Rotasi tanaman merupakan cara yang tepat untuk diterapkan, yaitu praktik penanaman beberapa jenis tanaman secara bergiliran di satu luasan lahan. Petani di Indonesia telah mengetahui pentingnya penerapan pola tanam dalam usaha pertanian secara rotasi. Pertimbangannya adalah memanfaatkan lahan untuk memproduksi komoditas guna mencukupi kebutuhan pangan (konsumsi) atau komoditas yang mudah dijual sebagai sumber pendapatan. Pola rotasi tersebut dapat berbeda antar wilayah, disebabkan oleh perbedaan kondisi iklim, khususnya ketersediaan air. Kini penerapan rotasi tanaman semakin penting, mengingat besarnya dampak perubahan iklim, khususnya perubahan pola curah hujan. Menyempitnya luas lahan pertanian akibat konversi untuk keperluan non pertanian mengharuskan ditingkatkannya frekuensi pertanaman dalam setahun melalui rotasi tanaman. Terjadinya perubahan pola curah hujan di beberapa wilayah telah mengubah waktu tanam padi sawah dan berkurangnya areal tanam. Oleh sebab itu dalam menentukan pola rotasi, baik jenis tanaman komoditas maupun luasannya dan waktu tanam perlu mempertimbangkan kondisi iklim dan ketersediaan air. Pola Rotasi Pola rotasi memiliki beberapa tujuan dan pertimbangan terutama untuk mencukupi kebutuhan pangan poko (padi) dan palawija untuk dijual agar mendatangkan pendapatan, maka pola rotasi mempunyai beberapa tujuan sebagai berikut : a). ketahanan pangan, yaitu meningkatkan produksi pangan melalui perlasan aareal pertanaman/panen dengan meningkatkan frekuensi tanam per tahun yang disesuaikan dengan ketersediaan air, b). mempertimbangkan harga pasar komoditas yang akan ditanam pada musim tertentu, sehingga pendapatan per tahun lebih tinggi, c). menanam jenis komoditas yang diperlukan masyarakat pada musim dan areal tertentu, d). peningkatan kesuburan/kimia tanah karena adanya dekomposisi sisa-sisa tanamansebelumnya terutama dari jenis legume (kedelai) yang ditunjukkan oleh meningkatnya C organik tanah dan hara, e). Rotasi tanaman akan meningkatkan kualitas struktur tanah karena peningkatan bahan organik, perbaikan aerasi dan pergantian antara tanaman berakar dalam dengan tanaman dengan perakaran dangkal, f).mencegah akumulasi hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman yang ditanam tunggal/satu jenis tanaman, g) meningkatkan populasi dan jenis mikroorganisme penyubur tanah serta menekan nematoda dan patogen lainnya, h). meningkatkan produktivitas padi, jagung yang sebelumnya lahan tersebut ditanami kedelai atau ditanam bersamaan, karena adanya efek berantai dari tanaman sebelumnya sehingga terjadi keberlanjutan usaha. Keuntungan pola rotasi tanaman tidak saja langsung dapat terlihan pada lahan dan musim tanam bersangkutan, tetapi dapat dirasakan pada tahun-tahun berikutnya. Faktor Pembatas Rotasi Tanaman Pangan Basnay manfaat dari penerapan rotasi tanaman pangan dalam setahun, baik terhadap kesuburan tanah, produktivitas dan produksi tanaman maupun peningkatan pendapatan, pengurangan intensitas hama-penyakit tanaman sehingga usahatani lebih berkelanjutan. Namun keberhasilan pola rotasi tanaman ditentukan oleh beberapa faktor terutama ketersediaan air, tenaga kerja, dan rendahnya keuntungan karena rendahnya hasil tanaman pada musim kemarau dan tingginya risiko kekeringan. Agar suatu pertanaman dapat diterapkan pada suatu musim kecukupan air (KCA) > 0 atau terdapat kelebihan air. Bila KCA <0, maka pertanaman akan kekeringan yang berakibat tidak normalnya produktivitas yang berakibat gagal panen. Oleh sebab itu perlu dipertimbangkan kebutuhan air pertanaman sebagai dasar perhitungan. Kebutuhan air tanaman dapat didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan untuk memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi (E-T-tanaman) tanaman yang sehat, tumbuh pada sebidang lahan yang luas dengan kondisi tanah yang tidak mempunyai pembatas antara lengas tanah dan kesuburan tanah, dan mencapai potensi produksi penuh pada kondisi lingkungan tumbuh tertentu. Perbedaan nyata kebutuhan air bergantung pada jenis tanaman, seperti padi sawah dan palawija lahan kering. Pada pertanaman padi sawah terdapat kegiatan penyiapan lahan dan pengairan selama pertumbuhan tanaman, yang banyak memerlukan air. Pada pertanaman palawija lahan kering tidak ada kegiatan penyiapan lahan secara basah dan pengairan terus menerus. Ketersediaan air sering tidak menentu terutama pada musim tanam ke-2 (MK-1) dan ke-3 (MK-2), sehingga menjadi pembatas penerapan rotasi tanaman . Apabila pola rotasi tanaman diterapkan seperti biasanya, perubahan iklim, berpotensi menyebabkan pertanaman terancam banjir atau kekeringan yang berakibat pada gagal panen. Oleh sebab itu perlu selalu mempertimbangkan ketersediaan air pada setiap musim tanam. Kecukupan Air Pola Rotasi Kebutuhan air bagi tanaman pada suatu pola rotasi merupakan langkah awal untuk mempertimbangkan apakah memungkinkan pola rotasi tanaman bisa diterapkan di suatu wilayah. Kecukupan air (KCA) merupakan selisih antara ketersediaan air (KSA) pada suatu wilayah pada suatu periode tanam dengan kebutuhan air pertanaman (KAP) pada setiap periode/musim. Ruslia Atmaja Sumber : Puslitbang Tanaman Pangan-Badan Litbang Pertanian