Loading...

SAPI KERBAU KOMODITAS ANDALAN NEGERI (SIKOMANDAN)

SAPI KERBAU KOMODITAS ANDALAN NEGERI (SIKOMANDAN)
Tahun 2020, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), mencanangkan suatu kegiatan yang disebut SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri). Program ini merupakan program andalan bagi Dirjen PKH yang bertujuan untuk meningkatkan populasi dan produksi sapi dan kerbau di Indonesia. Pilihan terhadap sapi dan kerbau, disebabkan karena daging sapi dan kerbau sebagai salah satu sumber protein hewani yang sangat disukai masyarakat. Sapi dan kerbau sebagai salah satu sumber protein hewani, merupakan ternak peliharaan yang diusahakan oleh petani dalam skala kecil sebagai usaha sambilan atau disebut dengan peternakan rakyat. Sistem peternakan rakyat sebagai usaha yang terintegrasi dalam sistem usaha tani di pedesaan (diversifikasi pertanian), mampu menjadi penopang ekonomi keluarga. Dengan banyaknya peternak yang terlibat pada usaha peternakan, diharapkan kondisi tersebut dapat meningkatkan dan menumbuhkan ekonomi kerakyatan terutama di pedesaan. Kebutuhan daging nasional saat ini belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri karena pertumbuhan populasi sapi dalam negeri masih rendah atau belum optimal. Lambatnya pertumbuhan populasi sapi dalam negeri secara umum disebabkan karena belum optimalnya manajemen reproduksi ternak sapi ditingkat peternak dan adanya gejala penurunan peforma ternak yang berdampak terhadap penurunan produksi daging. Mencermati hal tersebut dalam upaya percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau, pemerintah menjalankan Program Sikomandan melaui kegiatan Optimalisasi Reproduksi. Melalui Optimalisasi Reproduksi diharapkan dapat memperbaiki system pelayanan peternakan kepada masyarakat, perbaikan manajemen reproduksi dan produksi ternak serta perbaikan sistem pelaporan dan pendataan reproduksi ternak melalui sistem aplikasi iSIKHNAS. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan Optimalisasi Reproduksi, maka pelaksanaannya dilakukan secara teritegrasi dengan kegiatan pendukung lainnya yaitu pendistribusian semen beku dan N2 cair, penanggulangan gangguan reproduksi, penyelamatan pemotongan betina produktif dan penguatan pakan serta peningkatan SDM melalui pelatihan Inseminasi Buatan (IB), Pemeriksa Kebuntingan (PKb) dan ATR. Langkah operasional untuk mewujudkan keberhasilan Sikomandan dilakukan antara lain : 1) gerakan optimalisasi reproduksi pada 5,8 juta akseptor yang terintegrasi dengan pengembangan Hijauan Pakan ternak (HPT) pada luasan 2.341 Ha, 2) penanganan gangguan reproduksi (237.540 ekor) , 3) pengendalian pemotongan betina produktif (4.000 ekor). Optimalisasi Reproduksi merupakan program nasional untuk ketahanan pangan yang harus dijalankan oleh seluruh instansi pemerintah terkait pusat maupun daerah untuk menterjemahkan, merumuskan dan mengimplementasikan strategi dan upaya untuk mensukseskan program tersebut. Program lain yang dijalankan oleh Ditjen PKH guna mendukung Sikomandan adalah : 1) Penambahan Indukan Impor sebanyak 15.000 ekor yang disebar pada 9 Provinsi Prioritas dan juga pada 6 UPT Perbibitan. 2) Integrasi sapi sawit dilaksanakan pada 6 provinsi seluas 150.000 Ha, 3) Memfasilitasi akses KUR (Rp.9,01 T), asuransi ternak (150.000 ekor), dan investasi (Rp.3,80 T), 4) penanganan Penyakit Hewan Menular (PHMS) sebanyak 5.970.250 dosis, 5) Mensupport program KOSTRATANI. Optimalisasi reproduksi yang tidak optimal akan berimplikasi pada banyaknya kejadian IB berulang atau sevice per conseption yang tinggi, rata-rata 2-3 sehingga jarak beranak menjadi lebih panjang dari normalnya. Selain itu masih banyak terjadi perkawinan sedarah (inbreeding) terutama di daerah dengan pemeliharaan temak secara ektensif yang berpengaruh terhadap rendahnya mutu genetik yatg akan berdampak pada rendahnya produktivitas ternak. Belum optimalnya manajemen reproduksi sapi potong meyebabkan kerugian bagi peternak baik secara materi maupun immaterial. Edizal (Pusat Penyuluhan Pertanian); Materi : Rancangan Program dan Kegiatan PKH Tahun 2020, Tayangan Rapim A Lingkup Kementan , Tgl 3 Januari 2020