Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Kedelai merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya, mengandung zat anti oksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Konsumsi penduduk Indonesia terhadap kedelai berupa hasil olahan (seperti tempe, tahu, kecap, tauco, susu kedelai, oncom, yogurt. Upaya meningkatkan produksi kedelai nasional dapat ditempuh dengan tiga pendekatan yaitu 1) peningkatan produktivitas, 2) peningkatan intensitas tanam dan 3) perluasan areal tanam. Upaya peningkatan produktivitas dapat ditempuh melalui perbaikan varietas, perbaikan teknik budidaya dan menekan kehilangan hasil melalui perbaikan sistem panen dan pasca panen. Peningkatan intensitas tanam dengan menanam kedelai berturut-turut ditengarai kurang baik karena ada efek alelopati terhadap tanaman kedelai yang kedua. Upaya peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan perbaikan kondisi lahan dengan ameliorasi, pemupukan berimbang dan terpadu,penggunaan varietas unggul dan perbaikan tata air. Alternatif teknologia meliorasi dan pemupukan telah tersedia namun perlu disesuaikan dengan kondisi lahan setempat mengingat adanya variasi potensi kesesuaian lahannya. Potensi pengembangan tanaman kedelai diarahkan ke lahan lahan yang sesuai untuk tanaman ini seperti lahan sawah, tegalan dan lahan alang-alang. Lahan perkebunan dan kebun campuran tidak menjadi target pengembangan karena tidak memungkinkan untuk dikonversi. Berdasarkan kelas kesesuaian,masing-masing lahan digolongkan lahan berpotensi tinggi, sedang dan rendah. Lahan Sawah Berdasarkan kelas kesesuaian lahannya, lahan sawah dibedakan menjadilahan sawah berpotensi tinggi, sedang dan rendah. Lahan sawah yangberpotensi tinggi adalah lahan yang memiliki kelas kesesuaian lahan S1 untukkedelai. Lahan ini tergolong tidak memiliki kendala berarti untuk budidaya kedelai.Sawah yang berpotensi sedang adalah lahan sawah yang memiliki kelaskesesuaian lahan S2 untuk kedelai. Sedangkan sawah berpotensi rendah adalahlahan yang mempunyai kelas kesesuaian S3.Pada lahan sawah, kedelai bisa ditanam setelah tanaman padi pada polatanam padi-padi-palawija atau padi-palawija-palawija. Dosis pemupukan NPK spesifik lokasi ditetapkan berdasarkan hasil uji tanah di laboratorium atau ujicepat menggunakan PUTS (perangkat uji tanah sawah). Namun untuk kepentingan perencanaan di tingkat kabupaten, rekomendasi pemupukan ditetapkan berdasarkan kesesuaian lahan untuk kedelai atau potensinya.Berdasarkan hal tersebut, lahan sawah dapat digolongkan menjadi sawah berpotensi tinggi, sedang dan rendah. Pola: Padi-Padi-Kedelai Tanaman kedelai yang ditanam langsung setelah padi bisa mendapatkan manfaat dari residu hara dari pemupukan padi. Oleh karenanya, kedelai yang ditanam setelah padi memerlukan lebih sedikit pupuk dibandingkan ditanam setelah palawija lainnya. Rekomendasi pemupukan serta pengelolaan tanah yang diperlukan sbb. Pupuk N praktis tidak diperlukan pada sawah berpotensi tinggi, tetapi pada sawah berpotensi sedang dan rendah masih diperlukan 25 kg urea/ha sebagai starter pertumbuhan. Kebutuhan N tanaman bisa dipenuhi dari hasil fiksasi N dari udara oleh bakteri Rhizobium. Untuk meyakinkan proses tersebut terjadi dengan baik, diperlukan inokulasi Rhizobium dengan dosis 200 g untuk 40kg benih. Produk inokulum yang baik adalah inokulum yang juga mengandung bakteri pelarut fosfat, kalium dan hormon pertumbuhan, selain bakteri pengikat N udara. Pemakaian inokulum yang baik dapat menekan 100% kebutuhan N dan 50% kebutuhan pupuk P dan K. Pupuk P diberikan dalam bentuk pupuk tunggal SP-36 diberikan dengandosis 0 – 50 kg/ha. Sedangkan pada sawah berpotensi sedang dan rendahmasing-masing dianjurkan 50 – 100 kg/ha dan 100 – 150 kg/ha. Bilamenggunakan inokulan bakteri pelarut P, dosis pemupukan P bisa ditekansampai batas minimal yaitu 0 kg untuk sawah berpotensi tinggi, 50 kg SP-36untuk sawah berpotensi sedang dan 100 kg SP-36 untuk sawah berpotensirendah. Bila tidak menggunakan inokulum tersebut, tanaman perlu pupuk SP-36dengan dosis tertinggi agar polong yang terbentuk bisa mengisi dengansempurna. Pupuk K diberikan dalam bentuk pupuk tunggal KCl diberikan dengandosis 0 – 50 kg/ha pada sawah berpotensi tinggi. Sedangkan sawah berpotensisedang diperlukan 50 – 75 kg/ha, dan sawah berpotensi rendah diperlukan 75 –100 kg KCl/ha. Bila inokulan pelarut K digunakan, tanaman kedelai pada sawahberpotensi tinggi tidak perlu pupuk K sama sekali. Sedangkan pada sawahberpotensi sedang dan tinggi masih diperlukan dengan dosis minimal (Tabel 1).Inokulum bakteri pelarut K yang biasanya sudah dicampur dalam inokulumRhizobium. Bila tidak menggunakan inokulum tersebut, tanaman masih perlupupuk KCl dengan dosis maksimal agar pertumbuhan tanaman kekar dan tidakmudah terserang penyakit. Pupuk majemuk standar yang ada di pasaran saat ini tidak efisien untuktanaman kedelai karena tanaman kedelai hanya membutuhkan N dalam jumlahkecil, disisi lain kebutuhan P dan K cukup tinggi. Aplikasi minimal pupukmajemuk NPK Phonska (15-15-15), Pelangi (20-10-10) dosis 100 kg/ha masihmemberikan unsur N yang berlebih. Dilain pihak hara P dan K tidak terpenuhisehingga harus ditambahkan pupuk tunggal SP-36 dan KCl. Pemberian N yangtinggi akan menghambat proses fiksasi N oleh bakteri bintil akar pada tanamankedelai. Apabila pupuk majemuk terpaksa harus digunakan, sebaiknyaberpatokan pada kadar N dimana dosis pupuk majemuk yang diberikan dihitungberdasarkan kebutuhan N tanaman kedelai. Konsekuensinya adalah masih perlumenambahkan pupuk tunggal yang mengandung P dan K untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Alternatif lain adalah membuat pupuk majemuk NPKdengan formulasi 5-15-10. Untuk alasan efisiensi waktu dan biaya, direkomendasikan untuk menerapkan pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah. Tanam dapat dilakukan dengan sistem tugal dengan jarak tanam 40 x 15 cm. Untukmengurangi penguapan dan menekan pertumbuhan gulma sangat disarankanuntuk menggunakan jerami sebagai mulsa. Sementara itu, untuk menghindariadanya genangan air apabila hujan, perlu dibuat saluran drainase di sekelilingdan tengah petak sawah dengan interval 5 – 10 m. (Yulia Tri S) Email: yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka:: Tim Balai Penelitian Tanah Bogor 2018, Rekomendasi Pemupukan Tanaman Kedelai pada berbagaibtipe penggunaan lahan Ghaffar. Dkk. 2011. Analisis Resiko Produksi Usahatani Kedelai pada Berbagai Tipe Lahan di Sulawesi Selatan.