Loading...

Refugia sebagai Tanaman Perangkap Hama

Refugia sebagai Tanaman Perangkap Hama
Pengelolaan serangga dalam pertanian organik menerapkan metode-metode yang dapat meningkatkan keragaman genetik, keanekaragaman hayati dan habitatnya, serta terhadap struktur sosial dan komunitas pedesaan. Strategi “tolak tarik” (Push-pull strategy) merupakan salah satu teknik pengendalian hama yang berprinsip pada komponen pengendalian non toksik, sehingga dapat diintegrasikan dengan berbagai metode pengendalian lainnya untuk menekan populasi hama. Strategi ini juga dapat meningkatkan peran musuh alami, terutama parasitoid dan predator pada pertanaman. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam dengan menggunakan tanaman perangkap dapat mendorong stabilitas ekosistem sehingga populasi hama dapat ditekan dan berada dalam kesetimbangannya. Penggunaan tanaman perangkap harus mempunyai fungsi sebagai tanaman refugia yang berfungsi untuk berlindung sementara dan penyedia tepungsari untuk makanan alternatif berbagai predator atau sebagai mikrohabitat bagi musuh alami (baik predator maupun parasitoid) agar pelestarian musuh alami dapat tercipta dengan baik. Namun tidak semua tanaman bisa menjadi tanaman refugia, salah satu syarat untuk menjadi tanaman refugia adalah: Warna tanaman dan bunga yang mencolok, biasanya warna kuning Benih/bibit mudah diperoleh Mudah ditanam Regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan Cocok dijadikan tanaman multiple crop Beberapa contoh tanaman yang berpotensi sebagai Refugia adalah Tanaman Hias - Beberapa diantaranya yaitu bunga matahari (Helianthus annuus), bunga kertas Zinnia (Zinnia sp), kenikir (Cosmos caudutus). Gulma - Diantaranya yaitu babadotan (Ageratum conyzoides), Ajeran (Bidens pilosa L), bunga tahi ayam (Tagetes erecta). Tumbuhan Liar - Diantaranya yaitu rumput setaria (Setaria sp), pegagan (Centella asiatica), bunga legetan (Synedrella nodiflora), rumput kancing ungu (Borreria repens) dan kacang hias (Arachis pentoi). Sayuran - Beberapa sayuran yang berpotensi sebagai refugia sekaligus bahan pangan antara lain yaitu kacang panjang (Vigna unguiculata spp.), bayam (Amaranthus spp.) dan jagung (Zea mays) Penerapan tanaman refugia sebagai trap crop perlu memperhatikan beberapa aspek diantaranya yaitu waktu tanam refugia, sebaiknya ditanam sebelum tanaman utama agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan berkembang baik bagi musuh alami dan serangga polinasi. Penanaman refugia diusahakan sejajar dengan sinar matahari sehingga tidak menutupi atau mengganggu penyerapan sinar matahari bagi tanaman utama. PENGENDALIAN HAMA DENGAN TANAMAN REFUGIA Sebagian besar petani di Indonesia mungkin asing dengan kata `tanaman refugia` dan tidak mengerti apa fungsinya. Kita mungkin pernah pergi ke suatu lokasi persawahan dan menemukan lahan sawah yang banyak ditanami tanaman bunga. Mereka bukan mencoba memperindah lahan sawahnya agar terlihat lebih bagus, namun petani-petani tersebut menggunakan teknik tanaman refugia untuk mengendalikan hama. Secara sederhana, refugia dapat diartikan sebagai mikrohabitat buatan yang ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai tempat perlindungan, sumber pakan atau sebagai sumberdaya lain bagi musuh alami hama seperti predator dan parasitoid. Dalam penanggulangan hama, sampai saat ini petani masih banyak yang mengandalkan pestisida. Pestisida dianggap lebih efektif karena hasil dari penggunaan pestisida lebih cepat tampak, aplikasinya yang mudah, terlebih karena saat inipestisida sangat mudah didapatkan di pasaran. Oleh karena itu, dalam pertanian modern, penggunaan insektisida tetap sulit untuk dihindarkan (Norris et al., 2003) Padahal jika dilihat di lapangan, aplikasi pestisida sering kurang sesuai dengan kaidah-kaidah cara pengendalian yang bijaksana seperti frekuensi penggunaan yang terlalu tinggi, dosis pestisida yang kurang optimal atau penggunaan volume semprot yang kurang dari semestinya. Penanggulangan hama dengan cara demikian sebenarnya bertentangan dengan konsep pengelolaan hama terpadu (PHT). Paparan racun yang tinggi akan mengganggu keseimbangan lingkungan akibat resurjensi hama, kesehatan lingkungan, punahnya musuh-musuh alami hama (predator, parasitoid, dan patogen serangga), dan serangga bermanfaat (penyerbuk, detrifora, dll) ( Wilson 1990, Norris et al. 2003), serta dapat mengganggu kesehatan manusia. Resurgensi hama terjadi bila populasi hama meningkat setelah diadakan penyemprotan dengan insektisida. Seringkali fenomena tersebut memunculkan atau meningkatkan status suatu jenis hama dari bukan hama menjadi hama penting setelah paparan insektisida, misalnya pada kasus ledakan ulat grayak, ulat buah, dan kutu kebul pada tanaman kedelai. Dalam konsep PHT, pemanfaatan musuh alami sebagai agen hayati dalam mengendalikan hama dan penyakit perlu dikedepankan dalam menekan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan. Agen hayati merupakan bagian dari suatu ekosistem yang sangat penting peranannya dalam mengatur keseimbangan ekosistem tersebut. Secara alamiah, agen hayati merupakan komponen utama dalam pengendalian alami yang dapat mempertahankan semua organisme pada ekosistem tersebut berada dalam keadaan seimbang. Menanam tanaman refugia di sekitar lahan terbukti dapat mengundang musuh alami hama serangga. Musuh alami, predator Coccinella (kepik), Andrallus spinidens (kepik predator), Vespidae (tawon), semut, Odonata (capung), Mantidae (belalang sembah), Oxyopes sp. (laba-laba bermata jalang), Conocephalus longipennis (belalang), Asilidae (lalat perampok), Reduviidae (kepik pembunuh), Rhynochoris sp., Paedorus (tomcat) dan beberapa jenis laba-laba lain serta 9 parasitoid yaitu: Antrocephalus sp., Sympiesis sp., Anastatus sp., Telenomous sp., Gonatecurus sp (lalat peri), Brachymeria sp. (tawon parasitoid), Tachinidae Tetrastichus sp. (lalat uzi), dan Isotima sp. berfungsi lebih tinggi pada pertanaman dibandingkan dengan pertanaman yang disemprot insektisida setiap minggu. Beberapa jenis tanaman refugia yang biasa dipakai adalah bunga matahari, bunga pukul empat, kenikir, bunga kertas, bunga tapak dara, kacang panjang dll. Tanaman yang dapat digunakan sebagai tanaman refugia sebaiknya memilki karakteristik berbunga dan berdaun lebar, karena dapat memancing predator alami dengan nektar bunga sekaligus sebagai tempat perlindungan. Beberapa jenis tanaman gulma juga bisa dijadikan refugia. Beberapa jenis laba-laba menjadikan rumput liar sebagai tempat perlindungan mereka. Semakin tersedianya refugia bagi tempat perlindungan dan pembiakan musuh-musuh alami, khususnya gulma-gulma berdaun lebar. Berbeda dengan insektisida yang hasilnya bisa dilihat hanya dalam kurun waktu sehari hingga dua hari, efek dari menanam tanaman refugia baru bisa dilihat dalam beberapa hari hingga minggu. Namun efek refugia akan berlangsung sepanjang tahun. Sedangkan aplikasi pestisida harus dilakukan secara berkala sesuai situasi perkembangan hama di lahan. Terlebih penggunaan refugia lebih ramah lingkungan, tidak merusak tanah, dan pastinya lebih murah. Hariyani, SP Penyuluh Pertanian DTPHBUN Prov. Sulsel