Perlindungan tanaman dalam sistem produksi terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Strategi pengendalian hama dan penyakit mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) melalui penerapan taktik pengendalian yang tepat, berupa kombinasi berbagai komponen teknologi pengendalian yang disesuaikan dengan stadia pertanaman padi serta jenis hama dan penyakitnya, merupakan alternatif pernecahan masalah hama dan penyakit yang tepat. Seperti halnya di Kalimantan Selatan, beberapa provinsi yang memiliki lahan rawa pasang surut antara lain Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Jambi, Lampung dan Sumatera Selatan banyak ditemukan tumbuhan purun tikus. Oleh karena itu pengelolaan hama penggerek batang padi juga dapat memanfaatkan tumbuhan tersebut. Dalam hal ini tumbuhan purun tikus harus disisakan di sekitar pertanaman padi agar hama penggerek batang tertarik meletakkan telur pada tumbuhan tersebut, begitu juga serangga musuh alami. Purun Tikus adalah salah satu gulma. Gulma dikenal sebagai organisme pengganggu tanaman, namun ada beberapa jenis gulma bermanfaat karena merupakan tempat berlindung serangga inang dan tempat bertelur bagi parasitoid dan predator. Selain sebagai tempat berlindung dan sumber pakan tambahan, tumbuhan liar juga seringkali dipilih sebagai tempat bertelur oleh serangga. Spesies gulma tertentu dapat mendukung upaya pelestarian musuh alami. Populasi musuh alami di lahan pasang surut, baik dari jenis serangga maupun laba-laba banyak ditemukan pada areal gulma golongan teki. Hal ini disebabkan karena aktivitas penggerek batang padi pada area tersebut juga tinggi, bahkan populasinya lebih tinggi daripada di area pertanaman padi. Tingginya keanekaragaman parasitoid pada pertanaman padi di lahan sawah pasang surut dan rawa lebak oleh ekosistem ini relatif lebih stabil karena padi hanya diusahakan satu kali dalam satu tahun dan tidak intensif. Selain itu, pada saat musim tanam, masih terdapat lahan yang tidak ditanami dan ditumbuhi oleh beranekaragam tumbuhan liar yang menjadi tempat berkembangnya parasitoid. Predator Anaxipha Longipennis sering dijumpai pada tanaman padi dan gulma yang tumbuh di pematang. Beberapa jenis gulma berperan sebagai inang alternatif yang melindungi musuh alami dan sebagai tempat berlindung apabila tanaman utama tidak tersedia. Beberapa gulma yang dipilih oleh A. longipennis sebagai tempat meletakan telur adalah Monochoria vaginalis, Cyperus iria, Cyperus rotundus, Fimbristylis miliacea, Echinochloa colonum, Echinochloa crusgalli, Eleusine indica, Imperata cylindrical dan Limnocharis flava. Serangga betina akan meletakkan keturunannya di tempat dengan peluang hidup tinggi. Pemilihan tempat untuk bertelur yang tepat bertujuan agar keturunan baru yang belum aktif mendapatkan pakan yang cukup di sekitarnya. Pada sistem pengendalian hama terpadu telah ditambahkan perlakuan weed strip. yang terdiri iatas M. vaginalis dan L. flava. parasitoid telur penggerek batang padi lebih banyak daripada di pertanaman padi dengan penyiangan gulma . Di lahan pasang surut tumbuh beberapa jenis gulma yang disenangi oleh hama penggerek batang padi untuk meletakkan telurnya. Gulma tersebut antara lain purun tikus (Eleocharis dulcis), perupuk (Phragmites karka), kelakai (Stenochlaena palustris), bundung (Scirpus grossus), dan purun kudung ( Lepronea articulata) Purun tikus adalah gulma yang paling disenangi penggerek batang sebagai tempat meletakkan telur bahkan jumlahnya lebih banyak daripada yang terdapat pada pertanaman padi. Perlakuan ekstrak purun tikus yang disemprotkan pada areal pertanaman padi menunjukkan jumlah kelompok telur penggerek batang tertinggi adalah pada perlakuan ekstrak segar yang langsung diaplikasikan. Intensitas kerusakan tanaman padi yang disebabkan oleh penggerek batang di area yang berdekatan dengan gulma purun tikus hanya berkisar 0,1- 0,5%, sedangkan di daerah yang berjauhan dengan gulma mencapai 25 - 55% . Ketertarikan penggerek batang padi putih meletakkan telur pada gulma purun tikus diduga karena adanya unsur kimia tertentu yang terdapat pada gulma tersebut. Tumbuhan purun tikus mengandung komponen kimia antara lain steroid, alkaloid, dan methyldiena. Selain itu juga ditemukan golongan lain seperti alkohol, karboksilat, alkenon, alkil benzena, esensial oil, asam lemak, hidrokarbon, azole, analina, dan fenol. Yulia T S. yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka Thamrin, S. Asikin dan M. A. Susanti, 2017 Budi Daya Padi Di Lahan Rawa Pasang Surut Dan Pengendalian Alami Hama Penggerek Batang dalam Jurnal Litbang Pertanian Vol. 36 No. 1 Maret 2017: 28-38 Balai Penelitian Lahan Rawa.2011 Monograg “ Hama dan Penyakit Padi di lahan Pasang surut. http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6441 http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/29228