Loading...

SI LILIPUT SAHABAT PETANI YANG RAMAH LINGKUNGAN

SI LILIPUT SAHABAT PETANI YANG RAMAH LINGKUNGAN
Trichoderma merupakan jenis jamur yang dikenal petani sebagai biofungisida atau pengendali jamur patogen secara alami. Secara klasifikasi ilmiah trichoderma termasuk dalam famili Moniliaceae. Nama Trichoderma diambil dari genusnya. Sedangkan untuk spesies, terdapat 9 jenis, 4 diantaranya banyak diteliti karena peranannya sebagai Mikroparasit, yaitu T. Hamatum, T. Viride, T. Kiningii dan T. Harsianum. Di alam, trichoderma umumnya hidup sebagai saprofit di tanah atau sisa-sisa kayu lapuk, mudah dikenali karena pertumbuhannya yang cepat dan warnanya agak mencolok. Warna kehijauan menjadi ciri khas dari jamur yang memiliki banyak manfaat ini. Jamur trichoderma sebagai agen hayati yang termasuk dalam mikroorganisme saprofit tanah untuk mengendalikan patogen penyebab penyakit. Penyakit yang dapat dikendaliannya adalah penyakit-penyakit tular tanah yang dapat juga disebabkan oleh proses pembuatan pupuk kandang yang kurang matang, sehingga masih terdapat jamur dan bakteri yang merugikan bagi tanaman. Berikut ini beberapa penyakit yang dapat dicegah oleh trichoderma: 1) Penyakit rebah kecambah Rhizoctania solani; 2) Busuk batang Fusarium sp (Fusarium oxisporum); 3) Akar gada Plasmodiophora brassicae; 4) Patogen Pythium yang merupakan patogen tular tanah yang dapat menyebabkan penyakit rebah kecambah pada kacang-kacangan; 5) Fusariumoxysporum, jamur penyebab penyakit busuk batang pada tanaman Vanili; 6) Phytophtora capsici, jamur penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman Lada; 7) Rigidoporus lignosus, jamur penyebab penyakit Jamur akar putih pada tanaman Karet; 8) Phythoptora infestan, jamur penyebab busuk pangkal batang pada tanaman kentang. Jamur trichoderma memiliki kelebihan, sehingga dapat menjadi biopestisida/agen hayati yang dapat menjadi andalan petani. Kelebihannya antara lain: 1) Mudah diisolasi, dikembangkan, dan daya adaptasinya luas; 2) Mudah ditemukan di tanah areal pertanaman, shg pertumbuhan pd saat aplikasi lebih mudah; 3) Dapat tumbuh secara cepat pada berbagai substrat; 4) Memiliki kisaran mikroparasitisme yang luas; 5) Pada umumnya tidak menjadi patogen pada tanaman (tidak berdampak negatif pada tanaman inangnya). Mekanisme kerja jamur Trichoderma dalam mengendalikan mikroba patogen pada tanah adalah : Antagonis/kompetisi Cara kerjanya dengan cendawan trichoderma mampu berkembang lebih cepat sehingga mampu menguasai tempat tumbuh, akibatnya cendawan patogen tidak mampu tumbuh dan berkembang dengan baik karena kalah bersaing makanan dan tempat tumbuh. Mikroparasitisme Jamur Trichoderma merupakan jamur yang bersifat mikroparasit, artinya jamur ini dapat menghambat pertumbuhan patogen dengan parasitisme. Antibiosis Trichoderma juga menghasilkan antibiotik yang termasuk kelompok furanon yang dapat menghambat pertumbuhan spora dan hifa mikroba patogen. Akibatnya, merusak dinding cel cendawan patogen yang mengakibatkan kematian pada cendawan patogen. Dalam usaha mendapatkan starter Trichoderma, sp, dapat digunakan ruas bambu yang diisi nasi kemudian ditanam ke dalam tanah di sekitar akar bambu. Permukaan akar bambu merupakan area yang banyak terdapat Trichoderma, sp sehingga lebih mudah dan cepat diperoleh starter untuk diperbanyak. Cara mengumpulkan biakan starter pun cukup mudah. Berikut dijelaskan tahapan memperolehnya. Siapkan bahan-bahan berupa nasi secukupnya, ruas bambu yang dibelah dua, tali plastik atau karet. Belah bambu menjadi dua bagian, kemudian bersihkan bagian dalamnya dari serta dan serbuk-serbuk. Isi belahan bambu tersebut dengan nasi secukupnya. Satukan kembali belahan bambu yang diikat tersebut dengan tali plastik atau karet sampai rapat kembali. Kubur ruas bambu berisi nasi tersebut di dalam tanah subur/humus di sekitar akar bambu sedalam 5-10 cm. Beri tanda di permukaan tanahnya sebagai pengingat. Biarkan selama kurang lebih 7 hari, kemudian angkat dan coba dibuka. Apabila sudah terdapat jaringan hifa jamur berwarna hijau dan lembut seperti kapas, maka itulah biakan Trichoderma, sp yang diperoleh. Starter tersebut sudah siap untuk diperbanyak lagi. Setelah diperoleh starter trichoderma, maka jumlahnya dapat diperbanyak sesuai kebutuhan menjadi F1. Ada beberapa cara untuk memperbanyak trichoderma yang siap diturunkan menjadi F2 dan F3, seperti berikut ini. Bahan : Jamur induk trichoderma (F0) Beras Air murni Alkohol Peralatan : Plastik bening ukuran 1 kg Kompor Panci Sendok teh Wadah/nampan Lilin Cara Membuat : Kukus beras 1/3 masak (selama 10 menit). Setelah beras menjadi 1/3 masak, dinginkan pada wadah nampan yang telah disediakan. Masukan beras yang telah didinginkan tersebut kedalam plastik bening. Setiap plastik diisi dengan beras 200 gram (10 sendok makan). Kukus kembali beras yang sudah dimasukkan ke plastik selama 10 menit. Dinginkan terlebih dahulu di nampan. Pada proses memasukkan starter Trichoderma ke beras, tangan kita dan sendok yang digunakan harus dalam keadaan steril. Oleh karena itu, semprot tangan dengan alkohol, demikian juga dengan sendok teh. Setelah itu, dekatkan sendok teh ke api lilin sekilas saja untuk memastikan sendok steril dari bakteri-bakteri di udara. Gunakan sendok yang telah disterilkan tersebut untuk mengambil bahan induk jamur trichoderma yang telah disediakan.- Setiap 1 kantong plastik yang berisi beras yang telah dikukuskan tadi akan kita isi dengan bahan induk jamur trichoderma sebanyak 1/3 sendok. Kocokkan agar jamur trichoderma merata tercampur dengan media beras yang telah kita kukuskan tadi. Kemudian setelah itu streples ujung plastic yang terbuka agar tidak ada celah binatang kecil seperti semut dsb masuk ke dalam plastic tersebut. setelah semua proses diatas selesai, diamkan pada wadah nampan secara teratur selama 14 hari. Jika proses yang kita lakukan baik dan benar maka setelah 14 hari media beras diatas akan berubah warna menjadi warna hijau yang merata. Trichoderma (F1) ini sudah siap untuk digunakan. Dan masih bisa diturunkan menjadi F2 dan berakhir pada F3. Setelah perbanyakan F1 selesai, trichoderma tersebut dapat langsung diaplikasikan pada tanaman, misalnya pada cabe, tomat, karet, vanili, ataupun pisang. Adapun langkahnya adalah pertama menyiapkan cangkul atau alat lain untuk menggali lubang sekeliling perakaran tanaman dengan jarak 10-30 cm dari perakaran dengan kedalaman 5-10 cm. Kemudian taburkan biakan Trichoderma F1 sebanyak 3 sendok makan/secukupnya per lubang, tutup lubang dengan tanah kembali. Cara pengaplikasian trichoderma lainnya adalah dengan mencampurnya terlebih dahulu dengan media tanam, seperti pupuk kandang atau campuran tanah + pasir + pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Berikut tahapan cara aplikasi trichoderma tersebut.Media Tanam Tanah, Pasir, Pupuk Kandang Jika dipilih campuran tanah + pasir + pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1, maka dosis yang digunakan adalah 250 gram biang trichoderma untuk 5 kg tanah + 5 kg pasir + 5 kg pupuk kandang. Basahi ketiga campuran dengan air sampai kadarnya 40%. Campur dengan biang trichoderma, kemudian masukkan ke dalam plastik ukuran 5 kg, tutup rapat, sisakan ruang 20%. Letakkan dalam ruangan sejuk dan kering, pastikan kemasan tidak menyentuh lantai secara langsung. Diamkan selama 10-18 hari. Proses pembiakan agak lebih lama jika dibandingkan dengan pupuk kandang saja, bahkan dapat mencapai 21 hari. Yang menjadi patokan adalah warna kehijauan yang sudah merata, berarti media tanam sudah siap diaplikasikan di lapangan. Untuk media campuran ini lebih cocok diaplikasikan untuk tanaman dalam pot, bukan yang ditanam di lahan. Media campuran dapat langsung digunakan untuk menanam cabe, tomat atau terung, dan jenis-jenis tanaman lainnya yang rentan dengan penyakit layu fusarium. Ditulis oleh : Marcella Wayan K.R.,SP (PP Muda) Pustaka : http://evagrow.weebly.com/jamur-trichoderma-sebagai-agen-pengendali-hama.htmlhttp://www.gerbangpertanian.com/2013/01/peran-jamur-trichoderma-dalam-pertanian.htmlhttps://kelompoktanisukamakmur.wordpress.com/2012/08/27/trichodermahttps://yusrizalfauzi.wordpress.com/perbanyakan-jamur-trichoderma-dengan-media-beras/http://bptbunsalatiga.com/downloads/Trichoderma-1.pdf