Loading...

Rehabilitasi Tanaman Kakao

Rehabilitasi Tanaman Kakao
Rehabilitasi tanaman kakao adalah usaha membangun kembali suatu blok pertanaman kakao yang kondisinya telah rusak dengan cara menyambung dengan klon unggul anjuran (klonalisasi). Tujuan rehabilitasi tanaman kakao adalah untuk mengembalikan kearah pertumbuhan yang baik agar produksi dan produktivitas meningkat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Klonalisasi pada tanaman kakao dapat dilakukan melalui dua metode yaitu metode okulasi tanaman dewasa dan metode sambung samping tanaman dewasa/tua. Rehabilitasi tanaman pada perkebunan rakyat dianjurkan melalui metoda sambung samping tanaman kakao dewasa. Persyaratan teknisSebelum melaksanakan rehabilitasi, perlu dilakukan survey dan penetapan blok tanaman kakao yang akan direhabilitasi. Survey ini perlu dilakukan untuk menetapkan kegiatan berikutnya, apakah penanaman tersebut perlu direhabilitasi atau dilaksanakan tanam ulang/replanting. Apabila kondisi tanaman pada kebun 50% baik, maka dilaksanakan rehabilitasi, tetapi bila kurang dari 50% dianjurkan untuk tanam ulang/replanting. Persyaratan Teknis yang harus dipenuhi dalam penetapan rehabilitasi tanaman kakao adalah: 1) Umur tanaman telah tua tapi kondisinya masih kokoh atau umur tanaman masih muda tapi kondisinya rusak; 2)Produksi tidak optimum, tetapi masih ditunjang dengan kondisi perakaran dan batang yang kuat; 3) Produktivitas rendah 70% dari standar; 8) Memenuhi persyaratan kesesuaian lahan.Metoda RehabilitasiRehabilitasi tanaman kakao dilakukan dengan cara sambung samping dan sambung pucuk pada tunas air dengan menggunakan bahan tanaman klon unggul. Rehabilitasi tanaman dilaksanakan pada Bulan November-Desember atau pada awal musim penghujan saat tanaman tumbuh aktif. Rehabilitasi tanaman kakao dilaksanakan pada batang bawah yang sehat dan tumbuh aktif yang ditandai dengan kulit batang yang mudah dibuka. Kesiapan pelaksanaan teknisKesiapan bahan tanaman: Dalam melaksanakan Rehabilitasi kakao, bahan atas (entres) tanaman kakao yang dianjurkan yaitu klon-klon unggul anjuran yang jelas identitasnya, seperti klon ICS 13, ICS 60, GC 7, TSH 858, UIT 1, RCC 70, RCC 71, RCC 72, RCC 73, dan klon unggul lokal. Bahan entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan yang daunnya telah menua, dengan diameter 0,75-1,5 cm, panjang 10-12 cm dengan 3-5 mata tunas. Pangkal entres disayat miring pada salah satu sisinya sehingga diperoleh bentuk sayatan yang runcing seperti baji dan panjang sayatan 3-4 cm. Untuk memeperolehtingkat keberhasilan yang tinggi entres yang digunakan harus dalam keadaan segar. Ketersediaan bahan tanaman: Bahan tanaman yang digunakan untuk Rehabilitasi tanaman kakao adalah bahan tanaman yang telah direkomendasi oleh Pusat Penelitian atau Dinas Provinsi setempat yang membidangi perkebunan. Agar ketersediaan bahan tanaman dapat terjamin, maka perlu dibangun kebun benih klon unggul.Kesiapan peralatan: Peralatan yang digunakan untuk rehabilitasi tanaman kakao adalah pisau okulasi, gunting pangkas, sabit, arit bergalah ( antel) , gergaji dan cangkul harus tajam.Kesiapan sarana produksi: Sarana produksi yang dipersiapkan berupa pupuk untuk meningkatkan produksi dan untuk pengendalian hama dan penyakit kakao, diutamakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Namun demikian masih dimungkinkan menggunakan pestisida sebagai alternatif terakhir.Kesiapan sumberdaya manusia: Untuk meningkatkan keberhasilan perlu adanya tenaga yang terampil melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan pendampingan. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP) Sumber: 1. Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Kakao. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. 2010.2. www.petanihebat.com