Alam di pedesaan yang kaya akan hijauan dan limbah pertanian yang sangat melimpah, sayang sekali bila tidak dimanfaatkan. Petani dan peternak kita begitu cerdasnya melihat peluang yang ditawarkan oleh alam dengan sumber daya alamnya. Secara turun temurun telah mengikuti kebiasaan orang tua mereka dengan memelihara raja kaya (bhs. Jawa, rojo koyo/memelihara ternak). Dari sekian pilihan ternak yang ada, memelihara sapi jelas lebih menguntungkan. Kami akan berbagi ilmu dengan para warga netizen tentang bagaimana mudahnya memelihara sapi limosin tetapi tetap memberikan untung yang besar. Kata kunci dari kesuksesan beternak sapi adalah pemilihan bibit, bibit sapi yang baik adalah berumur tidak lebih dari 18 bulan dengan berat 300 - 400 kg. Kemudian kandang yang digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut : aman, kokoh dan kuat, bersih dan sehat (memiliki ventilasi yang baik : sinar matahari dan udara bersih bisa masuk, serta kotoran mudah dibersihkan), memiliki tempat pakan dan memisah dari tempat tinggal. Pakan Utamakan memanfaatkan pakan hijauan, kemudian gunakan juga limbah pertanian, misalnya : daun padi, daun/batang dan kulit jagung yang masih muda, daun/bungkil kedelai dan kacang tanah, dll. Pakan diberikan 2x dalam sehari yaitu pagi dan sore. Komposisi pakan dalam satu kali pemberian yaitu pakan yang berasal dari limbah pertanian diberikan dahulu kemudian baru pakan hijauan segar, pemberian pakan dari limbah pertanian ditambahkan probiotik sebanyak 1 sendok. Pakaian hijauan segar diberikan pada ternak sampai ternak puas, betul-betul kenyang, dalam istilah orang Jawa, pakan hijauan diberikan sampai “sak warege”. Selain pakan hijauan dan dari limbah pertanian juga bisa dikasih pakan buatan, pakan buatan dengan komposisi : katul 6 kg, polar 2 kg, probiotik (s*****o) 1 sendok, mineral 2 sendok dan tetes 1 sendok. Pada dasarnya pakan buatan dibuat bila sewaktu-waktu pakan hijauan sulit didapat, ketika musim kemarau misalnya. Penambahan probiotik mempunyai kelebihan, yaitu: bisa menambah selera makan, kotoran menjadi kering dan tidak berbau. Minuman tetap harus disediakan agar ternak bisa minum sewaktu-waktu, dalam istilah peternakan disebut adlibitum. Probiotik pilih yang berbentuk bubuk karena akan mudah bila dicampur dengan pakan. Apabila ternak sudah terbiasa dengan formulasi pakan yang diberikan tiap harinya maka jangan diubah-ubah, pakan yang berubah tiap hari akan menyebabkan ternak stres sehingga tidak mau makan. Pengobatan rutin yang wajib diberikan adalah obat cacing, dimulai saat ternak baru dapat atau masuk, diulang tiap 3 bulan sekali. Ternak setelah dipelihara selama 4 - 6 bulan, maka sapi limosin siap untuk dijual. Demikian materi ini disusun berdasarkan penjelasan dari Bapak Sidi Asmadi, S.Pt, seorang Mantri Ternak di Wilayah Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Materi disampaikan oleh Admin Widodo RA, SP