Kangkung adalah tumbuhan yang termasuk jenis sayur-sayuran dan ditanam sebagai bahan makanan. Awalnya, kangkung berasal dari India, kemudian menyebar ke Malaysia, Birma, Indonesia, China Selatan, Australia, dan Afrika. Di China, Kangkung dikenal dengan nama Weng Cai. Di Eropa, Kangkung disebut Swamp Cabbage, Water Convovulus, atau Water Spinach. Tanaman Kangkung masuk ke dalam suku Convolvulaceae atau keluarga kangkung-kangkungan. Terdapat 2 (dua) jenis kangkung yang enak dimakan dan terkenal antara lain kangkung darat (Ipomoea reptans L. Poir) dan kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk). Kangkung darat berdaun panjang, berujung runcing, dan berwarna hijau keputih-putihan. Bunganya berwarna putih. Sementara itu, jenis kangkung air berdaun panjang, tetapi ujungnya agak tumpul dan berwarna hijau kelam. Bunganya berwarna kekuning-kuningan atau ungu. Varietas kangkung darat di antaranya sutera dan bangkok. Adapun varietas kangkung air di antaranya sukabumi dan biru. Kangkung banyak digemari masyarakat selain karena rasanya yang enak, mudah dalam pengolahan, juga karena kandungan gizinya yang cukup tinggi, terutama kandungan zat besinya (Fe) yang dapat mengatasi penyakit anemia (kurang darah). Berikut gizi kangkung per 100 gram : Energi : 29 kkal Protein : 3 gr Lemak : 0,3 gr Karbohidrat : 5,4 gr Kalsium : 73 mg Fosfor : 50 mg Zat besi : 3 mg Vitamin A : 6300 IU Vitamin B1 : 0,07 mg Vitamin C : 32 mg Dalam proses pemeliharaan kangkung, ditemui beberapa kendala, salah satunya serangan hama. Jika dilihat dari jumlah hama yang biasanya menyerang memang relatif sedikit, yaitu bekicot, ulat grayak, kutu daun, dan ulat keket, namun dapat menyebabkan kerugian bagi petani apabila kerusakan cukup parah pada bagian daun yang membuat kangkung tidak dapat dijual. Berikut keempat hama yang dimaksud : 1. Bekicot Bekicot adalah hama yang menyerang daun dan batang kangkung lunak. Serangan bekicot ditandai dengan rusaknya daun dan batang tanaman kangkung, menyebabkan daun menjadi busuk dan menguning, lama kelamaan akan menyebabkan tanaman mati. Penyebab meningkatnya populasi bekicot adalah lembabnya lahan atau kebun sekitar tanaman kangkung. Cara mengendalikan hama ini dengan : (1) Melakukan sanitasi kebun dengan teratur; (2) Membasminya dengan menyingkirnya dari tanaman dan membuangnya hidup- hidup. 2. Ulat Grayak Ulat grayak adalah hewan nokturnal yang menyerang di malam hari. Gejala yang tampak dari serangan hama ini adalah daun kankung akan terdapat lubang besar dan kecil, dan juga bagian ujung daun tidak rata atau bergerigi. Serangan ulat grayak disebabkan oleh kebersihan lahan yang tidak terjaga dan juga pemeliharaan kurang baik. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara : (1) Sanitasi kebun dengan maksimal; (2) Mengambilan ulat grayak secara manual; (3) Melakukan penyemprotan dengan insektisida sesuai petunjuk. 3. Kutu Daun (Aphid) Kutu daun menyerang kangkung dengan cara menghisap cairan tanaman di area daun. Gejala yang tampak adalah tanaman akan tampak kerdil, dan daun akan melengkung ke bawah. Penyebab hama ini dapat menyerang adalah penyiraman yang kurang, pemupukan terbatas dan penyiangan kurang baik. Untuk mengatasinya dapat dilakukan : (1) Sanitasi dengan maksimal; (2) Melakukan aplikasi insektisida jika intensitas serangan cukup tinggi. 4. Ulat Keket Ulat keket memakan daun kangkung sehingga daun tampak lubang kecil atau berlubang-lubang dan juga daun kangkung akan rusak serta tumbuh abnormal. Penyebabnya kebun terlalu rimbun serta tidak terjaga kebersihannya. Pengendalian ulat keket dapat dilakukan dengan cara : (1) Melakukan pembersihan lahan dengan baik; (2) Menjaga jarak tanam, dan pergiliran tanaman; (3) Lakukan pengendalian dengan pestisida nabati berupa daun sirih, daun nimba dan gadung. Selain hama yang mengganggu pertumbuhan kangkung, terdapat dua penyakit yang sering menyerang, yaitu karat putih dan bercak daun. Berikut penyakit yang dimaksud : 1. Karat putih Penyebab penyakit karat putih adalah jamur Albugo Ipomoe panduratae. Gejala kerusakan yang terjadi berupa muncul karat putih di permukaan daun, kemudian daun akan rusak. Cara mengendalikannya sederhana yaitu dengan : (1) Melakukan penyemprotan Dithane M-45 atau Benlate sesuai dengan petunjuk; (2) Melakukan sanitasi kebun, penyiraman teratur dan perawatan baik. 2. Bercak daun Penyakit bercak daun disebabkan oleh jamur Cercospora bataticola dan jamur Fusarium sp. Gejala yang ditimbulkannya adalah permukaan daun akan terdapat bercak berwarna kecoklatan hingga kehitaman, daun menjadi tidak normal dan juga rusak. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah : (1) Melakukan pencabutan tanaman terserang dan memindahkan jauh dari tanaman lainnya; (2) Melakukan penyemprotan tanaman terserang dengan Dithane M-45 sesuai dengan petunjuk; (3) Aplikasi menggunakan larutan bakterisida dan/atau fungisida sesuai dosis yang di tentukan. Secara umum tanaman kangkung sebenarnya tahan terhadap serangan penyakit. Penyakit akan mudah menyerang apabila sanitasi lingkungan kurang, terlalu banyak rumput dan alang-alang di sekitar pematang, serta lahan terlalu lembab karena drainse kurang bagus. Serangan hama pun demikian. Populasi hama akan meningkat sehingga menyebabkan kerusakan apabila banyak tanaman inang seperti rumput atau alang-alang sebagai tempat hidup hama sejenis kutu. Tanaman inang ini pun dapat menjadi tempat bertelur bekicot ataupun kupu-kupu ulat grayak dan ulat keket. Sumber : 1. http://www.ruangtani.com/pengendalian-hama-dan-penyakit-tanaman-kangkung/2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kangkung3. http://www.nangimam.com/2014/01/kandungan-gizi-dan-manfaat-sayur.html4. http://fredikurniawan.com/hama-dan-penyakit-tanaman-kangkung/ Dirangkum oleh : Marcella Wayan K.R., SP (PP Muda)