7; 2,4; 3,8. Pada proses fermentasi urine terdapat kelebihan jika dibandingkan dengan urine yang tidak difermentasi, yaitu meningkatkan kandungan hara yang terdapat pada urine tersebut yang dapat menyuburkan tanaman. Selain itu, bau urine yang telah difermentasi menjadi kurang menyengat jika dibandingkan dengan bau urine yang belum difermentasi.Akan tetapi fermentasi urin sebagai pupuk organik cair yang dilakukan oleh bakteri ternyata juga terdapat beberapa kelemahan, diantaranya :Tidak semua N diubah menjadi bentuk yang mudah dihisap akan tetapi dipergunakan oleh bakteri-bakteri itu sendiri untuk keperluan hidupnya.Dapat terjadi perubahan-perubahan yang merugikan dimana N menguap. Di dalam pupuk cair N terdapat sebagai ureum CO(NH2)2 dan asam urine C3H4N4O3. Yang terpenting dan mempunyai nilai pemupukan tertinggi adalah ureum karena N yang sangat tinggi (48 %).banyak terdapat dalam air kencing sangat mudah dan cepat dirubah oleh bakteri-bakteri menjadi amonium karbonat.CO(NH2)2 + 2 H2O (NH4)2COAdapun proses pembuatan pupuk organik cair dari urine sapi (biourin) dengan menambahkan zat aditif tetes tebu adalah sebagai berikut: urine ternak ditampung dalam bak, lalu ke dalamnya dimasukkan fermenter (R. bacillus dan Azotobacter). Setiap 800 liter urine difermentasi dengan R. bacillus 1 liter dan Azotobacter 1 liter. Setelah itu tetes tebu dicampurkan ke dalam cairan kencing sapi dimasukkan kedalam drum plastik, lalu dimasukkan starter Sacharomyces cereviceae. Tetes tebu dan starter Sacharomyces cereviceae dimasukkan dalam bak lalu diaduk sebentar. Kemudian permukaan bak lalu ditutup dengan triplek atau plastik dan didiamkan 7 hari. Pada hari ke-8, urin diputar dengan pompa sehingga naik-turun di tangga “penipisan” selama 6-7 jam. Pemutaran dimaksudkan untuk menguapkan amonia karena bersifat racun bagi tanaman. Urin yang telah difermentasi siap digunakan atau disimpan dalam wadah.Setelah didapatkan pupuk organik cair dengan hasil sesuai yang diharapkan, maka langkah selanjutnya adalah implementasi penggunaan pupuk organik cair kepada para petani. Hal ini dapat diwujudkan dengan memberikan penyuluhan kepada petani bahwa penggunaan bahan organik cair sebagai pupuk merupakan upaya penciptaan siklus unsur hara yang sangat bermanfaat dalam mengoptimalkan pemakaian sumber daya alam yang terbarukan. Bahan organik juga dapat mengurangi unsur hara yang bersifat racun bagi tanaman serta dapat digunakan untuk mereklamasi lahan bekas tambang dan lahan yang tercemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lahan pertanian di Indonesia, baik lahan kering maupun lahan sawah, mempunyai kandungan bahan organik tanah yang rendah (<2%). Oleh karena itu penggunaan bahan organik untuk memperbaiki produktivitas lahan perlu digalakkan.Khasiat pupuk organik cair dari limbah sapi, selain menyuburkan tanaman juga mampu menghalau hama. Sehingga tentunya berpotensi mempertebal keuntungan petani, karena biaya operasional perawatan tanaman menjadi lebih sedikit. Selain itu juga didukung dengan penawaran harga pupuk yang lebih murah dan kualitas yang menjanjikan.DAFTAR PUSTAKAAffandi. 2008. Pemanfaatan urine Sapi yang Difermentasi sebagai Nutrisi Tanaman. (online), (http://affandi21.xanga.com/644038359/pemanfaatan-urine-sapi-yang-difermentasi-sebagai-nutrisi-tanaman/, 20 Januari 2010)Anonim.2009. Pembuatan Urine Sapi. (online), http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=27256&Itemid=54, diakses 20 Januari 2010Anonim. 2008. Fermentasi Alkohol. (online), (http://g1f007045.wordpress.com/fermentasi-alkohol/, diakses 24 Januari 2010)Anonim. Enzim dan Fermentasi. (online), (http://wongkendal.wordpress.com/2009/12/25/enzim-dan-fermentasi/, diakses 28 Januari 2010)Anonim. 2008. Pemanfaatan Limbah Ternak untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair (Studi pemanfaatan Limbah untuk Meningkatkan Pendapatan Petani). (online), (http://www.skripsi-tesis.com/07/05/pemanfaatan-limbah-ternak-untuk-pembuatan-pupuk-organik-cair-studi-pemanfaatan-limbah-untuk-meningkatkan-pendapatan-petani-pdf-doc.htm, 20 januari 2010)Anonim, 2008. Data Statistika Jumlah Sapi Perah. (online), (http://www.disnak-jatim.go.id/web/index.php/Data-Statistik.html, diakses 13 Februari 2010)Paturau, J. Maurice. 1969. By-Products of the Cane Sugar Industry. New York: Elsevier Science Publishing Company Inc.Rohmat. 2008. Fermentasi Urine Sapi sebagai Pupuk.(online), (http://bioq-suka.blogspot.com/2009/07/fermentasi-urine-sapi-sebagai-pupuk.html, diakses 20 Januari 2010)Shieddiq, M.Ikhsan. 2003. Apilkasi Teknologi Peternakan. Jakarta Pusat: Penerbit BudidayaSutato,Rachman.2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta: KanisiusWijaya, K.A. 2008. Nutrisi Tanaman sebagai Penentu Kualitas Hasil dan Resistensi Alami pada Tanaman. Jakarta: Prestasi Pustaka