Cabai merupakan salah satu komoditas yang tak pernah ditinggalkan oleh masayarakat Indonesia. Bisa dibilang cabai sudah menjadi bagian dari budaya orang Indonesia. Cabai merupakan bumbu dapur yang wajib ada. Karena itu, saat harga cabai mahal pun, masyarakat tetap mengkonsumsi cabai meski secara kuantitas lebih kecil. Hambar rasanya jika makan tidak memakai sambal, yang memang bahan bakunya berasal dari cabai. Saat mahal, harga cabai bisa mencapai Rp. 100.000,- per kilogramnya, dan di saat murah pun harganya tidak anjlok. Ini membuktikan bahwa dari segi harga, cabai relatif stabil. Kebutuhan masyarakat akan cabai pun juga stabil. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat sendiri, tanaman cabai terasa sangat penting baik di pasaran maupun konsumsi rumah tangga. Hotel, restoran, warung-warung makan, sampai pedagang gorengan juga rumah tangga selalu menggunakan cabai sebagai bumbu masakan. Hal tersebut mengingat banyak ragam menu masakan yang menjadikan cabai sebagai bumbu utama. Makanan khas Lombok memang terkenal ciri khas rasa pedas, karena kebanyakan masyarakat di Lombok menjadikan cabai sebagai bahan dasar sajian masakan mereka. Berbagai menu khas daerah yang menjadikan cabai sebagai bumbu utama dan juga memiliki ciri khas pedas antara lain pelecing kangkung, sate bulayak, nasi puyung, ayam taliwang, beberuq terong, rujak terasi dan masih banyak lagi. Dengan melihat peluang pasar yang ada, petani pun diharapkan dapat menjadikan komoditas cabai sebagai komoditi yang dapat menghasilkan keuntungan. Untuk menarik minat petani, tentu tidaklah mudah. Butuh pemahaman dan pendampingan yang lebih agar petani benar-benar bisa memanfaatkan peluang yang ada. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah melalui Sekolah Lapang dalam Mendukung UPSUS (SL-UPSUS) Komoditas Cabai. Sekolah Lapang (SL) merupakan proses pembelajaran nonformal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usaha, identifikasi dan mengatasi permasalahan, mengambil keputusan serta menerapkan teknologi sesuai dengan sumber daya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usaha tani lebih efisien, berproduksi tinggi dan berkelanjutan. Melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL) ini diharapkan agar para peserta tidak sekedar mendapatkan teori namun dapat mempraktekan secara langsung di lahan. Salah satu kegiatan Sekolah Lapang (SL) yang dilaksanakan adalah di WKPP Lembuak, yang berada di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Peserta yang ikut dalam kegiatan sekolah lapang merupakan petani yang berasal dari kelompok-kelompok tani yang ada di wilayah Desa Lembuak. Adapun peserta yang diikutkan sebanyak 20 orang petani yang memang berkeinginan untuk belajar lebih dalam tentang budidaya tanaman cabai. Kegiatan Sekolah Lapang, terlebih dahulu diawali dengan rembug tani untuk menentukan kegiatan-kegiatan dan materi-materi apa yang dapat disampaikan pada Sekolah Lapang. Materi ini tentunya disesuaikan dengan kondisi di lahan. Petani tentu menyambut baik untuk mengikuti kegiatan ini dari awal hingga akhir. Rembug Tani dalam rangka SL-UPSUS komoditi cabai di Lembuak sendiri dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2017, yang bertempat di Gapoktan Tunggal Kayun, yang merupakan Gabungan dari kelompok-kelompok tani yang ada di Desa Lembuak. Peserta yang hadir berjumlah 20 (dua puluh) orang. Dalam rembug yang diadakan akhirnya ditentukan bahwa permasalahan lapangan yang paling sering dihadapi oleh petani adalah pengendalian Hama dan Penyakit tanaman. Petani belum mampu mengidentifikasi OPT yang menyerang tanaman sehingga sering salah dalam pengendaliannya. Mengingat bahwa mengidentifikasi OPT merupakan tahapan yang sangat penting dalam perlindungan tanaman serta cara dan teknik pengendalian OPT secara tepat, terlebih dahulu OPT perlu diidentifikasi dengan benar. Selain menentukan permasalahan yang sering dihadapi oleh petani saat ini, pada rembug tani yang dilaksanakan di Desa Lembuak ini juga berhasil menyepakati 5 hal yaitu : 1. Lahan yang dijadikan lokasi percontohan adalah di lahan Saparmiadi sebagai Ketua Gapoktan, dengan luas lahan 10 are.2. Teknik pengolahan tanah menggunakan teknik pengolahan tanah sempurna, dengan bedengan yang menggunakan mulsa. 3. Varietas yang digunakan adalah benih unggul varietas dewata dengan jarak tanam 40 x 80, agar lebih mudah dalam mengidentifikasi OPT pada tanaman cabai sejak dini hingga panen nanti. 4. Menetapkan jadwal penanaman yakni pada tanggal 27 Juli 2017, dan menggunakan pupuk dasar organik.5. menetapkan jadwal SLI sd. IV dengan materi yang akan dibahas pada saat Sekolah Lapang sebagai berikut: - Pengolahan lahan, aplikasi pupuk dasar dan pindah tanam- Pemupukan susulan serta Identifikasi dan Pengendalian OPT di masa vegetatif- Identifikasi dan Pengendalian OPT di masa generatif- Pengamatan dan pengendalian OPT menjelang masa panenSetelah menentukan jadwal dan juga materi apa saja yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, maka kegiatan Rembug Tani di Desa Lembuak pun diakhiri. Harapan petani dan penyuluh setempat adalah semoga kegiatan yang sangat bermanfaat ini dapat terus dilaksanakan demi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani, peningkatan kesejahteraan petani, juga dalam rangka memenuhi kebutuhan cabai di Nusa Tenggara Barat khususnya dan Indonesia umumnya sehingga makanan khas daerah yang berbumbu dasar cabai dapat terus dilestarikan. Penyusun: Agnes Lado, SP. (PPL Desa Lembuak)