Frasa “Revolusi Industri Keempat” pertama kali diciptakan oleh Klaus Schwab tahun 2016 dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Pada tahun yang sama Revolusi Industri keempat menjadi tema Pertemuan Tahunan World Economy Forum (WEC) pada tanggal 10 Oktober 2016 di Davos-Klosters, Swiss. Revolusi industry keempat (4IR) ditandai dengan munculnya terobosa teknologi yangterus berkemabang di sejumlah bidang seperti; 1) Internet of Things (IoT), 2) teknologi robotic dan sensor, 3) virtual relity (VR) , 4) kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence/ (AI), 5), bioteknologi, 6) teknologi 3D Printing dan, 7) kendaraan otonom (autonomous vehicles), 8) Human-Machine Interface akan mengubah cara kita hidup dan bekerja. Jika Revolusi industri Ketiga (revolusi digital) melibatkan perkembangan computer dan IT (Teknologi Informasi) sejak pertengahan abad 20, maka Revolusi industry keempat tumbuh dari sana. Meskipun demikia, 4IR tetap dianggap sebagai era baru dan bukan kelanjutan dari revolusi digital ini karena ledakan perkembangan dan teknologinya benar-benar mengubah banyak hal. Menurut Klaus Schwab (2016) bahwa the new age ini akan berbeda dilihat dari kecepatan trobosan teknologi, cakupan luas dan dampak luar biasa dari sisitem baru. Pengalaman di luar pertanian menunjukkan bahwa kondisi yang saling mendisrupsi di antara era revolusi industri dapat terjadi, karena pesatnya perkembangan teknologi digital. Seperti kecerdasan buatan (artificial intelligent), jika dipadukan dengan internet of thing (IoT) ternyata mampu mengolah jutaan data (big data) menjadi suatu keputusan atau kesimpulan. Pertanian Era 4.0 Era pertanian 4.0 ditandai penggunaan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan interne. Kedepan pengolahan tanah, tanam, panen hingga pengolahan dilakukan menggunakan remote control dari rumah. Pemasaran hasil pertanian menggunakan fasilitas e-marketing dan e-commerce yang terintegrasi dengan internet. Agenda utama dari pertanian 4.0 adalah tranformasi digital di sector pertanian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi digital dibidang pertanian. Pada akhirnya sisitem ini mengrucut pada pertanian pintar, pertanian presisi (pertanian terukur), pertanian vertikal, dan bioteknologi. Salah satu pendorong keberhasilan dalam upaya mengimplementasikan Industri 4.0 adalah inovasi yang dihasilkan. Saat ini, tingkat inovasi Indonesia masih berada pada level 0.3 persen, sedangkan agar bisa unggul dalam bersaing dibutuhkan tingkat inovasi 2 persen. Arah inovasi pertanian Indonesia mengikuti perkembangan dunia yang memasuki revolusi 4.0. Hai ini ditandai dengan inivasi alat-alat mesin pertanian (Alsintan) yang sudah terintegrasi dengan jaring internet. Inovasi pertanian yang banyak dikembangkan pada saat ini adalah konsep pertanian cerdas yang bisas juga disebut smart farming atau precision agriculture. Konsep ini merujuk pada penerapan teknologi informasi pada bidang-bidang pertanian. Saat ini Litbangtan Kementan RI juga mengikuti tren untuk menghasilkan inovasi alsintan yang mendukung pertanian 4.0 seperti autonomous tractor, drone penebar benih, drone penyemprot hama dan penyakit tanaman, drone pemupukan, smart irrigation, smart green hoaus, dan telescoping boom sprayer. Inovasi lain yang kekinian yakni mobile dryer, Jarwo riding transplanter, penanam tebu dan pemasangan drip line irigasi. Kesiapan Menghadapi Pertanian 4.0 Keunggulan suatu negara terutama ditentukan oleh empat hal, yang semuanya ternyata bertumpu pada kemampuan sumberdaya insani (keberdayaan dan kemandirian) di masing-masing bidang dalam beradaptasi secara antisipatif terhadap dinamika perubahan lingkungan strategisnya. Kontribusi ke empat hal tersebut adalah: (1) inovasi dan kreativitas sebesar 45 %, (2) jaringan kerjasama 25 %, (3) teknologi 20% dan (4) sumberdaya alam 10 % (Bank Dunia, 1995) Manghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 bidang pertanian, Indonesia membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menguasai IT, mempunyai competensi, inovatif, dan , terlatih serta infrastruktur yang baik untuk mengaplikasikan Revolusi Industri 4.0 di seluruh Wilayah NKRI. (Khairul Amri)