Loading...

RUBUHA, ALTERNATIF SOLUSI PENGENDALIAN SERANGAN TIKUS

RUBUHA,  ALTERNATIF SOLUSI PENGENDALIAN SERANGAN TIKUS
Apa itu Rubuha? Rubuha atau Rumah Burung Hantu adalah salah satu teknologi pertanian yang berfokus pada pengembangan musuh alami tikus yang diketahui merupakan salah satu hama padi terbesar, Rubuha merupakan salah satu langkah untuk meminimalisir dan mengendalikan serangan hama tikus apabila rubuha tersebut dapat sukses terisi dan ditempati oleh burung hantu (T. alba) Tyto Alba (T. Alba) sebagai pengendali serangan tikus Burung hantu (T. Alba) merupakan hewan karnivora dan nocturnal yang dikenal sejak dahulu sebagai pemangsa tikus. Sebagai predator, burung hantu jenis Serak jawa dikenal efektif dan ampuh dalam penanggulangan hama tikus. sepasang burung hantu bisa melindungi lahan pertanian sebanyak 25 hektar. Efektifnya, tyto laba bisa memangsa hingga kurang lebih 1300 ekor tikus. hal ini menjadikan pengendalian tikus dengan tyto alba lebih efektif daripada menggunakan racun tikus atau gropyokan. Burung hantu yang berumur 7 -9 bulan bisa secara alami akan meninggalkan sarang dan mencari pasangan. Namun, rumah tempat tinggal burung hantu hanya bisa ditinggali oleh satu keluarga saja, oleh karena itu pengembangan rubuha diperlukan untuk menjadi tempat tinggal burung hantu dan tempat berlindung dari pemburu yang kerap memburu mereka. Perkembangbiakan tyto alba Fase kawin tyto alba terjadi pada akhir bulan penghujan dan awal kemarau (antara bulan maret hingga mei). Meski terkenal sebagai hewan soliter, pada fase mating burung hantu jantan dan betina biasanya akan bertemu dan membuat sarang untuk melaksanakan ritual kawin dan membesarkan anak-anak mereka. Usia burung hantu siap kawin adalah yang berumur diatas satu tahun (13 atau 14 bulan). Setelah ritual kawin selesai, burung hantu jantan akan akan tetap tinggal bersama burung hantu betina. Umumnya, jumlah telur burung hantu adalah 3 hingga 4 butir yang keluar dari induk burung hantu dalam jangka waktu 1 hingga 4 hari. Telur-telur tersebut tidak menetas dalam waktu yang bersamaan. Sejak dimulainya masa bertelur, kedua orangtua burung hantu akan sangat protektif terhadap telur-telurnya. Burung hantu betina tidak akan mengerami telur-telurnya sampai semua telur sudah ia keluarkan. Selama masa pengeraman telur, induk jantan akan keluar mencari makan untuk betinanya. Normalnya, telur burung hantu akan dierami oleh induk betina selama 32 hingga 36 hari. Setelah 32 hari, telur burung hantu akan menetas. Induk betina burung hantu akan tetap mengerami telurnya hingga semua telur menetas. Interval waktu dari telur pertama yang menetas hingga telur terakhir kurang lebih 2 hingga 3 minggu. Bayi burung hantu akan memecahkan telurnya dengan ‘paruh telur’ (egg beak) yang dimilikinya. Bayi burung hantu lahir dalam keadaan buta dan tanpa bulu. Dalam 2 hingga 3 hari, secara perlahan-lahan akan muncul bulu halus yang disebut bulu jarum, dan dalam 5 hingga 7 hari, mata burung hantu akan terbuka. Pada fase penyapihan, kedua induk burung hantu akan memberi makan dan mendidikan anak-anaknya hingga si anak burung hantu mampu terbang dan mencari mangsa sendiri. Tidak semua anak burung hantu yang ditetaskan akan bertahan. Seperti hukum alam lainnya, anakan burung hantu yang terkuat adalah yang akan bertahan. Anak burung hantu yang lemah biasanya akan mati karena berbagai sebab terjatuh dari kandang, kurang mendapatkan makanan karena persaingan perebutan makanan. Anakan burung hantu mulai bisa terbang pada usia 9 hingga 10 minggu setelah menetas, dan mereka akan mulai belajar berburu sendiri di luar kandang pada usia 11 hingga 13 minggu. Anak burung hantu akan benar-benar meninggalkan kandangnya untuk hidup independent saat menginjak usia 7-9 bulan Membuat Rubuha Sederhana : Minimnya pohon besar yang menjadi tempat tinggal tyto alba menjadi alasan pentingnya membuat rubuha. Rubuha sederhana bisa dibuat dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana, tinggi rubuha yang ideal kurang lebih 3.5 m. Sedangkan bangunan rubuha biasanya berukuran panjang 60 cm x 40 cm dengan tinggi 50 cm. Mahalnya pembuatan rubuha menjadi penghambat kenapa pengembangan teknologi pengendalian hama tikus dengan rubuha menjadi kurang populer di masyarakat pertanian. Meskipun begitu, sebaiknya konsep pembangunan rubuha dengan menggunakan metode gotong royong bisa menjadi solusi pengembangan rubuha. selain itu tingginya tingkat pemburuan burung hantu untuk diambil telurnya juga menjadikan langkanya populasi tyto alba. Alangkah baiknya diperlukan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya masyarakat agraris untuk memberikan penerangan tentang larangan perburuan tyto alba. Penulis : Vitha Oktaviani, SP Penyuluh Pertanian BPP Caringin sumber : BBPKH Cinagara https://caramerawatburunghantu.blogspot.com/2015/01/siklus-hidup-burung-hantu.html